bitcoin casino crypto casino crypto gambling crash betting game crash gambling game bitcoin gambling

Simple Responsive Menu

1 | 2 | 3 | 4 | 5 | 6 | 7 | 8 | 9 | 10 | 11

Waspada Pupuk Tiruan, Kenali Ciri-Cirinya

Maraknya pupuk yang beredar di kalangan masyarakat, didukung dengan iklan dalam kemasannya yang menarik, ikut menarik perhatian masyarakat awam untuk tergiur menggunakan pupuk-pupuk tersebut. Bisnis pupuk juga termasuk bisnis yang menggiurkan karena komoditas ini merupakan bahan penunjang yang sangat diperlukan dalam sektor pertanian. Sementara itu, pertanian merupakan sektor yang masih dapat bertahan, bahkan disaat pandemi seperti saat ini.  

Pupuk yang beredar di pasaran ternyata tidak semuanya asli. Dari sekian banyak jenis pupuk, di pasaran masih banyak dijumpai pupuk tiruan baik pupuk organik mapupun anorganik. Hal ini tentu saja sangat merugikan petani dan masyarakat pada umumnya. Oleh karena itu, penting untuk memberikan edukasi kepada masyarakat mengenai cara membedakan pupuk asli dan tiruan.

Salah satu bentuk edukasi yang dilakukan oleh Balai Penelitian Tanah (Balittanah), BBSDLP-Balitbangtan, Kementan adalah dengan melakukan Bimbingan Teknis (Bimtek). Bimtek seri-6 Balittanah yang diadakan pada hari Kamis, 25 Juni 2021 mengangkat permasalahan tersebut. Didukung dengan narasumber yang sudah malang melintang di bidang pupuk dan terlibat aktif dalam penyusunan rekomendasi pupuk nasional, yaitu Dr. Diah Setyorini, Balittanah melaksanakan bimtek online dan diikuti oleh berbagai peserta mulai dari penyuluh, dosen, mahasiswa dan masyarakat umum. Bimtek dibuka secara resmi oleh Kepala Balittanah Dr. Ladiyani Retno Widowati. Dalam sambutannya, Ladiyani menyampaikan bahwa materi ini sangat penting karena dapat membekali petani dan masyarakat akan kualitas pupuk yang akan digunakan.

Dalam pemaparannya, Dr. Diah Setyorini menyampaikan bahwa pupuk yang diedarkan secara komersil wajib diberi label sesuai perundangan dimana pupuk tersebut harus memenuhi: (1) Standar Nasional Indonesia (SNI); (2) Persyaratan Teknis Minimal (PTM); dan (3) Rekomendasi Kementan (bila belum tercantum dalam SNI dan PTM).

“Pupuk yang diedarkan juga wajib terdaftar, kecuali pupuk yang diproduksi lokal atau petani kecil yang diedarkan secara terbatas dalam satu kabupaten/kota” terang Diah. Selain itu, dalam bimtek online tersebut dipaparkan mengenai syarat pendaftaran pupuk, yaitu: sesuai standar mutu, terjamin efektivitasnya (setelah melalui uji efektivitas di lembaga uji yang telah ditunjuk oleh Kementan), dan diberi label.

Berkaitan dengan label ini, banyak pupuk tiruan yang memberi label hampir sama dengan pupuk asli, sehingga mengecoh petani/pembeli. Kasus seperti ini banyak ditemukan pada pupuk anorganik. Oleh karena itu pada kesempatan bimtek tersebut, peserta diajarkan mengenai cara membedakan pupuk yang asli dengan tiruan, di antaranya dapat dilihat secara visual baik dari kemasan mapun bentuk fisik. Bentuk dan warna pupuk asli biasanya lebih seragam dibandingkan pupuk tiruan. Dari segi kelarutannya dalam air, pupuk asli cenderung mudah larut dalam air dibandingkan dengan pupuk tiruan.

Bimtek yang dipandu oleh Kiki Zakiah, SP., MP. ini berlangsung selama sekitar 2 jam. Antusiasme para peserta terlihat dari banyaknya pertanyaan yang diajukan, baik secara langsung maupun via chat room. Kedepannya diharapkan dengan semakin bertambahnya pengetahuan masyarakat terkait kualitas pupuk sehingga dapat membedakan pupuk asli dan tiruan yang beredar di masyarakat.  (KZ, AFS, M.Is).

Hubungi Kami

Slogan Agro Inovasi

 
 
 

 

SCIENCE . INNOVATION . NETWORKS

Balai Penelitian Tanah
Jln. Tentara Pelajar No. 12 Kampus Penelitian Pertanian Cimanggu, Bogor 16114
Telp: 0251 - 8336757, Fax: 0251 - 8321608, 8322933
Website: balittanah.litbang.pertanian.go.id
Email: balittanah@litbang.pertanian.go.idbalittanah.isri@gmail.com