Simple Responsive Menu

1 | 2 | 3 | 4 | 5 | 6 | 7 | 8 | 9 | 10 | 11

Inovasi Teknik Konservasi Air untuk Peningkatan Produktivitas Kedelai
pada Lahan Suboptimal di Lampung

Umi Haryati, Wiwik Hartatik, dan Ishak Juarsah
Peneliti Badan Litbang Pertanian pada  Balai Penelitian Tanah, Jl. Tentara Pelajar 12 Cimanggu, Bogor

 Abstrak. Produktivitas kedelai masih perlu ditingkatkan untuk mendukung pencapaian swasembada kedelai. Upaya ekstensifikasi mulai dilakukan pada lahan-lahan suboptimal, sehingga diperlukan inovasi teknologi untuk peningkatan produktivitas tanah dan tanaman dalam mencapainya. Penelitian bertujuan untuk mengetahui pengaruh mulsa dan pembenah tanah terhadap produktivitas tanah dan tanaman kedelai pada lahan suboptimal. Penelitian dilakukan pada tanah Typic Kanhapludult di Desa Rejobinangun, Lampung Tengah pada MT 2011. Penelitian menggunakan rancangan percobaan petak terpisah (Split Plot Design) dengan 3 ulangan. Pemberian mulsa (M-1 = mulsa konvensional, M-2 = mulsa larik) sebagai petak utama dan pembenah tanah (SC-0 = tanpa pembenah tanah, SC-1 = pembenah tanah Biochar 1 (SP 50) 2,5 t ha-1, SC-2= Beta 2,5 t ha-1, SC-3= Biochar II (arang sekam) 2,5 t ha-1, dan SC-4= pupuk kandang 5 t ha-1) sebagai anak petak. Tanaman indikator adalah kedelai varietas Wilis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa baik cara pemberian mulsa maupun pembenah tanah belum berpengaruh nyata terhadap beberapa sifat fisik tanah, namun berpengaruh terhadap ketahanan penetrasi tanah. Interaksi pemberian mulsa dan pembenah tanah terhadap ketahanan penetrasi nyata secara statistik, karena sifat fisik tanah tersebut memberikan respon yang berbeda terhadap pembenah tanah baik pada perlakuan mulsa konvensional (M-1) maupun mulsa larik (M-2). Pemberian mulsa dan pembenah tanah berpengaruh nyata terhadap tinggi tanaman pada umur 30, 45 dan 60 hari setelah tanam (HST). Pemulsaan dengan cara konvensional yaitu disebar merata diatas permukaan tanah (M-1) memberikan tinggi tanaman yang lebih baik dibanding dengan cara dilarik (M2). Perlakuan pembenah tanah Biochar I (SC-1) mempunyai nilai tinggi tanaman yang paling tinggi dan berbeda nyata dengan perlakuan lainnya, diikuti oleh SC-4 dan SC-5, kemudian SC-2 dan tanpa pembenah tanah mempunyai tinggi tanaman yang paling rendah pada umur 30 HST. Pemberian mulsa dan pembenah tanah sampai dengan dosis 2,5 t ha-1 belum berpengaruh terhadap hasil tanaman kedelai.

Kata kunci: Mulsa, biochar, beta, kedelai

Diterbitkan pada Prosiding Seminar Nasional Pertanian Ramah Lingkungan. Hal. 337-355. Penyunting: Sulaeman et al. Bogor, 29 Mei 2013. Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian, Kementerian Pertanian. 2013

 

Hubungi Kami

Slogan Agro Inovasi

 
 
 

 

SCIENCE . INNOVATION . NETWORKS

Balai Penelitian Tanah
Jl. Tentara Pelajar No.12 Bogor Jawa Barat 16114 Indonesia
balittanah@litbang.pertanian.go.id, balittanah.isri@gmail.com
Telp :+622518336757 Fax :+622518321608; +622518322933