Simple Responsive Menu

1 | 2 | 3 | 4 | 5 | 6 | 7 | 8 | 9 | 10 | 11

Teknologi Pencetakan Sawah pada Lahan Bekas Tambang Timah di Bangka Belitung

Djadja Subardja, Antonius Kasno, dan Sutono

Abstrak.  Pemanfaatan  lahan  bekas  tambang  timah  untuk  pertanian memiliki  tantangan dan  peluang  yang  sangat  besar  dalam  rangka  mendukung  ketahanan  pangan  dan memperbaiki kualitas lingkungan. Penelitian ini bertujuan untuk mempelajari karakteristik lahan  dan  menyusun  teknologi  pencetakan  sawah  pada  lahan  bekas tambang  timah  di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung. Lokasi  penelitian  terletak  di lahan bekas penambangan  timah PT. Kobatin di Desa Perlang, Kabupaten Bangka Tengah. Tahapan penelitian meliputi: (1) survei  identifikasi dan karakterisasi  lahan, (2) penyusunan desain pencetakan sawah, (3) teknis  pencetakan sawah, dan  (4)  penyiapan  model  pertanian terpadu-SITT. Informasi lereng, kedalaman  tanah, tekstur, permeabilitas dan kedalaman lapisan kedap air, serta sifat-sifat kimia tanah yang dihasilkan dari kegiatan survei identifikasi lahan digunakan sebagai dasar dalam penyusunan desain pencetakan sawah. Lahan bekas tambang timah umumnya mempunyai permukaan tanah yang tidak teratur, tekstur bervariasi dari kasar sampai sedang, struktur lepas sampai masif, kedalaman efektif tanah dangkal (<50 cm), permeabilitas sangat lambat pada kedalaman 40 cm, tanah sangat masam, bahan organik tanah sangat rendah dan miskin hara. Dalam pencetakan sawah, permukaan tanah dikeruk sedalam 40 cm atau sampai lapisan kedap air, tanah didorong ke tempat lebih rendah dan diratakan dengan alat berat (dozer, excavator).Petakan sawah dibuat rata dan atau berteras dengan ukuran bervariasi 20-50 m x 50 m,tergantung kelerengan lahan, semakin curam lereng maka ukuran petak sawah semakin sempit. Pematang  sawah dibuat dari tanah dorongan dozer berukuran lebar 50-60 cm,panjang mengikuti ukuran petak, tinggi 40-60 cm. Pada setiap  petak lahan sawah diberikan tanah pucuk (top soil) sebanyak 1.000 t ha-1 atau setinggi 10 cm, pupuk kandang 10  t ha-1, dan kapur (dolomit) 1  t ha-1. Tanah digenangi air yang disalurkan dari kolong setinggi 10 cm selama semalam, kemudian tanah dilumpurkan  dengan  handtractor  dan digenangi air setinggi 5-10 cm. Pada musim tanam padi pertama diberikan pupuk 250 kg urea, 100 kg SP36, dan 100 kg KCl dan pupuk kandang 10  t ha-1. Cara pemberian pupukdan bahan organik disebar merata. Hasil panen padi perdana secara ubinan rata-rata 3.8  t ha-1 GKP, sedangkan di lokasi lain di Cerucuk, Kabupaten Belitung mencapai 5,6-6,7 t ha-1 GKP. Produktivitas lahan sawah di Perlang masih rendah tetapi sudah menunjukkan adanya perkembangan kualitas lahan lebih baik.

Kata kunci: Teknologi pencetakan sawah, lahan bekas tambang, Bangka Belitung

Abstract.  The usefull of land after tin mining for agriculture has a challenge and significant opportunity to support food security and improve of the environmental quality. This research aims to study the land characteristics and to construct technology for create a rice fields in the tin mining land in Bangka Belitung Provincy. Study sites located in the former tin mining area of PT. Kobatin in Perlang village, Central Bangka regency. Stages of research include: (1) survey of land identification and characterization, (2) to set up the model of rice field design, (3) the technic constructed of rice fields, and (4) to prepare the  model integrated  of  agricultural and SITT. Information slope, soil depth, texture, permeability and water-resistant layer depth, and soil chemical properties resulting from the survey as the basis for the identification of land use in the preparation of the design of the rice field construction. Generally, land after tin mining has an irregular surface, the texture varies from coarse to medium, the structure loose to massive, effective soil depth of shallow (<50 cm), very slow permeability at a depth of 40 cm, the soil is very acidic, soil organic very low and nutrient poor. In the construction of rice fields, the surface of the dredged soil as deep as 40 cm or to impermeable layers, soil pushed onto the lower and flattened by heavy equipment (dozer, excavator).  Fields  plot was  made flat or terraced with a size range 20-50 m x 50 m, depending on slope land, the steeper the slope the smaller the size of the rice terraces. Border of plot was making from soil wich thrust by dozer until 50-60 cm width, length of follow  length plot size, height 40-60 cm. On the every plot at rice field was added 1,000  t ha-1 of top soil materials or as high as 10 cm, organic matter (manure) 10  t ha-1, and limestone (dolomite) 1  t ha-1. Land were  flooded with  water  which risen 10 cm from  channel  and wait  overnight, then  puddling  by handtractor and flooded with 5-10 cm. At first the rice growing season provided with 250 kg of urea fertilizer, 100 kg SP36, and 100 kg KCl and organic matter (manure) 10 t ha-1.The method of fertilizer and organic material in Perlang spread evenly. An average of rice yield at first harvest in Perlang was 3.8 t ha-1 harvesting dry rice, while in Cerucuk, Belitung regency the rice yield is about 5.6 to 6.7  t ha-1. Productivity of rice field in Perlang is still low but it shows the development of better land quality.

Keywords: Technology of rice field constructions, land pasca mining, Bangka Islands.

Diterbitkan pada Prosiding Seminar Nasional Teknologi Pemupukan dan Pemulihan Lahan Terdegradasi. Hal. 111-122. Penyunting: Wigena et al. Bogor, 29-30 Juni 2012. Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian, Kementerian Pertanian. 2012

Hubungi Kami

Slogan Agro Inovasi

 
 
 

 

SCIENCE . INNOVATION . NETWORKS

Balai Penelitian Tanah
Jl. Tentara Pelajar No.12 Bogor Jawa Barat 16114 Indonesia
balittanah@litbang.pertanian.go.id, balittanah.isri@gmail.com
Telp :+622518336757 Fax :+622518321608; +622518322933