bitcoin casino crypto casino crypto gambling crash betting game crash gambling game bitcoin gambling

Simple Responsive Menu

1 | 2 | 3 | 4 | 5 | 6 | 7 | 8 | 9 | 10 | 11

Pertanian Organik Produsen Pangan Sehat

Masyarakat semakin menyadari akan kesehatan pangan, membuat sistem pertanian organik dapat diterima di Indonesia. Sistem pertanian organik bukanlah sistem budidaya yang baru. Nenek moyang kita telah mempraktekan sistem pertanian alami/natural yang memanfaatkan bahan-bahan alami atau bahan organik. Mereka melakukan semua berdasarkan pengalaman dan informasi dari sesama petani.

Pertanian organik didefinisikan sebagai sistem manajemen produksi yang holistik untuk meningkatkan dan mengembangkan kesehatan agrosistem, termasuk keragaman hayati, siklus biologi dan aktivitas biologi tanah yang tertuang dalam SNI 6729:2013 (BSN, 2013). Selain SNI, acuan pengelolaan sistem pertanian organik di Indonesia adalah International Federation Organic Agriculture Movements (IFOAM) yang berpusat di Bonn, Jerman. Pertanian organik dijabarkan sebagai sistem produksi dengan menjaga kesehatan tanah, ekosistem dan manusia. Sistem yang berbasis ekologi, biodiversitas, dan siklus dengan kondisi yang mampu beradaptasi dengan kondisi lokal, ketimbang menggunakan input yang menggunakan efek negatif terhadap lingkungan (IFOAM, 2008).

Pada kesempatan lain, Kepala Balittanah, Dr. Ladiyani Retno Widowati menjelaskan mengenai prinsip pertanian organik adalah: (1) Lahan yang digunakan bebas dari cemaran bahan agrokimia yang berasal pupuk dan pestisida; (2) Menghindari penggunaan benih/bibit hasil rekayasa genetika. Sebaiknya gunakan benih yang berasal dari kebun pertanian organik; (3) Menghindari penggunaan pupuk kimia sintetis dan zat pengatur tumbuh. Peningkatan kesuburan tanah dilakukan melalui penambahan pupuk organik, sistem tanaman, pupuk alam, rotasi tanaman dengan tanaman legume; (4) Menghindari penggunaan pestisida kimia sintetis. Pengendalian hama, penyakit, dan gulma dilakukan dengan cara manual, biopestisida, agen hayati dan rotasi tanaman. (5) Menghindari penggunaan hormon tumbuh dan bahan aditif sintetik pada pakan ternak dan secara tidak langsung pada pupuk kandang; (6) Penanganan pasca panen dan pengawetan bahan pangan menggunakan cara-cara yang alami.

Selanjutnya teknik pengelolaan lahan pertanian organik antara lain: (1) Rotasi tanaman, untuk menekan serangan hama penyakit, serta memberikan kesempatan kepada tanah untuk menyediakan unsur hara dominan bagi pertumbuhan yang baik dan perkembangbiakan; (2) Pemanfaatan residu tanaman. Residu tanaman mempunyai manfaat yang baik bila ditangani  dengan baik sesuai karakteristiknya; (3) Penggunaan pupuk kandang, tanaman legume, pupuk hijau, limbah organik dari luar kebun/lahan pertanian organik; (4) Pengolahan mekanis dan penamfaatan batuan mineral; (5) Perlindungan tanaman secara biologis.

Sistem Pertanian mempunyai produksi awal yang rendah saat baru konversi dari pertanian konvensional ke sistem ini, kemudian meningkat sampai produksi tertentu.

Konsep yang dibangun dari pertanian organik dan sistem pertanian konvensional adalah berbeda. Pada sistem pertanian organik, produktivitas lahan tidak dapat maksimum karena sumber input terbatas, target produksi tidak dapat ditetapkan, tetapi keberlangsungan dan kelestarian lahan terjaga. Sedangkan pada sistem pertanian konvensional, input tidak terbatas baik dari anorganik maupun organik, target hasil dapat ditentukan dengan produktivitas yang tinggi.

Sejak beberapa tahun belakangan ini, permintaan terhadap produk bahan makanan organik di Indonesia cenderung meningkat setiap tahunnya. Rupanya promosi yang lumayan gencar dari para produsen produk organik dan banyaknya juga persepsi yang terbentuk dalam masyarakat bahwa bahan makanan organik lebih sehat dan lebih baik dari yang konvensional mendorong peningkatan permintaan.

Meskipun demikian antusias masyarakat untuk mengkonsumsi produk organik, seperti sayuran, beras, dan lain sebagainya, sedikit teredam ketika mereka melihat label harga yang tertera. Banyak dari calon pembeli yang kemudian mundur karena mereka menemukan bahwa harga bahan makanan organik, baik di pasar, supermarket, atau yang dijual eceran, jauh lebih tinggi dibandingkan barang sejenis tetapi yang non organik. Selisih antara yang organik dan yang non ternyata cukup mahal dan bisa mencapai 30-40%.

Menurut Dr. Diah Setyorini, Peneliti Balittanah, BBSDLP, Balitbangtan, animo masyarakat cukup baik untuk mengkonsumsi makanan organik terutama untuk konsumen yang peduli terhadap kesehatan,  lingkungan serta yang menganut gaya atau pola hidup tertentu.

Namun demikian akses konsumen untuk mendapatkan produk organik terkadang tidak mudah karena produk organik hanya dijual di tempat tertentu yang agak sulit diakses, lanjut Dr. Diah.

Menurut Ir. A. Kasno, MSi, Peneliti Balittanah, BBSDLP, Balitbangtan yang sekaligus sebagai konsumen menyatakan produk pertanian organik lebih berkualitas, lebih menyehatkan dan cocok bagi konsumen yang mempunyai penghasilan baik. Selanjutnya dari segi keberlanjutan daya dukung lahan itu sangat bagus karena tanah, tanaman dan orang menjadi sehat.

Sistem pertanian organik sangat tergantung kepada masukan alami, baik dari hara dan pestisidanya, Dengan kebutuhan masukan alami tersebut, sistem ini mempunyai potensi dikembangkan <5% dari total luas lahan pertanian di Indonesia. Produk sehat berasal dari tanah dan budidaya yang sehat. (M.Is, LRW, AFS).

 

 

Hubungi Kami

Slogan Agro Inovasi

 
 
 

 

SCIENCE . INNOVATION . NETWORKS

Balai Penelitian Tanah
Jln. Tentara Pelajar No. 12 Kampus Penelitian Pertanian Cimanggu, Bogor 16114
Telp: 0251 - 8336757, Fax: 0251 - 8321608, 8322933
Website: balittanah.litbang.pertanian.go.id
Email: balittanah@litbang.pertanian.go.idbalittanah.isri@gmail.com