Simple Responsive Menu

1 | 2 | 3 | 4 | 5 | 6 | 7 | 8 | 9 | 10 | 11

Emisi Gas Rumah Kaca dari Saluran Drainase di Lahan Gambut Jabiren,
Kalimantan Tengah (Green House Gas Emissions from Drainage Canals
in Peatland of Jabiren Central Kalimantan)

Prihasto Setyanto, A. Wihardjaka, Eni Yulianingsih, Fahmuddin Agus

Abstrak. Salah satu sumber emisi gas rumah kaca (GRK) di lahan gambut adalah saluran drainase. Informasi besarnya emisi GRK dari saluran drainase penting dalam pengelolaan gambut keberlanjutan. Tujuan kegiatan adalah untuk mengetahui besarnya pelepasan GRK dari saluran drainase di lahan gambut yang digunakan untuk perkebunan karet tradisional. Pengambilan contoh gas dilakukan di saluran drainase sekunder dan tersier pada lima titik dengan menggunakan metode sungkup silinder tertutup. Contoh gas dianalisis dengan alat kromatografi yang dilengkapi detektor thermal conductivity detector (TCD) untuk penetapan CO2, flame ionization detector (FID) untuk penetapan CH4, dan electron capture detector (ECD) untuk penetapan N2O. Fluks GRK di saluran bagian utara dengan lebar 5m umumnya lebih tinggi daripada di saluran bagian selatan demplot gambut dengan lebar 3m. Emisi GRK di saluran drainase lebar 5 m adalah 854±58 kg CO2-e musim-1 selama musim penghujan dan 410±16 kg CO2-e musim-1 selama musim kering. Emisi GRK di saluran drainase lebar 3 m adalah 129±39 kg CO2-e musim-1 selama musim penghujan dan 140±12 kg CO2-e musim-1 selama musim kering. Tingginya fluks GRK dari saluran air dipengaruhi oleh rendahnya kemasaman air gambut dan tingginya debit air.

Kata kunci: Kabondioksida, metana, dinitrogen oksida, drainase, gambut, emisi.

Abstract. Drainage canal is one of sources of greenhouse gases (GHGs) emissions from peat land. Information of GHGs emissions from drainage canal is important in sustainable peat land management. The objective of this research was to determine GHGs emissions from drainage canal in peat land in smallholder rubber plantation area. Gas samples were taken in secondary (5 m wide) and tertiary (3 m wide) drainage canals at five sampling points using closed cylindrical chamber method. Gas samples were analyzed using gas chromatography equipped with thermal conductivity detector (TCD), flame ionization detector (FID) electron capture detector (ECD) to determine CO2, CH4, and N2O, respectively, in 2014. The GHGs fluxes at the secondary drainage canal was higher than at the tertiary one. The GHGs fluxes in the secondary canal was 854±58 kg CO2-e season-1 during the rainy season and 410±16 kg CO2-e season-1 during the dry season, respectively. The GHGs fluxes from the tertiary canal was 129±39 kg CO2-e season-1 during the rainy season and 140±12 kg CO2-e season-1 during the dry season, respectively. The magnitude of GHGs fluxes from drainage canal was affected by lower peat acidity and higher water flow.

Keywords: Carbondioxide, methane, nitrous oxide, drainage canal, peat land, emission.

(Diterbitkan pada Prosiding Seminar Nasional Pengelolaan Berkelanjutan Lahan Gambut Terdegradasi untuk Mitigasi Emisi GRK dan Peningkatan Nilai Ekonomi. Jakarta, 18-19 Agustus 2014. Hal. 263-271. Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian. Kementerian Pertanian. 2014. Penyunting: A. Wihardjaka et al.).

Hubungi Kami

Slogan Agro Inovasi

 
 
 

 

SCIENCE . INNOVATION . NETWORKS

Balai Penelitian Tanah
Jl. Tentara Pelajar No.12 Bogor Jawa Barat 16114 Indonesia
balittanah@litbang.pertanian.go.id Telp :+622518336757
Fax :+622518321608; +622518322933