bitcoin casino crypto casino crypto gambling crash betting game crash gambling game bitcoin gambling

Simple Responsive Menu

1 | 2 | 3 | 4 | 5 | 6 | 7 | 8 | 9 | 10 | 11

Berita Terbaru

Acara bimtek online Kementan Sapa Petani dan Penyuluh Pertanian (MSPP) seri ke 38 dilaksanakan oleh Badan Penyuluhan dan Pengembangan Sumber Daya Manusia Pertanian (BPPSDMP), Kementan pada tanggal 15 Oktober 2021. Tema yang diusung yaitu “Pencegahan Erosi di Lahan Pertanian, Pengenalan SI Agri DSS untuk Menghitung Prediksi Erosi dan Rekomendasi Pemupukan”. Pelaksanaan acara bimtek ini yaitu melalui zoom dan live streaming youtube dan dihadiri oleh penyuluh di seluruh Indonesia.

Bimtek online dibuka oleh Kepala BPPSDMP, Prof. Dr. Ir. Dedi Nursyamsi, M. Agr. Dalam sambutannya, Dedi mengungkapkan pentingnya alat mesin pertanian (alsin) sejak awal tanam hingga panen dan pascapanen untuk meningkatkan produktivitas pertanian dan efisiensi biaya pertanian. Pasca panen yang baik akan menjadikan harga jual beras meningkat dan dapat mencapai 9 ribu rupiah/kg. Dengan kemasan yang bagus dan divakum, beras dapat dijual sebesar 20 ribu rupiah/kg. Beras yang berkualitas bagus dan memenuhi standar ekspor dapat dijual hingga 2 dollar/kg. Selain itu juga perlu diperhatikan mengenai pemasaran dan distribusi hasil panen. Pertanian harus berorientasi bisnis sehingga sebelum tanam harus mempunyai offtaker. Lebih baik lagi apabila terdapat korporasi petani sehingga pemasaran dapat lebih terkoordinir dan menghasilkan untung lebih banyak.

Selanjutnya Dedi mengungkapkan bahwa penyuluh pertanian mempunyai tupoksi untuk menggenjot produktivitas pertanian, mendampingi petani, dan juga memberi solusi atas permasalahan pertanian. Dalam pemberian pemupukan harus menggunakan pemupukan berimbang sesuai kebutuhan tanaman. Dedi menguraikan lebih lanjut bahwa adopsi pemupukan berimbang dapat meningkatkan produksi tanaman serta mikroorganisme bisa lebih berkembang. Lebih lanjut, diuraikan juga bahwa dalam pengelolaan lahan harus dihindari terjadinya erosi karena erosi dapat menurunkan produktivitas lahan.

Acara bimtek online ini juga dihadiri oleh Menteri Pertanian, Dr. H. Syahrul Yasin Limpo, S.H., M.Si., M.H. Beliau menyampaikan bahwa sektor pertanian telah menyelamatkan negara dalam menghadapi pandemi covid-19. Sektor pertanian mampu menjamin kebutuhan pangan penduduk Indonesia sehingga roda ekonomi tetap kokoh dan kuat sehingga pertanian adalah pilihan baik untuk hari ini, besok, dan masa depan. Lebih jauh beliau mengungkapkan bahwa pertanian Indonesia tidak boleh kalah dengan negara lain sehingga diperlukan penguatan SDM pertanian agar menguasai teknik budidaya, pasca panen, dan pemasaran. Selain itu diperlukan modal yang mana tersedia melalui KUR, penguatan alsin pertanian, dan pengolahan kompos.  Menteri Pertanian juga mengungkapkan bahwa bulan depan pada setiap kabupaten harus terdapat percontohan integrated farming seluas 20 ha yang mampu menghasilkan produktivitas tinggi. Kuncinya yaitu menerapkan pertanian maju, modern, dan mandiri.

Dalam acara bimtek ini Dirjen Prasarana dan Sarana Pertanian, Ir. Ali Jamil, M.P., Ph.D juga memberikan arahan kepada para penyuluh pertanian. Beliau menyampaikan bahwa rekomendasi pemupukan dari Balai Penelitian Tanah digunakan untuk pemberian pupuk subsidi. Penyuluh diharapkan dapat mensosialisasikan dosis pupuk rekomendasi kepada para petani.

Narasumber pertama dalam bimtek online ini adalah Kepala Balai Penelitian Tanah (Balittanah), Dr. Ir. Ladiyani Retno Widowati, M.Sc dengan judul materi adalah “AGRI DSS (Decision Support System) Sebagai Alat Bantu untuk Prediksi Erosi dan Kebutuhan Pupuk Pajale”. Beliau menguraikan mengenai manfaat pemupukan berimbang yaitu (1) meningkatkan produksi dan mutu hasil, (2) meningkatkan efisiensi pemupukan, (3) meningkatkan kesuburan tanah, dan (4) menghindari pencemaran lingkungan.

Lebih lanjut, Ladiyani menjelaskan bahwa terdapat perbedaan status hara P dan K dari data tahun 2014 dengan data tahun 2021. Hal ini karena pupuk NPK 15-15-15 dengan dosis 300 kg/ha bila diaplikasikan ke lahan sawah dengan status hara P dan K rendah hingga tinggi akan terjadi kelebihan hara P dan K, kecuali pada status hara K rendah. Oleh karena itu diperlukan reformulasi pupuk majemuk NPK 15-15-15 menjadi 15-10-12. Balittanah telah mengeluarkan buku rekomendasi pupuk N, P, dan K spesifik lokasi. Buku ini dapat menjadi acuan bagi pemerintah pusat dan daerah dalam menetapkan kebijakan pupuk bersubsidi dan menjadi referensi petani atau kelompok tani dan PPL dalam menyusun e-RDKK.

Ladiyani memaparkan lebih lanjut bahwa Balittanah telah mempunyai aplikasi rekomendasi pemupukan dalam versi Android (AGRI DSS) dan web (SOIL AGRI DSS). Aplikasi AGRI DSS dapat didownload dari play store. Aplikasi ini dapat digunakan untuk menghitung kebutuhan pupuk padi, jagung, dan kedelai pada tanah sawah dan lahan kering masam.

Narasumber kedua yaitu Dr. Maswar, peneliti dari kelompok peneliti Fisika dan Konservasi Tanah, Balittanah. Judul materi yang dibawakan yaitu “Pencegahan  Erosi di Lahan Pertanian”. Maswar menjelaskan bahwa sebaran lahan di Indonesia lebih dari 77% mempunyai kelerengan lebih dari 3% sehingga rentan terhadap terjadinya erosi. Penyebab terjadinya erosi dapat disebabkan karena pembukaan tutupan lahan dari kehutanan menjadi lahan lainnya, pengolahan tanah yang kurang tepat, curah hujan dan aliran permukaan yang tinggi, dan pengaruh iklim ekstrim. Kejadian erosi dapat menyebabkan sedimentasi, penurunan kualitas lingkungan, dan kehilangan hara.

Selanjutnya Maswar menerangkan bahwa diperlukan adopsi teknik konservasi tanah dan air. Prinsip dari teknik konservasi adalah meredam energi hujan, meredam daya gerus aliran, memperlambat laju aliran permukaan, dan memperbaiki sifat-sifat tanah yang peka erosi. Teknik konservasi yang dapat diterapkan yaitu metoda mekanik seperti teras bangku, bedengan searah kontur, pembuatan rorak, saluran buntu, dan saluran pembuangan air yang ditambah rumput. Metoda vegetatif konservasi tanah yang dapat diaplikasikan yaitu penanaman lorong, strip rumput, agroforestri, tanaman penutup tanah dan mulsa plastik ataupun sisa tanaman. Metoda kimia dalam konservasi tanah yaitu penggunaan bitumen, PVA, polyurethane, dan lainnya.

Narasumber terakhir dalam bimtek ini yaitu Rahmah Dewi Yustika, S.P., M.Si., Ph.D, peneliti dari kelompok peneliti Fisika dan Konservasi Tanah, Balittanah. Rahmah membawakan materi dengan judul “Sistem Informasi Konservasi Tanah dan Pemupukan SOIL AGRI DSS”. Rahmah menjelaskan bahwa sistem informasi sangat diperlukan dalam pembangunan pertanian karena dapat memberikan informasi secara cepat, tepat, lengkap, valid, dan biaya yang lebih efisien. Balittanah telah mengembangkan Sistem Informasi sejak tahun 2006 yaitu Sistem Pengelolaan Sesuai Harkat (SPLaSH) dalam versi desktop untuk menghitung prediksi erosi. SPLaSH berkembang dari versi 1.02, 1.03, 1.04, dan GeoSPLasH.

Tuntutan informasi yang tersaji secara spasial dan dapat diakses oleh semua orang menjadikan SPLaSH dikembangkan dalam versi web. Versi web menjadikan sistem informasi menjadi spasial decision support system yang mempunyai struktur yang dapat membantu penyelesain masalah, mempunyai interface, mengkombinasikan model dan data, dan dapat mengevaluasi pilihan yang diambil. Nama dari SPLaSH dalam perjalanannya berganti menjadi Sistem Informasi Pengelolaan Lahan (Silahan).

Lebih lanjut Rahmah menerangkan bahwa tahun 2021 terdapat integrasi fungsi dari aplikasi sistem informasi yang selain menghitung prediksi erosi, juga dapat digunakan untuk rekomendasi pemupukan. Nama dari aplikasi dari Silahan berganti menjadi SOIL AGRI DSS.  Dalam bimtek ini juga didemonstrasikan bagaimana cara menggunakan aplikasi SOIL AGRI DSS.

Pengenalan sistem informasi aplikasi SOIL AGRI DSS kepada penyuluh diharapkan dapat membantu dalam menghitung prediksi erosi pada lahan pertanian dan juga memberikan rekomendasi teknik konservasi yang dapat diaplikasikan untuk mengurangi erosi. Selain itu informasi rekomendasi pemupukan spesifik lokasi dapat membantu penyuluh secara cepat dan tepat untuk menginformasikan jumlah pupuk kepada petani. (RDY, AFS, M.Is).

Kabupaten Banjarnegara sebagai daerah penghasil kentang di Indonesia mempunyai potensi yang besar dalam sektor pembangunan pertanian. Integrated teknologi diaplikasikan di Desa Sumberejo, Kecamatan Batur, Kabupaten Banjarnegara melalui kegiatan penelitian Riset Pengembangan Inovatif dan Kolaboratif (RPIK) Pengembangan Pertanian Modern dan Berkelanjutan. Kegiatan RPIK ini didukung oleh berbagai inovasi teknologi dari Balai Besar Pengembangan Mekanisasi Pertanian (BBP Mektan), Balai Penelitian Tanah, Balai Penelitian Tanaman Sayuran, dan BPTP Jateng.

Pada tanggal 14 Oktober 2021 dilaksanakan ekspose inovasi mekanisasi pertanian modern mendukung pertanian kentang yang dilaksanakan oleh BPP Mektan. Kegiatan ekspose ini dihadiri oleh PLH Kabupaten Banjarnegara (Syamsudin, S.Pd., M.Pd), perwakilan TA DPR RI Dapil Jateng VII (Bapak Yarianto), Kepala BBP Mektan (Dr. Ir. Agung Prabowo, M. Eng), Kepala BPTP Jawa Tengah (Dr. Joko Pramono, MP), Kepala Dinas Pertanian, Perikanan, dan Ketahanan Pangan Kabupaten Banjarnegara (Totok Setya Winarna, S.Pi.), Camat, Danramil, Kapolsek, dan kelompok tani kecamatan Batur.

Dalam expose di lahan pertanian, didemonstrasikan inovasi teknologi dari BBP Mektan yaitu alat penananam benih kentang. Alat alsin ini dapat menanam dengan jumlah baris 2, jarak tanam 60 cm dan jarak dalam baris 30 cm. Selain itu juga didemonstrasikan Perangkat Uji Tanah Kering (PUTK) yang merupakan inovasi dari Balai Penelitian Tanah yang berfungsi untuk uji hara spesifik lokasi dan dapat merekomendasikan dosis pemupukan spesifik lokasi secara cepat dan tepat. Demonstrasi penggunaan PUTK dilaksanakan oleh Rahmah Dewi Yustika, S.P., M.Si., Ph.D dari Balai Penelitian Tanah.

Melalui penggunaan PUTK dan Perangkat Uji Pupuk Organik (PUPO), diharapkan petani dapat mengukur secara mandiri hara di lahan pertanian karena alat tersebut berfungsi sebagai laboratorium mini. Selain itu, petani juga dengan cepat mendapatkan informasi dosis pupuk yang dibutuhkan untuk lahan mereka. (RDY, AFS, M.Is).

Pada hari Rabu tanggal 6 Oktober 2021, Balai Besar Litbang Sumberdaya Lahan Pertanian (BBSDLP), Badan Litbang Kementerian Pertanian mengadakan bimtek online seri ke-8 yang berjudul “Konservasi Tanah Pada Budidaya Pertanian”.

Bimtek online ini dibuka oleh Sub Koordinator Pendayagunaan Hasil Pertanian yaitu Drs. Widhya Adhy. Adapun narasumber dalam bimtek online ini adalah Dr. Ir. Maswar, M. Agric. Sc dan dipandu oleh moderator Rahmah Dewi Yustika, S.P., M.Si., Ph.D dimana keduanya adalah peneliti dari Kelti Fisika dan Konservasi Tanah, Balittanah, BBSDLP. Bimtek online dihadiri oleh 380 peserta dari berbagai instansi diantaranya Dinas Pertanian, DKP3, politeknik, Universitas, dan BPTP.

Dalam paparannya Dr. Ir. Maswar, M. Agric. Sc menjelaskan bahwa terdapat tantangan global terkait dengan konservasi tanah yaitu bahwa pada tahun 2050 penduduk dunia akan menjadi 2,4 milyar yang mana akan menjadi tekanan terhadap sistem pertanian. Selain itu juga terdapat perubahan iklim yang dapat mengancam pencapaian ketahanan pangan. Diuraikan juga pengaruh perubahan iklim terhadap pertanian yaitu menyebabkan curah hujan yang semakin intensif dan musim kemarau yang semakin panjang, suhu udara yang semakin meningkat sehingga terdapat ancaman hama dan penyakit tanaman, kenaikan muka air laut sehingga meningkatkan tanah salin, dan adanya potensi penurunan hasil untuk setiap kenaikan 1°C.

Lebih lanjut dijelaskan bahwa pengaruh iklim ekstrim dapat menyebabkan terjadinya curah hujan yang cukup tinggi yang mengakibatkan erosi dan aliran permukaan yang tinggi pada lahan pertanian. Selain itu, erosi juga dapat diakibatkan oleh adanya perubahan lahan dan pengolahan tanah yang tidak tepat. Erosi merupakan suatu kejadian yang mengakibatkan partikel tanah dari suatu tempat berpindah ke tempat lain oleh media air ataupun angin. Sebagai negara tropis, media yang mempengaruhi erosi di Indonesia adalah air. Kejadian erosi ini patut diwaspadai karena mengangkut lapisan tanah teratas yang mengandung hara. Erosi yang berkelanjutan dapat mengakibatkan kemiskinan hara pada lahan pertanian sehingga tidak mampu secara optimal mendukung produktivitas tanaman.

Selanjutnya, Maswar juga menjelaskan secara detail tindakan manajemen lahan yang dapat diaplikasikan untuk mencegah terjadinya erosi yaitu melalui aplikasi teknik konservasi tanah pada lahan pertanian. Teknik konservasi tanah meliputi teknik sipil teknis (pembuatan teras bangku, rorak, saluran buntu, dan saluran pembuangan air), teknik vegetatif (penanaman sesuai kontur, agroforestry, penanaman rumput, dan tanaman penutup tanah), dan secara kimiawi (bitumen, PVA, dan lain sebagainya). Praktek manajemen konservasi tanah yang juga bermanfaat untuk memperbaiki sifat tanah yaitu dengan pengelolaan bahan organik dan pembenah tanah biochar.

Melalui penerapan konservasi tanah diharapkan agar tanah dapat terjaga dari kejadian erosi sehingga tanah dapat terlindungi dari degradasi tanah. Kepala BBSDLP, Dr. Husnain, dalam arahannya menyatakan bahwa diperlukan adopsi konservasi tanah secara luas pada lahan pertanian dalam rangka mendukung ketahanan pangan. (RDY, AFS, M.Is).

Kentang merupakan salah satu komoditas pertanian yang memiliki potensi besar untuk dikembangkan. Seiring dengan gaya hidup masa kini, kentang menjadi salah satu pilihan sumber karbohidrat selain beras sehingga permintaan pasar akan kentang semakin meningkat. Guna meningkatkan produktivitas kentang, maka diperlukan inovasi teknologi yang dapat diaplikasikan dalam budidaya kentang guna meningkatkan produktivitas kentang di Indonesia.  Menjawab akan kebutuhan inovasi teknologi tersebut, maka Balai Penelitian Tanah (Balittanah), BBSDLP, Balitbangtan Kementan telah melaksanakan bimbingan teknis (bimtek) pada tanggal 12 Oktober 2021 di Banjarnegara, Jawa Tengah dengan mengusung tema “Teknologi Konservasi dan Pemupukan Pada Tanaman Kentang”.

Pelaksanaan bimtek ini merupakan suatu langkah sosialisasi kegiatan penelitian Teknologi Konservasi dan Pemupukan Pada Tanaman Kentang di Kabupaten Banjarnegara Propinsi Jawa Tengah yang mana merupakan bagian dari kegiatan Riset Pengembangan Inovatif dan Kolaboratif (RPIK) Pengembangan Pertanian Modern dan Berkelanjutan. Bimtek ini dihadiri oleh petani Desa Sumberejo Kabupaten Banjarnegara, Petugas Penyuluh Pertanian (PPL) wilayah Kecamatan Batur, Petugas Pengendali Organisme Tumbuhan (POPT) wilayah Kecamatan Batur, Danramil Kecamatan Batur, dan aparat Desa Sumberejo.

Bimtek ini dibuka dengan sambutan dari Kepala Desa Sumberejo, Kabupaten Banjarengara, Bapak Ibrahim. Kemudian dilanjutkan dengan sambutan dari Kepala Balittanah, Dr. Ir. Ladiyani Retno Widowati, M.Sc, yang mengungkapkan bahwa untuk mencapai produktivitas kentang yang optimal dibutuhkan teknologi konservasi dan pemupukan. Selain itu Ladiyani juga menyerahkan bantuan perangkat uji tanah kering (PUTK) dan perangkat uji pupuk organik (PUPO) kepada Kepala Desa Sumberejo. PUTK dan PUPO masing-masing berfungsi untuk menguji kesuburan tanah dan menguji kualitas dari pupuk kandang yang digunakan oleh petani sehingga mereka mendapatkan informasi mengenai sistem manajemen pertanian yang diaplikasikan pada lahannya. Selanjutnya, terdapat sambutan dari Kepala Dinas Pertanian, Perikanan, dan Ketahanan Pangan Kabupaten Banjarnegara, Totok Setya Winarna, S.Pi., yang mengarahkan agar petani Desa Sumberejo dapat memanfaatkan bantuan PUTK dan PUPO serta mengaplikasikan ilmu dari kegiatan bimtek.

Narasumber pada acara bimtek ini yaitu Rahmah Dewi Yustika, S.P., M.Si., Ph.D., dan Dr. Ir. Wiwik Hartatik, M.Si yang mana keduanya merupakan peneliti dari Balittanah. Pada kesempatan ini Rahmah menyampaikan materi berjudul “Konservasi Tanah Pada Tanaman Kentang”. Dalam paparannya, Rahmah mengungkapkan bahwa tanah di Kawasan Dieng termasuk ke dalam klasifikasi tanah Andosol, dimana . tanah Andosol dicirikan berwarna hitam atau coklat tua, tanah bagian bawah berwarna coklat sampai coklat kekuningan, struktur remah, kadar bahan organik tinggi, tekstur sedang, porous, licin jika dipirid, dan akumulasi liat sering ditemukan di lapisan bawah (Dudal dan Soepraptohardjo, 1961). Tanah andosol yang terletak di dataran tinggi mempunyai kelerengan lebih dari 15% sehingga menyebabkan rentan terjadi erosi.

Rahmah menguraikan lebih lanjut bahwa terdapat berbagai jenis erosi yaitu erosi lembar, erosi alur, erosi parit, dan longsor. Akibat dari erosi yaitu terjadinya pengangkutan tanah bagian atas, menurunnya infiltrasi, sedimentasi di air, dan menurunnya kualitas air. Teknik konservasi tanah yang dapat diaplikasikan untuk mengurangi terjadinya erosi yaitu teras bangku dengan rumput di bibir dan tampingan teras, teras gulud, rorak, dan penanaman searah kontur. Melalui adopsi teknologi konservasi tanah, selain dapat mengurangi erosi tanah, juga dapat mengurangi aliran permukaan, mengurangi jumlah kehilangan hara, dan dapat meningkatkan hasil tanaman kentang. Diperlukan adanya kesadaran masyarakat untuk mengaplikasikan teknik konservasi tanah di lahan pertanian mereka agar tanah dapat lestari sampai generasi berikutnya.

Narasumber yang kedua yaitu Dr. Wiwik Hartatik memaparkan materi dengan judul “Pemupukan Berimbang Pada Tanaman Kentang”. Melalui pemaparannya, Wiwik menjelaskan bahwa pemupukan berimbang adalah pemberian pupuk ke dalam tanah dengan jumlah dan jenis hara sesuai dengan tingkat kesuburan tanah dan kebutuhan tanaman untuk mencapai hasil yang optimal. Manfaat pemupukan berimbang adalah meningkatkan produktivitas dan mutu hasil tanaman, meningkatkan efisiensi pemupukan, meningkatkan kesuburan tanah dan lestari, dan menghindari pencemaran lingkungan. Azas 6 tepat pemupukan yaitu tepat jenis pupuk, tepat dosis, tepat cara, tepat waktu, tepat jenis tanah, dan tepat jenis komoditas. Selanjutnya Wiwik menerangkan bahwa berdasarkan analisis laboratorium uji tanah, status hara P dan K di lokasi demplot dan superimpose tergolong tinggi sehingga dosis rekomendasinya yaitu pupuk majemuk NPK 15-15-15 plus S sebesar 1000 kg/ha dan pupuk kandang 20 ton/ha.

Pada materi berikutnya, Wiwik menerangkan terkait teknik pengambilan contoh tanah untuk analisis kimia. Contoh tanah komposit merupakan campuran 10 contoh individu, diambil pada kedalaman 20 cm untuk tanaman pangan, kedalaman 0 – 20 cm dan 20 – 40 cm untuk tanaman tahunan, dan mewakili satuan pengambilan contoh tanah. Pengambilan contoh tanah tidak boleh dilakukan pada pinggiran dekat petak untuk lahan sawah, dekat masuknya air, bekas timbunan sisa tanaman, bekas sampah, bekas pembakaran, ada kotoran ternak, dan pada lapisan teratas (0 – 5 cm). Peralatan untuk mengambil contoh tanah bisa menggunakan bor tanah ataupun cangkul. Setelah materi pengambilan contoh tanah, para peserta melakukan praktek pengambilan contoh tanah dan hasilnya diuji dengan menggunakan PUTK dan PUPO. Melalui praktek penggunaan PUTK dan PUPO diharapkan petani mendapatkan informasi mengenai rekomendasi pupuk secara langsung spesifik lokasi.

Diharapkan melalui kegiatan bimtek ini petani dapat memperoleh manfaat dan ilmu mengenai teknologi konservasi tanah untuk mencegah erosi di lahan pertanian berlereng dan informasi mengenai pemupukan pada tanaman kentang dalam rangka untuk mendukung pertanian yang berkelanjutan. (RDY, AFS, M.Is).

Penghujung September ceria kali ini telah diisi dengan kegiatan rutin Balai Penelitian Tanah (Balittanah), BBSDLP, Balitbangtan yang tentunya telah banyak ditunggu oleh “bimtek lovers” yaitu Bimtek seri 9 dengan tema yang menarik yaitu “Teknologi Aplikasi Rock Phosphate Tanam Zig Zag dan Pembumbunan di Lahan Masam untuk Jagung Provitas Tinggi”. Acara yang diselenggarakan secara virtual ini diisi oleh narasumber Dr. I Wayan Suastika, M.Si, dan dipandu oleh moderator Dr. Adha Fatmah Siregar, M.Si., M.Sc dimana keduanya adalah peneliti di bidang Kimia dan Kesuburan Tanah, Balittanah, BBSDLP, Balitbangtan.

Pada sesi pemaparan materi, Wayan menyampaikan secara detil mengenai apa itu rock phosphate, tanam zig-zag serta kegiatan pembumbunan yang mampu meningkatkan provitas jagung di lahan masam.  “Dengan menerapkan aplikasi rock phosphate sebanyak 1 ton/ha, maka tidak diperlukan aplikasi pupuk P lagi hingga empat musim kedepan” jelas Wayan. Selain itu dijelaskan juga terkait pola tanam zig zag, dimana dengan pola tanam mini maka populasi tanaman meningkat namun tanaman masih dapat tumbuh optimal dengan paket teknologi rock phosphate.

Peserta bimtek berjumlah 250 peserta ini berasal dari anggota kelompok tani, penyuluh, mahasiswa, serta praktisi pertanian. Hadir juga dalam acara ini Eko Suprapto, petani koperator dari Kelompok Tani Jaya Abadi, Metro Kibang, Lampung Timur. Eko telah menerapkan teknologi rock phosphate dengan tanam zig zag dan pembumbunan yang telah diseminasi oleh tim Peneliti Balittanah dan telah membuktikan hasil produktivitas 18-20 ton/ha bukan hal yang mustahil. “Awalnya saya tidak percaya dengan yang disampaikan oleh tim Balittanah, tetapi setelah menerapkan semua petunjuk yang diberikan, hasil tinggi bukan hanya mimpi” ujar Eko.

Setelah paparan dengan penjelasan rinci dan menarik, serta testimoni dari Eko Suprapto, acara dilanjutkan dengan diskusi antara peserta yang hadir dengan narasumber. Peserta diberikan kesempatan mengajukan pertanyaan lewat room chat dan bertanya secara langsung. Acara ini tidak hanya dilaksanakan melalui aplikasi zoom, namun disiarkan juga di channel youtube Balai Penelitian Tanah.

Diharapkan melalui acara ini, teknologi-teknologi yang dihasilkan oleh Balittanah, BBSDLP, Balitbangtan dapat tersebar ke seluruh penjuru dan dapat diterapkan guna meningkatkkan produktivitas jagung nasional khususnya di lahan masam. Jayalah pertanian Indonesia. Terus berkarya, Inovasi Unggul, Pertanian Maju. (AFS, M.Is).

 

 

Hubungi Kami

Slogan Agro Inovasi

 
 
 

 

SCIENCE . INNOVATION . NETWORKS

Balai Penelitian Tanah
Jln. Tentara Pelajar No. 12 Kampus Penelitian Pertanian Cimanggu, Bogor 16114
Telp: 0251 - 8336757, Fax: 0251 - 8321608, 8322933
Website: balittanah.litbang.pertanian.go.id
Email: balittanah@litbang.pertanian.go.idbalittanah.isri@gmail.com