Simple Responsive Menu

1 | 2 | 3 | 4 | 5 | 6 | 7 | 8 | 9 | 10 | 11

Pengelolaan Berkelanjutan Lahan Gambut Terdegradasi :
Trade-off Keuntungan Ekonomi dan Aspek Lingkungan
(
Sustainable Management of Degraded Peatland :
Trade-off between Economic and Environmental Benefits)

Fahmuddin Agus, Wahyunto, Hendri Sosiawan, I  G.M. Subiksa,
Prihasto Setyanto, Ai Dariah, Maswar, Neneng L. Nurida, Mamat H.S., Irsal Las

Abstrak. Lahan gambut terdegradasi menjadi sumber masalah lingkungan karena merupakan sumber emisi gas rumah kaca (GRK) dan rentan kebakaran. Lahan ini tidak produktif sementara kebutuhan untuk perluasan lahan pertanian sangat tinggi. Penelitian Indonesian Climate Change Trust Fund II dilakukan untuk mendelineasi lahan gambut terdegradasi, mengembangkan metode pengelolaan, mempelajari dampak pengelolaan terhadap hasil tanaman, tingkat keuntungan dan emisi GRK serta menganalisis biaya penurunan emisi (opportunity cost). Penelitian dilaksanakan dari bulan September 2012 sampai Agustus 2013 di Provinsi Riau, Jambi, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah dan Papua. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat sekitar 3,7 juta ha (26% dari 14,9 juta ha luas total) lahan gambut tergredasi yang ditumbuhi semak belukar ditambah sekitar 0,6 juta ha lahan terdegradasi bekas tambang. Sebagian lahan ini berpotensi untuk perluasan lahan pertanian. Selain meningkatkan nilai ekonomi, rehabilitasi lahan gambut terdegradasi menjadi lahan pertanian cenderung menurunkan emisi GRK. Lahan gambut terdegradasi terdapat pada berbagai kawasan peruntukan, termasuk areal penggunaan lain (APL), hutan lindung (HL), hutan produksi konversi (HPK) dan hutan produksi (HP). Dibutuhkan suatu rasionalisasi peruntukkan kawasan dan reposisi kebijakan agar lahan terdegradasi yang berada di dalam kawasan hutan dapat direhabilitasi untuk pertanian dan lahan hutan gambut di areal APL dapat dikonservasi untuk mempertahankan fungsi lingkungannya. Kunci keberhasilan pertanian di lahan gambut adalah pengelolaan drainase dan pemupukan N, P, K, Mg serta pupuk mikro Cu, Mn, dan B. Dengan pengelolaan yang tepat pertanian di lahan gambut dapat memberikan hasil dan keuntungan yang setara dengan pertanian di lahan mineral. Pemberian amelioran seperti pupuk kandang dan pupuk gambut adakalanya meningkatkan pertumbuhan dan produksi tanaman, terutama bila sistem pertanian cukup intensif atau tanah sangat miskin hara. Menelantarkan lahan gambut terdegradasi berarti menghilangkan kesempatan bagi pengelola lahan untuk mendapatkan keuntungan (opportunity cost) yang berkisar antara 5,7 sampai Rp. 53 juta ha-1 tahun-1. Konservasi hutan gambut yang tersisa sangat efektif untuk menurunkan jumlah emisi CO2, namun biaya penurunan emisi sangat tinggi (≥US$5/t CO2); jauh melebihi harga karbon yang berlaku di pasaran dunia yang hanya ≤ US$1/t CO2. Ini berarti bahwa perdagangan karbon saja tidak dapat menjadi solusi penurunan emisi, tetapi perlu diperkuat dengan insentif untuk menggunakan lahan gambut terdegradasi dan disinsentif serta aturan untuk menghindari konversi hutan gambut.

Kata kunci: Biaya penurunan emisi, drainase, gas rumah kaca, opportunity cost, pemupukan, semak belukar

Abstract. Degraded peatlands is a source of environmental problems as they are a source of greenhouse gas (GHG) emissions and fire prone. These land are unproductive, while the need for the expansion of agricultural land is very high. Research of the Indonesian Climate Change Trust Fund II was carried out to delineate the degraded peatlands, developed methods of management, evaluate the management impacts on crop yields, profitability and GHG emission reduction as well as analyzing the cost (opportunity cost) of emission reduction. The experiment was conducted from September 2012 to August 2013 in the provinces of Riau, Jambi, West Kalimantan, Central Kalimantan and Papua. The results showed that there are about 3.7 million ha (26% of total area of 14.9 million ha) of degraded peatland covered by shrubs plus about 0.6 million ha of bareland from open mining. Most of these lands have the potential for expansion of agriculture. In addition to increasing the economic value, the rehabilitation of degraded peatlands to agriculture tends to reduce GHG emissions and simultaneously improve the condition of the land. Degraded peatland are distributed in various areas of land allotment including non forest production area (APL), protection forest (HL), convertible production forest (HPK) and forest production (HP) areas. It takes an allotment area rationalization and repositioning policies that degraded land inside the forest area can be rehabilitated for agriculture and forest land in the APL can be conserved to maintain the environmental function. The key to the success of agriculture is the management of peatland drainage and fertilization of N, P, K, Mg and micro fertilizer Cu, Mn and B. With proper management, peatland agriculture can generate crop yield and profits on par with agriculture on the mineral land. Application of ameliorants like Manure and Peat Fertilizer can sometimes enhance the growth and production of crops, especially when the system is quite intensive and/or the soil is very poor of nutrients. Squandering degraded peatlands entails opportunity costs to landholders ranging between IDR 5.7 to 53 million ha-1 year-1. Conservation of remaining peat forests is very effective for reducing the amount of CO2 emissions, but the emission reduction cost is very high (≥US $ 5 / t CO2); far exceeding the prevailing carbon price in the world market of only ≤US $ 1/t CO2. This means that carbon trading per se cannot be a solution to emission reduction, but it needs to be strengthened with incentives for the use of degraded peatlands and disincentives as well and regulations to avoid conversion of peat forest.

Keywords: Cost of emission reduction, drainage, fertilization, greenhouse gases, opportunity cost, shrubs.

(Diterbitkan pada Prosiding Seminar Nasional Pengelolaan Berkelanjutan Lahan Gambut Terdegradasi untuk Mitigasi Emisi GRK dan Peningkatan Nilai Ekonomi. Jakarta, 18-19 Agustus 2014. Hal. 1-23. Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian. Kementerian Pertanian. 2014. Penyunting: A. Wihardjaka et al.).

 

 

 

 

Hubungi Kami

Slogan Agro Inovasi

 
 
 

 

SCIENCE . INNOVATION . NETWORKS

Balai Penelitian Tanah
Jl. Tentara Pelajar No.12 Bogor Jawa Barat 16114 Indonesia
balittanah@litbang.pertanian.go.id Telp :+622518336757
Fax :+622518321608; +622518322933