bitcoin casino crypto casino crypto gambling crash betting game crash gambling game bitcoin gambling

Simple Responsive Menu

1 | 2 | 3 | 4 | 5 | 6 | 7 | 8 | 9 | 10 | 11

Ensipol (Environmental Sustainability Biopolybag): Inovasi Biopolybag dari Limbah Kulit Nanas Sebagai Bentuk Diversifikasi Komoditi Lokal dan Langkah Menjaga Kesehatan Tanah Guna Mewujudkan Conservation of Soil Biodiversity for Sustainable Agriculture

Dalam rangka memperingati hari tanah sedunia (World Soil Day) 2020, Balittanah menyelenggarakan kegiatan perlombaan yang melibatkan partisipasi aktif dari pelajar dan mahasiswa. Salah satu lomba yang diadakan yaitu lomba menulis essay. Pemenang lomba Essay juara pertama berhasil diraih oleh Muhammad Ferdi Alfadly dari Universitas Sriwijaya. Tema essay yang dilombakan adalah “Keep soil alive, protect soil biodiversity”.  Dalam perlombaan ini, Ferdy menulis essay berjudul Ensipol (Environmental Sustainability Biopolybag): Inovasi Biopolybag dari Limbah Kulit Nanas sebagai Bentuk Diversifikasi Komoditi Lokal dan Langkah Menjaga Kesehatan Tanah Guna Mewujudkan Conservation of Soil Biodiversity for Sustainable Agriculture. Mari kita simak tulisan yang sarat akan informasi berikut ini.

Saat ini, penggunaan polybag sangat populer di kalangan petani maupun masyarakat sebagai wadah pembibitan pada salah satu proses dalam aktivitas pertanian dan perkebunan. Polybag merupakan barang yang terbuat dari polyetilena berupa plastik hitam yang berfungsi untuk menjaga nutrisi kebutuhan tanaman pada tahap pembibitan untuk menghasilkan keseragaman pertumbuhan dan bibit yang berkualitas, fungsi tersebut menjadikan polybag banyak diproduksi di Indonesia. Pada tahun 2003 hingga 2008 terhitung sekitar 2.8 milyar bibit tanaman dari berbagai jenis telah ditanam di lapangan untuk keperluan rehabilitasi lahan dan tanaman industri. Diperlukan lebih dari 7,100 ton polybag untuk persemaian bibit sebanyak itu. Hal ini terus meningkat seiring dengan meningkatnya laju perkembangan luasan areal perkebunan dan kehutanan yang semakin pesat (Kementerian kehutanan, 2010; Darmawan, 2020).

Namun, penggunaan polybag ternyata dapat berbahaya bagi tanah. Menurut Huda dan Firdaus (2007), penggunaan polybag sebagai media tanam dapat menyebabkan pencemaran tanah karena bahan dasar polybag berasal dari polietilena yang sulit diuraikan oleh mikroba tanah. Polybag juga kurang efektif karena harus merobek polybag pada saat dilakukan proses transplanting (pemindahan bibit ke lahan) dan polybag yang telah dirobek tersebut tidak dapat digunakan lagi sehingga menyebabkan banyaknya limbah polybag yang menumpuk (Edi dan Bobihoe, 2010). Jadi, semakin banyak polybag yang digunakan maka pencemaran tanah akan terus meningkat. Berbagai upaya dilakukan masyarakat dan petani untuk meminimalisir limbahnya, seperti melakukan pembakaran ataupun pembuangan. Namun secara kimia, apabila plastik mengalami pembakaran maka akan menghasilkan gas-gas beracun seperti dioksin, hidrogen sianida (HCN) dan karbon monoksida (CO) yang berpotensi menyebabkan penyakit pernapasan serta meningkatkan pemanasan global pada atmosfer bumi (Purwaningrum, 2016). Disamping itu, pembuangan sampah polybag plastik dapat mengganggu estetika karena tidak dapat terdegradasi oleh mikroorganisme tanah sehingga membuat lingkungan menjadi kotor dan berdampak buruk bagi organisme yang hidup pada tanah akibat kotaminasi bahan toxic dari remah-remah plastik yang mengandung PCB (Polychlorinated biphenyl), hidrokarbon aromatik, pestisida organoklorin, ftalat, dan zat-zat lain yang bercampur dengan tanah. Polybag plastik juga dapat membatasi tempat berlindung dan mencari makanan bagi organisme tanah serta dapat mengurangi kadar O2 yang berakibat pada matinya organisme tanah yang pada akhirnya berdampak buruk pada tumbuhan yang hidup pada area tersebut (Thompson et al. 2009). Laju perkembangan luas areal perkebunan dan meningkatnya aktivitas pertanian seiring dengan meningkatnya pencemaran tanah dan lahan akibat limbah dari penggunaan plastik polybag yang tidak ramah lingkungan menjadi suatu persoalan yang harus segera dituntaskan dalam upaya menjaga kesehatan tanah guna mewujudkan conservation of soil biodiversity untuk pertanian berkelanjutan. Persoalan ini dapat diatasi dengan dua pendekatan, yaitu menghentikan penggunaan polybag plastik atau mensubstitusi penggunaan polybag plastik dengan bahan yang ramah lingkungan (biopolybag). Indonesia merupakan negara yang kaya akan Sumber Daya Alam (SDA) yang berpotensi untuk mengatasi dampak negatif penggunaan polybag melalui substitusi bahan plastik menjadi bahan-bahan alami yang secara ilmiah disebut dengan biopolybag. Salah satu SDA yang dapat dimanfaatkan adalah limbah dari tanaman Nanas (Ananas comosus L. Merr). Oleh karena itu, penulis memikirkan gagasan untuk mengoptimalkan dan mengelola potensi limbah tanaman nanas di Indonesia secara berkelanjutan sebagai substitusi polybag plastik yang tidak ramah lingkungan melalui inovasi Biopolybag dari limbah kulit nanas dengan tetap melihat kondisi kekinian masyarakat dimana permasalahan ekonomi dan pendidikan dari penduduk di daerah terpencil juga patut menjadi perhatian (Sitompul, 2012; Warsihna, 2013) dan keadaan nasional yang masih dalam tahap pemulihan ekonomi dan pangan akibat pandemi covid-19 (Samahundi, 2020). Sayang sekali ketika potensi kearifan lokal tanaman nanas yang begitu besar tapi tidak dimanfaatkan secara maksimum oleh masyarakat.

Buah nanas (Ananas comosus L. Merr.) merupakan salah satu tanaman buah yang banyak dibudidayakan di daerah tropis dan subtropis. Indonesia merupakan produsen nanas terbesar kesembilan terbesar di dunia dengan produksi mencapai 1,39 juta ton per tahun. Mengingat jumlah produksi nanas yang sangat melimpah di Indonesia maka limbah kulit nanas yang dihasilkan juga ikut melimpah. Contohnya saja di PT. Great Giant Pinapple (PT. GGP), salah satu sentra perkebunan nanas di Lampung seluas 32.000 hektar. Industri tersebut setiap harinya melakukan proses pengelolaan nanas hingga menjadi juice nanas yang menghasilkan limbah dari kulit, dongkol dan mahkota nanas sebesar 40 ton/hari (Sutarto, 2018). Salah satu cara untuk mensanitasi lingkungan akibat pencemaran dari limbah kulit nanas ini adalah melalui sistem diversifikasi pangan dengan memanfaatkan limbah tersebut menjadi biopolybag. Selain dapat memaksimalkan potensi komoditi lokal, hal ini juga merupakan langkah yang sangat bagus karena jika limbah kulit nanas yang dihasilkan tersebut tidak terpakai maka dapat menyebabkan pencemaran lingkungan, bau tidak sedap, dan memicu timbulnya penyakit.

Kulit nanas bersifat non toksik dan mengandung karbohidrat yang besar. Karbohidrat yang terdapat dalam kulit nanas berbentuk pati (Rahmawati, 2010). Kandungan pati yang ada dalam kulit nanas memungkinkan untuk dimanfaatkan sebagai bahan baku, salah satunya digunakan sebagai bahan pengikat pada sediaan granul di bidang farmasi (Sidhatra, 1989). Kulit nanas sangat berpotensi untuk menjadi bahan baku pembuatan biopolybag karena dilihat dari penelitian-penelitian yang telah ada bahwa adanya kandungan pati yang tinggi pada kulit singkong (44%-59%) menjadikan kulit singkong berpotensi menjadi bahan baku biopolybag yang ramah lingkungan (Myrna, 1994; Akbar et al., 2013). Hal tersebut dikarenakan pati merupakan salah satu bahan alam yang sifatnya dapat mengikat sediaan granul dan mudah terurai oleh mikroorganisme.

Selain kulit nanas sebagai bahan utama, pembuatan biopolybag juga harus menggunakan plasticizier glyserol. Ini berfungsi untuk menurunkan mobilitas dari fleksibilitas film sehingga membuat biopolybag menjadi elastis dan lentur (Garcia, 2001; Sanchez, 1998). Plasticizier bersifat hidrofilik yang berarti dapat meningkatkan kelarutan meski berada di dalam air sekalipun. Oleh sebab itu, semakin banyak plasticizier yang ditambahkan maka kelarutan adonan juga akan semakin cepat. Pada dasarnya, jenis dari konsentrasi plasticizier sangat berpengaruh terhadap kelarutan dari film berbasis pati (Bourtoom, 2007). Pembuatan biopolybag ini menggunakan metode pembuatan film plastic biodegradable yaitu melt intercalation atau teknik inversi fasa dengan penguapan pelarut setelah proses pencetakan. Metode pembuatan biopolybag ini didasarkan pada prinsip termodinamika larutan, dimana keadaan awal larutan stabil kemudian mengalami ketidakstabilan pada proses perubahan fase (demixing), dari air menjadi padat. Proses pemadatannya (solidifikasi) diawali transisi fase cair satu ke fase cair dua (liquid-liquid demixing) sehingga pada tahap tertentu, fase cair akan membentuk padatan (Aripin, et al., 2017).

Biopolybag yang dihasilkan dapat mempunyai warna kuning ataupun coklat kehitam-hitaman, hal ini ditentukan oleh keadaan limbah kulit nanas yang dipakai apakah masih segar atau sudah membusuk dan warnanya telah berubah menjadi coklat. ENSIPOL dapat dibuat dengan harga yang lebih murah karena hanya memanfaatkan bahan baku dari limbah kulit nanas yang tidak terpakai dan ditambah dengan sedikit cairan glycerol namun memiliki manfaat dan keunggulan yang banyak dibanding polybag plastik. Biaya yang dibutuhkan untuk membuat ensipol yaitu Rp 660,-.

Keunggulan ENSIPOL jika dibandingkan dengan polybag plastik yaitu meningkatkan kesuburan tanah karena ketika terdekomposisi ensipol dapat menjadi pupuk alami, mudah terurai, lebih murah karena memanfaatkan limbah. Dapat mengurangi biaya pemupukan karena fungsinya yang juga sebagai penyedia hara bagi tanah setelah terdekomposisi, praktis, karena dapat ditanam langsung bersama tanaman didalamnya saat proses transplanting, tidak berpotensi menimbulkan penyakit Menjaga dan meningkatkan kesehatan tanah, menjadi sumber energi dan makanan bagi organisme tanah sehingga meningkatkan populasi mikroorganisme tanah dan berkelanjutan (sustainable).

Hubungi Kami

Slogan Agro Inovasi

 
 
 

 

SCIENCE . INNOVATION . NETWORKS

Balai Penelitian Tanah
Jln. Tentara Pelajar No. 12 Kampus Penelitian Pertanian Cimanggu, Bogor 16114
Telp: 0251 - 8336757, Fax: 0251 - 8321608, 8322933
Website: balittanah.litbang.pertanian.go.id
Email: balittanah@litbang.pertanian.go.idbalittanah.isri@gmail.com