Simple Responsive Menu

1 | 2 | 3 | 4 | 5 | 6 | 7 | 8 | 9 | 10 | 11

Emisi Gas CO2 pada Lahan Gambut yang Dibuka Untuk Lahan Budidaya: Studi Kasus
di Provinsi Kalimantan Barat (CO2 Emission from Agricultural Peatland:
a Case Study in West Kalimantan)

Heri Wibowo, Tuti Sugiyarti, Setiari Marwanto, Fahmuddin Agus

Abstrak Isu lingkungan terkait emisi gas CO2 sering menjadi kendala dalam tata kelola lahan gambut di Indonesia. Penelitian ini bertujuan untuk mempelajari tingkat emisi gas CO2 dari gambut yang masih berupa belukar dibandingkan dengan gambut yang dibuka untuk budidaya pertanian (nenas). Lokasi penelitian berada di Provinsi Kalimantan Barat. Lahan gambut belukar terdapat di lokasi yang dekat dengan gambut budidaya pertanian. Pengamatan dilakukan sebanyak dua kali sebulan mulai bulan Februari hingga Juli 2014 dengan total 11 pengamatan (n=11). Laju emisi gas CO2 gambut diukur menggunakan IRGA (Infra Red Gas Analyzer) Li-COR 802, yang dilakukan bersamaan dengan pengukuran suhu tanah, suhu udara, suhu chamber dan kedalaman muka air tanah. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tingkat emisi gas CO2 lahan gambut belukar (50,33 ± 23,09 ton ha-1 tahun-1) sedangkan lahan gambut pertanian budidaya nenas sebesar (47,01 ± 32,18 ton ha-1 tahun-1) dan tidak berbeda nyata pada galat 5%. Hubungan antara kedalaman muka air tanah dengan emisi gas CO2 menunjukkan korelasi yang nyata pada taraf 1% korelasi Pearson. Faktor yang paling berpengaruh terhadap tingkat emisi gas CO2 lahan gambut adalah pengelolaan lahan dan kedalaman muka air tanah. Hasil ini menunjukkan bahwa lahan gambut yang dibuka untuk budidaya nenas memiliki tingkat emisi CO2 yang lebih rendah dibandingkan dengan lahan belukar gambut. Pengelolaan lahan gambut dengan budidaya pertanian (nenas) disarankan untuk menekan laju emisi CO2 dari lahan gambut.

Kata kunci:Gambut, emisi, gas CO2, gambut budidaya, gambut belukar

Abstract. Environmental issue concern to the CO2emission sometime has been a problem in peatland management in Indonesia. This research aims to study the level of CO2 emissions from peatland under shruband pineapple (anenas comosus). The study was conducted in West Kalimantan. The peatland site under shrub location was close (less than 1 km distance) to peat cultivated with pineapple (anenas comosus). Observations were made twice a month from February to July 2014 with total measurement eleven times (n=11). CO2flux were measured using Infra red Gas Analyzer (IRGA) Li-COR 802. Some parameters included soil temperature, air temperature, chamber temperature and depth of water table were also measured. The results showed that the level of peatshrub CO2fluxs (50.33 ± 23.09 tons ha-1 year-1) while the pineapple cultivation of peatlands for agriculture (47.01 ± 32.18 tons ha-1 year-1) and not significantly different at (p<0.005) . The correlation between the water table depth with CO2flux were significant at 1% level of Pearson correlation. In this study, peat management and water table depth were most influenced CO2 emissions. These results indicated that CO2 emission on the peatland under pineapple (anenas comosus) was relatively lower compared to peatland under shrub (non cultivated). Therefore, the cultivation of pineapple (anenas comosus) could be an option to cultivate peatland.

(Diterbitkan pada Prosiding Seminar Nasional Pengelolaan Berkelanjutan Lahan Gambut Terdegradasi untuk Mitigasi Emisi GRK dan Peningkatan Nilai Ekonomi. Jakarta, 18-19 Agustus 2014. Hal. 273-284. Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian. Kementerian Pertanian. 2014. Penyunting: A. Wihardjaka et al.).

Hubungi Kami

Slogan Agro Inovasi

 
 
 

 

SCIENCE . INNOVATION . NETWORKS

Balai Penelitian Tanah
Jl. Tentara Pelajar No.12 Bogor Jawa Barat 16114 Indonesia
balittanah@litbang.pertanian.go.id, balittanah.isri@gmail.com
Telp :+622518336757 Fax :+622518321608; +622518322933