Simple Responsive Menu

1 | 2 | 3 | 4 | 5 | 6 | 7 | 8 | 9 | 10 | 11

Cadangan Karbon dan Laju Subsiden pada Beberapa Jenis Penggunaan Lahan
dan Lokasi Lahan Gambut Tropika Indonesia (Peat Carbon Stock and Subsidence Rate
at Different Landuse Type
s and Locations of Indonesian Tropical Peatlands)

Maswar, Fahmuddin Agus

Abstrak, Terjadinya kehilangan simpanan karbon gambut dalam bentuk emisi GRK dan subsidence pada lahan gambut, merupakan dua dari sekian banyak  isu-isu negatif terkait dengan lingkungan yang terus berkembang di  Indonesia pada saat  ini. Satu rangkaian kegiatan penelitian yang bertujuan untuk mengamati cadangan karbon yang tersimpan pada material gambut dan memantau penurunan permukaan gambut telah dilaksanakan pada 5 (lima) provinsi yang memiliki lahan gambut luas yaitu: 1) Kalimantan Barat, dengan jenis penggunaan lahan budidaya tanaman semusim; 2) Kalimantan Tengah dengan jenis penggunaan lahan karet + nenas; 3) Riau dengan jenis penggunaan lahan kelapa sawit + nenas; 4) Jambi dengan jenis penggunaan lahan kelapa sawit + nenas; dan 5) Papua, jenis penggunaan lahan hutan sekunder dengan vegetasi dominan sagu. Penelitian ini merupakan bagian dari kegiatan Indonesia Climate Change Trust Fund (ICCTF) di lingkup Kementrian Pertanian, yang telah dilaksanakan pada bulan April 2013 sampai dengan bulan Agustus 2014. Simpanan karbon diestimasi dengan mengamati bulk density (BD), ketebalan gambut dan kandungan karbon (%C) material gambut. Penurunan permukaan tanah diamati dengan cara memasang stik/tiang permanen dari pipa besi ukuran 2 inchi yang dibenamkan sampai menembus lapisan tanah mineral.Hasil penelitian menemukan bahwa cadangan karbon pada ke 5 lokasi yang diamati bervariasi yaitu 338; 1451; 2055; 2930; dan 3614 ton C/ha masing-masing untuk provinsi Papua,Jambi, Kalimantan Barat, Riau dan Kalimantan Tengah secara berurutan. Dari hasil uji korelasi dan regresi menemukan bahwa besarnya karbon yang tersimpan pada lahan gambut berkaitan erat dengan ketebalan gambutnya (R2 = 0,89) dengan persamaan regresi Y (=cadangan karbon t/ha) = 5,6 (ketebalan gambut dalam cm) – 38,6. Hasil penelitian juga menemukan bahwa ada korelasi dan hubungan yang sangat erat antara BD dengan kerapatan karbon, dengan persamaan regresi: Y(=kerapatan karbon kg/m3) = 398,48 BD + 6,42; dan R2 = 0,80. Rata-rata kecepatan penurunan permukaan tanah (subsidence rate) selama periode satu tahun adalah 0; 2,7; 3,3; 3,8  dan 5,6 cm/thmasing-masing pada lokasi di Provinsi Papua, Jambi, Riau, Kalimantan Tengah dan Kalimantan Barat secara berurutan. Terlihat jelas bahwa adanya usikan/gangguan terhadap kondisi alami lahan gambut seperti konversi hutan gambut dan pembuatan drainase berdampak terhadap terjadinya degradasi yang dicirikan dengan terjadinya penurunan permukaan gambut.  

Abstract,  The loss of peat carbon stocks in the form of GHG emissions, and peat subsidence are two negative environmental issues facing Indonesia at this time. This study was conducted to quantify the below ground carbon stock and  subsidence rate at several landuse type of Indonesian peatlands. The study has been carried out on five provinces that have large areas of peatlands, namely: 1) West Kalimantan (land use: annual crops); 2) Central Kalimantan (land use: rubber + pineapple); 3) Riau ( land use: oil palm + pineapple); 4) Jambi (land use: oil palm + pineapple); and 5) Papua (land use: secondary forest with sago as the dominant vegetation). This study is part of the Indonesia Climate Change Trust Fund (ICCTF) activity of the Indonesian Ministry of Agriculture, which was conducted in April 2013 until August 2014. The below ground peatlands carbon stock was estimated by mesuring the bulk density (BD), peat thickness, and carbon content (% C) of peat material. The measurement of peat subsidence was done by installing a vertical hollow iron poles of 2 inch diameter embedded to penetrate the mineral soil layer. The mean below ground carbon stocks in Papua, Jambi, West Kalimantan, Riau and Central Kalimantan Province were 338; 1451; 2055; 2930; and 3614 tonnes C/ha respectively. Correlation and regression analyses showed that the amount of below ground carbon stock closely related to the peat thickness (R2 = 0.89), with a regression equation: Y (carbon stocks t / ha) = 5.6 * (peat thickness in cm) - 38.6. The BD is closely related to carbon density (R2 = 0.80), with the regression equation: Y (carbon density kg/m3) = 398.48 * BD + 6.42. The mean subsidence rate in Papua, Jambi, Riau, Central Kalimantan and West Kalimantan Province over one year period were 0; 2.7; 3.3; 3.8 and 5.6 cm/yr respectively. It is clear that undrainedpeatlands such as that under sago plantation in Papua did not subside.

(Diterbitkan pada Prosiding Seminar Nasional Pengelolaan Berkelanjutan Lahan Gambut Terdegradasi untuk Mitigasi Emisi GRK dan Peningkatan Nilai Ekonomi. Jakarta, 18-19 Agustus 2014. Hal. 333-344. Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian. Kementerian Pertanian. 2014. Penyunting: A. Wihardjaka et al.).

Hubungi Kami

Slogan Agro Inovasi

 
 
 

 

SCIENCE . INNOVATION . NETWORKS

Balai Penelitian Tanah
Jl. Tentara Pelajar No.12 Bogor Jawa Barat 16114 Indonesia
balittanah@litbang.pertanian.go.id Telp :+622518336757
Fax :+622518321608; +622518322933