Simple Responsive Menu

1 | 2 | 3 | 4 | 5 | 6 | 7 | 8 | 9 | 10 | 11

Kondisi Tanah dan Teknik Rehabilitasi Lahan Pasca-Erupsi Gunung Merapi

Deddy Erfandi, Yoyo Soelaeman, Abdullah Abas Idjuddin,
dan Kasdi Subagyono

Abstrak

Erupsi Gunung Merapi telah menghasilkan sekitar 140 juta m3 material erupsi. Material dan awan panas yang dikeluarkan tersebut telah mengakibatkan kerusakan lahan pertanian, perkebunan, dan infrasrtuktur irigasi. Material vulkanik menutupi lahan pertanian rata-rata setebal 5-10 cm, bahkan mencapai 29 cm. Material ini  mempunyai sifat fisik yang keras dan sulit ditembus air dengan BD 1,37-1,41 g/cc dan permeabilitas 0,92-3,90 cm/jam, sehingga diperlukan teknik rehabilitasi agar lahan dapat dimanfaatkan kembali. Di samping itu, material vulkanik mengandung tekstur tanah pasir  >60%, sehingga mudah terjadi erosi tanah. Dengan volume material yang cukup besar,  erosi dapat merusak  sarana irigasi dan pemukiman. Abu Gunung Merapi yang bertekstur pasir dan dengan lapisan tanah yang memiliki indeks kemantapan agregat rendah (27-37), menyebabkan mudah terjadi erosi dan aliran permukaan. Salah satu cara untuk menanggulangani bahaya erosi dan aliran permukaan pada erosi parit/tebing diperlukan penanaman bambu pada pinggiran parit/tebing dengan jarak 50 cm secara zigzag. Perlakuan ini sangat efektif, karena bambu mudah tumbuh, memiliki perakaran serabut yang dapat menembus lapisan tanah, dan mudah dicari di lokasi setempat.

(Diterbitkan pada Kajian Cepat Dampak Erupsi Gunung Merapi 2010 terhadap Sumberdaya Lahan Pertanian dan Inovasi Rehabilitasinya. Hal. 113-121. Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian. Kementerian Pertanian. 2012. Penyunting: M. Noor et al.).

Hubungi Kami

Slogan Agro Inovasi

 
 
 

 

SCIENCE . INNOVATION . NETWORKS

Balai Penelitian Tanah
Jl. Tentara Pelajar No.12 Bogor Jawa Barat 16114 Indonesia
balittanah@litbang.pertanian.go.id, balittanah.isri@gmail.com
Telp :+622518336757 Fax :+622518321608; +622518322933