Simple Responsive Menu

1 | 2 | 3 | 4 | 5 | 6 | 7 | 8 | 9 | 10 | 11

Potensi Usahatani Berkelanjutan di Lahan Gambut Terdegradasi: Analisis Sosial Ekonomi
dan Lingkungan (Farming System Potential on Degraded Peatland: Social Economic
and Environmental Analyses)

Mamat H.S., Neneng L. Nurida, Irawan, Sukarman, Anny Mulyani,
Meli Fitriani, Arsil Saleh, Irsal Las

Abstrak. Saat ini terdapat 3,7 juta ha lahan gambut yang belum dimanfaatkan dan dikategorikan sebagai lahan terdegradasi. Sebagian besar dari lahan tersebut sesuai untuk penggunaan pertanian, tetapi harus dikelola secara lestari dengan mempertimbangkan aspek lingkungan. Teknologi ramah lingkungan yang layak secara sosial ekonomi perlu dikembangkan sehingga lahan gambut tersebut tetap bermanfaat untuk generasi mendatang. Analisis sosial ekonomi dan lingkungan dilakukan untuk menilai kelayakan dan keberlanjutan dari aplikasi model usahatani seperti yang dirakit oleh program Indonesia Climate Change Trust Fund (ICCTF) di lahan gambut terdegradasi. Metode penelitian melalui survei terstruktur terhadap petani responden di Kalteng, Riau, Jambi, dan Kalbar, yang bertujuan untuk mendapatkan data usahatani dan indeks keberlanjutan model demplot ICCTF. Hasil analisis usahatani menunjukkan bahwa dalam satu tahun pengamatan (2013), pendapatan bersih yang diperoleh dari usahatani karet dan kelapa sawit ditambah tanaman sela nenas dan pemberian amelioransekitar Rp. 9,4 juta/ha/th hingga minus Rp 500 ribu/ha/th. Biaya variabel yang diperlukan untuk menurunkan emisi 1 t CO2/ha/th sangat bervariasi antara Rp 338.891–Rp 6.234.809. Nilai opportunity cost semua model pengelolaan berkisar antara 12 sampai 332 $US/t CO2 yang berarti bahwa untuk setiap upaya penurunan emisi 1 ton CO2 akan menghilangkan kesempatan untuk memperoleh pendapatan sebesar US$ 12-332. Nilai tertinggi opportunity costdiperoleh dari pola usahatani karet+nenas yang diberi Pugam di Kalimantan Tengah. Indeks keberlanjutan model usahatani di Kalteng, Jambi, dan Kalbar tergolong cukup yaitu masing-masing 66,69; 60,41; dan 57,40, sedangkan model usahatani di Riau tergolong kurang berkelanjutan dengan nilai indeks 45,61. Berdasarkan analisis kepekaan (leverage analysis) diketahui bahwa faktor yang sensitif terhadap keberlanjutan model usahatani adalah intensitas penyuluhan, cara membuka lahan/mengolah tanah, potensi penerapan teknologi kelestarian lingkungan, persepsi masyarakat terhadap pengelolaan gambut, kebersamaan kelompok tani (dimensi sosial), kestabilan harga hasil petani pada saat panen, usahatani yang berorientasi profit, tingkat keuntungan usahatani (dimensi ekonomi), fluktuasi debit air di lahan petani, dan perubahan tingkat dekomposisi gambut (dimensi lingkungan/ekologi).

Kata kunci: Gambut, indeks berkelanjutan, opportunity cost, faktor sensitif

Abstract. Currently there is about 3.7 million ha of abandoned peatland and is categorized as degraded land. Most of the lands are suitable for agricultural uses. However, they must be managed in a sustainable manner by taking into account the environmental aspect. It is required to develop environmentally friendly technologies that are socio-economically feasible so that the peatlands remain useful for the next generations. Socio-economic and environmental analyses were conducted to assess the feasible and sustainable  application of degraded peatland farming models such as those developed by the Indonesia Climate Change Trust Fund (ICCTF) programme. Research, through a structured survey on respondent farmers in Central Kalimantan, Riau, Jambi, and West Kalimantan, was to obtain data on farm activities and assess their sustainability indices. The analysis indicated that in one year observation (2013), net income from farming of rubber and oil palm, intercropped with pineapple and with ameliorants application, ranged from around Rp9.4 million/ha/yr to minus Rp 500 thousand/ha/yr. Variable costs required to reduce emissions of 1 ton CO2/ha/yr varied between Rp 338,891 to Rp6,234,809. The opportunity costs of all management models ranged from US$ 12 to 332 per ton CO2 meaning that the forgone benefits for reduction of every 1 ton CO2 ranged from US$ 12 to 332. The highest value of opportunity cost was obtained from rubber intercropped with pineapple with ‘peat fertilizer’ application in Central Kalimantan. Sustainability indices of farming models in Central Kalimantan, Jambi, and West Kalimantan locations were ‘satisfactory’ with the values of 66.69, 60.41, and 57.40, respectively, while the farm model in Riau location was unsatisfactory with the value of 45.61. Based on the sensitivity analysis (leverage analysis), the sensitive factors to the sustainability of the farm model were social dimension (i.e. extension intensity, method of land clearing and tillage, the potential for implementation of environmental management technologies, public perception on peat management, togetherness of farmers’ groups), economic dimension (i.e. price stability at harvest time, profit-oriented farms, the level of farm profit), and environment/ecology dimension (i.e. fluctuations of water discharge on farmers' fields, and changes in peat decomposition rate).

Key words: Peatland, sustainability index, opportunity cost, sensitive factor

(Diterbitkan pada Prosiding Seminar Nasional Pengelolaan Berkelanjutan Lahan Gambut Terdegradasi untuk Mitigasi Emisi GRK dan Peningkatan Nilai Ekonomi. Jakarta, 18-19 Agustus 2014. Hal. 63-79. Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian. Kementerian Pertanian. 2014. Penyunting: A. Wihardjaka et al.).

Hubungi Kami

Slogan Agro Inovasi

 
 
 

 

SCIENCE . INNOVATION . NETWORKS

Balai Penelitian Tanah
Jl. Tentara Pelajar No.12 Bogor Jawa Barat 16114 Indonesia
balittanah@litbang.pertanian.go.id, balittanah.isri@gmail.com
Telp :+622518336757 Fax :+622518321608; +622518322933