Simple Responsive Menu

1 | 2 | 3 | 4 | 5 | 6 | 7 | 8 | 9 | 10 | 11

Lahan gambut merupakan penyimpan karbon dalam jumlah sangat besar. Karbon yang terkandung di dalam tanah gambut bersifat tidak stabil. Dalam keadaan hutan alam karbon tersebut bertahan dalam bentuk bahan organik, namun apabila hutan gambut dibuka dan didrainase maka karbon yang disimpannya akan mudah terdekomposisi dan menghasilkan CO2; salah satu gas rumah kaca terpenting. Selain itu drainase lahan gambut yang berlebihan menyebkan lahan gambut rentan terhadap kebakaran. Proses dekomposisi, konsolidasi (pemadatan) dan kebakaran meyebabkan gambut akan mengalami penyusutan (subsidence) dan kehilangan berbagai fungsinya dalam menyangga lahan sekitarnya dari kebanjiran dan kekeringan.

Sejalan dengan pertambahan penduduk maka sumberdaya lahan semakin langka sehingga lahan gambut yang dulunya dianggap sebagai lahan sisa (wasteland) semakin banyak digunakan untuk berbagai keperluan pembangunan ekonomi seperti pertanian dan pemukiman. Hal ini menyebabkan lahan gambut menjelma menjadi sumber emisi nasional yang tertinggi dari sektor yang berhubungan dengan penggunaan dan perubahan penggunaan lahan (LULUCF = Land use land use change and forestry). Oleh sebab itu di dalam aksi nasional penurunan emisi (NAMA = nationally appropriate mitigation actions) konservasi dan pengelolaan lahan gambut menjadi salah satu tumpuan utama.

Hubungi Kami

Slogan Agro Inovasi

 
 
 

 

SCIENCE . INNOVATION . NETWORKS

Balai Penelitian Tanah
Jl. Tentara Pelajar No.12 Bogor Jawa Barat 16114 Indonesia
balittanah@litbang.pertanian.go.id, balittanah.isri@gmail.com
Telp :+622518336757 Fax :+622518321608; +622518322933