Simple Responsive Menu

1 | 2 | 3 | 4 | 5 | 6 | 7 | 8 | 9 | 10 | 11

Biochar Untuk Lahan Pertanian

Biochar, si hitam yang sering disamakan dengan arang, serupa tapi tak sama karena berbeda dalam proses pembuatannya. Biochar merupakan bahan padat kaya karbon hasil konversi dari limbah organik (biomas pertanian) melalui pembakaran tidak sempurna atau suplai oksigen terbatas (pyrolysis). Pembakaran tidak sempurna dapat dilakukan dengan alat pembakaran atau pirolisator dengan suhu 250-3500C dengan kiln sederhana dari drum sampai yang lebih modern, Adam retort Kiln, dan juga dengan metode Kon Tiki yang lebih sederhana.

Guna lebih mengenalkan si hitam dengan berbagai manfaatnya bagi lahan pertanian, maka Balai Penelitian Tanah, BBSDLP, Balitbangtan mengangkat tema “Biochar (Arang) untuk Lahan Pertanian” pada Bimtek Balittanah Seri #4 yang diselenggarakan pada 30 April 2021 secara daring. Acara yang dibuka resmi oleh Kepala Balittanah Dr. Ladiyani Retno Widowati ini diikuti 1021 peserta yang berasal dari berbagai kalangan, mulai dari penyuluh pertanian, dosen, mahasiswa, peneliti, guru, widyaiswara dan lainnya.

Dalam sambutan pembukaannya, Ladiyani menyampaikan dengan tingginya animo peserta menunjukkan bahwa informasi akan manfaat biochar sangat dibutuhkan khususnya manfaat bagi lahan pertanian dan diharapkan melalui bimtek ini, para peserta akan semakin jelas manfaat biochar dan mulai mengaplikasikannya di lahan pertanian. Acara bimtek ini diisi oleh narasumber Dr. Neneng Laela Nurida dan dipandu oleh Dr. Ai Dariah, dimana keduanya adalah peneliti senior dari kelompok peneliti Fisika dan Konservasi Tanah, Balai Penelitian Tanah.

Pada paparannya, Neneng menyampaikan bahwa sumber bahan baku biochar adalah limbah organik (limbah pertanian) yang sulit terdekomposisi atau dengan rasio C/N tinggi.  Di Indonesia, potensi penggunaan biochar sangat besar mengingat bahan bakunya seperti tempurung kelapa, sekam padi, kulit buah kakao, tempurung kelapa sawit, tongkol jagung, tandos sawit, batang ubikayu dan ranting legume dan lainnya. Terkait akan fungsinya, karakteristik biochar berperan dalam fungsi biochar khususnya di bidang pertanian. Karakteristik teknis biochar tersebut meliputi 1) pH; 2) kemampuan meretensi air; 3) kandungan C-total; 4) Kapasitas tukar kation; dan 5) kandungan unsur hara.  Perbedaan bahan baku dan proses produksi biochar (tipe alat pembakaran, suhu pembakaran dan lama pembakaran) akan menghasilkan sifat fisik-kimia biochar yang berbeda.  Namun, di lapangan dapat dilihat dengan lebih sederhana, misalnya melalui jumlah arang dan abu yang dihasilkan, homogenitas, dan proses penjemuran.

Pengaplikasian biochar dapat diberikan dalam bentuk tunggal (hanya biochar), maupun dalam bentuk co-compost biochar (dicampur saat proses pengomposan) atau enriched pupuk. Aplikasi biochar ke lahan dapat dilakukan dengan 3 cara, yaitu 1) disebar secara merata dipermukaan tanah, lalu diaduk sampai kedalaman 5 cm; 2) di  larikan atau jalur tanaman lalu ditutup dengan tanah; dan 3) dibenamkan di lubang tanam. Biochar dapat diaplikasikan untuk tanaman pangan (padi, jagung, kedelai dan kacang tanah), tanaman sayuran dan tanaman tahunan. Pemilihan cara aplikasi disesuaikan dengan kondisi lahan, ketersediaan tenaga kerja, jenis tanaman, dan jarak tanam.

Balittanah sebagai lembaga penelitian telah melakukan berbagai riset terkait biochar. Dimana berbagai hasil penelitian telah membuktikan bahwa biochar sangat bermanfaat bagi pertanian terutama untuk perbaikan kualitas lahan (meningkatkan ketersediaan hara, meretensi hara, meretensi air, meningkatkan pH dan KTK,) menciptakan habitat yang baik bagi perkembangan mikroorganisme simbiotik, meningkatkan produksi tanaman pangan, dan mengurangi laju emisi CO2 dan mengakumulasi (sekuestrasi) karbon dalam jumlah yang cukup besar.

Potensi biochar dari limbah pertanian secara nasional sekitar 3,1 juta ton/tahun atau potensi sekuestrasi karbon sekitar 672,1 ribu ton/tahun, merupakan solusi pengelolaan limbah pertanian yang menguntungkan. Dalam penanggulangan kemasaman tanah, aplikasi biochar kulit buah kakao 15 t/ha mampu meningkatkan pH 3,5 menjadi 4,2-4,7 secara konsisten selama 5 musim tanam dan menghasilkan pipilan jagung kering mencapai 3,5-4,2 t/ha sementara tanpa biochar tidak menghasilkan sama sekali. Aplikasi biochar ranting legume sebesar 10 t/ha di lahan kering iklim kering mampu memperpanjang musim tanam menjadi 2 MT. Hasil penelitian terakhir mendapatkan bahwa pemberian co-compost biochar sangat menguntungkan bagi lahan pertanian dibanding bila hanya diberikan secara tunggal (4,55-5,53 t/ha vs 3,69-4,02 t/ha pipilan kering jagung) 

Acara bimtek ini diisi juga dengan sesi tanya jawab dan peserta mengikuti dengan penuh antusias. Diharapkan dengan dilaksanakan bimtek ini akan menambah pengetahuan kita akan biochar dan manfaatnya. Dengan teknik pembuatan yang sederhana dan pemanfaatan limbah pertanian yang ada, si hitam dengan berbagai manfaat ini dapat dibuat mandiri khususnya oleh praktisi lapang pertanian, sehingga dapat meningkatkan produktivitas tanaman. (NLN, AFS, M.Is).

 

Hubungi Kami

Slogan Agro Inovasi

 
 
 

 

SCIENCE . INNOVATION . NETWORKS

Balai Penelitian Tanah
Jl. Tentara Pelajar No.12 Bogor Jawa Barat 16114 Indonesia
balittanah@litbang.pertanian.go.id, balittanah.isri@gmail.com
Telp :+622518336757 Fax :+622518321608; +622518322933