Simple Responsive Menu

1 | 2 | 3 | 4 | 5 | 6 | 7 | 8 | 9 | 10 | 11

Konservasi Lansekap Pertanian Lahan Kering Berbasis Sayuran
Mendukung Pengembangan Agrowisata Di Dataran Tinggi Merbabu

 

Umi Haryati, Tati Budiarti, dan Afra D. Makalew
Peneliti Badan Litbang Pertanian di Balai Penelitian Tanah

ABSTRAK

Lanskap pertanian merupakan salah satu objek agrowisata. Oleh karena itu kelestariannya menjadi issu penting untuk mendukung pengembangan agrowisata. Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan teknik konservasi tanah dan air yang spesifik, sesuai dengan agroekosistemnya serta dapat direkomendasikan dan berpeluang dikembangkan dalam mendukung kegiatan usaha tani yang telah berjalan di lokasi setempat dan lokasi yang mempunyai tipe agroekosistem serupa. Penelitian dilaksanakan di Desa Ketep, dan Banyuroto (800–1800 m dpl), Kec. Sawangan, Kab. Magelang pada bulan Juni s/d Agustus 2009. Penelitian dilaksanakan melalui metode survei. Survei dilakukan 2 tahap, yaitu: 1) survei lapangan untuk mengetahui kondisi agroekosistem setempat khususnya yang berkaitan dengan teknik konservasi tanah dan air, dan 2) wawancara semi struktural, untuk menggali peluang dan kendala penerapan teknik konservasi tanah dan air dengan menggunakan pertanyaan kunci (key question). Hasil penelitian menunjukkan bahwa tipe penggunaan lahan yang dominan adalah lahan kering/tegalan dengan usaha tani dominan sayuran. Sebagian besar petani di Desa Ketep dan Banyuroto merupakan petani pemilik, rata-rata pemilikan > 0,50 ha dan < 0,25 ha masing-masing untuk Desa Ketep dan Banyuroto. Kemiringan lahan pada areal budi daya pertanian di lokasi penelitian berkisar dari landai (8–15%), agak curam (15–25%), curam (25–40%), sangat curam (40–60%) sampai terjal (> 60%). Erosi aktual yang terjadi berkisar dari erosi permukaan/lembar (sheet erosion) sampai longsor (landslide). Teknik konservasi tanah dan air yang telah dilaksanakan petani di lokasi penelitian dapat dibagi menurut tipe penggunaan lahan yang ada. Sebagian besar petani di lokasi penelitian sudah melaksanakan teknik konservasi tanah dan air baik mekanik maupun vegetatif ataupun kombinasi keduanya. Teras bangku merupakan teknik konservasi existing yang umum dijumpai pada lahan tegalan dengan kualitas yang bervariasi dari sederhana/rendah sampai baik. Teknik konservasi tanah dan air yang dapat direkomendasikan berupa perbaikan kualitas teras bangku, teknik konservasi air dan kombinasi teknik konservasi mekanik dan vegetatif. Selain itu teknik pemanenan air berupa embung dan rorak dapat melengkapi teknik konservasi tanah. Aplikasi teknik konservasi di lahan kering menjumpai beberapa kendala diantaranya pengetahuan petani, status pemilikan lahan, keterbatasan sumber daya lahan, keterbatasan modal,dan keterbatasan tenaga kerja produktif. Beberapa alternatif pemecahan yang dapat ditawarkan antara lain penyuluhan, training singkat, sosialisasi (temu lapang); teknologi konservasi yang mudah, murah, tidak permanen dan introduksi ternak; usaha tani intensif dengan teknologi tinggi dan komoditas bernilai ekonomi tinggi; menghimpun modal bersama (koperasi), arisan, refolving fund/subsidi; sewa tenaga kerja atau gotong royong.

Diterbitkan pada Prosiding Seminar Nasional Peningkatan Produktivitas Sayuran Dataran Tinggi. Hal. 60-87. Penyunting: L.R. Widowati et al. Balai Besar Litbang Sumber Daya Lahan Pertanian. Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian, Kementerian Pertanian. 2013.

Hubungi Kami

Slogan Agro Inovasi

 
 
 

 

SCIENCE . INNOVATION . NETWORKS

Balai Penelitian Tanah
Jl. Tentara Pelajar No.12 Bogor Jawa Barat 16114 Indonesia
balittanah@litbang.pertanian.go.id, balittanah.isri@gmail.com
Telp :+622518336757 Fax :+622518321608; +622518322933