Simple Responsive Menu

1 | 2 | 3 | 4 | 5 | 6 | 7 | 8 | 9 | 10 | 11

"Demfarm Optimalisasi Lahan Sawah Melalui Inovasi Hayati dan Pemupukan Berimbang di Desa Wargajaya, Kec. Sukamakmur, Kab. Bogor"

Penggunaan pupuk kimia di kalangan petani saat ini terlihat sudah sangat berlebihan sehingga mengakibatkan pemborosan biaya, pencemaran lingkungan, tanaman tidak tumbuh baik, produksi tidak optimal dan penurunan kualitas produk. Penerapan sistem pemupukan berimbang merupakan sebagai salah satu strategi untuk meningkatkan efisiensi penggunaan pupuk anorganik, dan bisa menjadi solusi dari penggunaan pupuk kimia yang overdosis ini.

Pemupukan berimbang merupakan penyediaan semua kebutuhan unsur hara yang cukup sehingga tanaman dapat berproduksi secara optimal dengan kualitas yang baik sehingga berdampak pada peningkatkan pendapatan petani. Oleh karena itu jenis dan dosis pupuk yang diberikan harus sesuai dengan tingkat kesuburan tanah dan kebutuhan tanaman.

Balai Penelitian Tanah, Balai Besar Sumberdaya Lahan Pertanian, Balitbangtan-Kementan berinisiatif melakukan Demfarm Optimalisasi Lahan Sawah Melalui Inovasi Hayati dan Pemupukan Berimbang sebagai bagian dari kegiatan Diseminasi Koordinasi, Bimbingan Teknis dan Dukungan Teknologi UPSUS, Komoditas Strategis, TSP, TTP dan Bio-Industri. Kegiatan tersebut akan dilakukan di Desa Wargajaya, Kecamatan Sukamakmur, Kab. Bogor yang termasuk ke dalam wilayah BPP Jonggol. Dengan luasan baku sawah yang cukup luas, dimana wilayah Kecamatan Jonggol mencapai 3.849 ha dan Kecamatan Sukamakmur seluas 3.211 ha, maka BPP Jonggol cukup representatif sebagai lokasi demfarm.

Pada demfarm ini rencananya akan dibandingkan dua perlakuan pemupukan, yakni: (1) menggunakan cara kebiasaan petani setempat, dan (2) menggunakan pemupukan berimbang dan inovasi hayati (pupuk hayati dan dekomposer) dari Badan Litbang Pertanian, Kementerian Pertanian.

Dari hasil uji status hara menggunakan PUTS, diketahui bahwa tanah di lokasi demfarm memiliki status hara N rendah, P rendah, dan K tinggi dengan pH agak masam (5-6). Pupuk yang direkomendasikan adalah urea 170 kg/ha dan NPK (15-15-15) sebanyak 250 kg/ha, atau urea 250 kg/ha, SP-36 100 kg/ha, dan KCl 50 kg/ha. Sementara dosis pupuk yang digunakan menurut kebiasaan petani setempat adalah urea 200kg/ha dan NPK (15-15-15) 300 kg/ha.

Sebagai tindak lanjut dari rencana demfarm tersebut, maka pada tanggal 20 Mei 2021 saprodi berupa benih padi Inpari 32 sebanyak 25 kg, pupuk hayati Agrimeth dan dekomposer Agrodeko telah diserahkan oleh Kasubbag Tata Usaha Balittanah, Elsanti, SP kepada penyuluh BPP Jonggol Ulmi Atus Solikah, S.Si sebagai penanggungjawab kegiatan di lokasi demfarm. Kelompok tani dan petani yang lahannya digunakan untuk demfarm juga turut hadir saat penyerahan saprodi tersebut. Pada saat yang bersamaan juga dilakukan bimbingan teknis singkat terkait aplikasi pupuk hayati dan dekomposer oleh Dr. Etty Pratiwi, peneliti Balai Penelitian Tanah. Diharapkan dengan demfarm ini, petani dapat secara langsung merasakan manfaat diterapkannya pemupukan berimbang dan inovasi hayati. (EP, AFS, M.Is).

Hubungi Kami

Slogan Agro Inovasi

 
 
 

 

SCIENCE . INNOVATION . NETWORKS

Balai Penelitian Tanah
Jl. Tentara Pelajar No.12 Bogor Jawa Barat 16114 Indonesia
balittanah@litbang.pertanian.go.id, balittanah.isri@gmail.com
Telp :+622518336757 Fax :+622518321608; +622518322933