Simple Responsive Menu

1 | 2 | 3 | 4 | 5 | 6 | 7 | 8 | 9 | 10 | 11

Metodologi Percepatan Pemetaan Status Hara Lahan Sawah

Sukarman, Diah Setyorini, dan Sofyan Ritung

Abstrak. Peta status hara P dan K lahan sawah sangat bermanfaat untuk arahan menyusun rekomendasi pemupukan padi sawah spesifik lokasi serta arahan kebutuhan pupuk di tingkat kabupaten, provinsi dan nasional. Peta status hara P dan K lahan sawah skala 1:50.000 bermanfaat untuk menyusun rekomendasi pemupukan padi sawah spesifik lokasi serta arahan kebutuhan pupuk tingkat kabupaten. Peta status hara P dan K lahan sawah skala 1:250.000 untuk arahan alokasi kebutuhan pupuk nasional. Pembuatan peta status hara lahan sawah telah dimulai pada tahun 1970 oleh Lembaga Penelitian Tanah dan sampai saat ini baru 22 provinsi yang dipetakan pemetaan status hara tanahnya. Sementara pemetaan status hara 1: 50.000, baru dilaksanakan pada beberapa kabupaten di wilayah Pantura, Jawa Barat, sehingga masih banyak lahan sawah di seluruh Indonesia yang belum dipetakan status hara tanahnya. Metode pemetaan status hara lahan sawah yang dilaksanakan sampai saat ini adalah metode grid. Penggunaan metode ini memerlukan waktu lama dan mahal, karena harus menjelajahi seluruh areal pemetaan dan jumlah contoh tanah yang dianalisis sangat banyak. Agar pemetaan status hara lahan sawah seluruh Indonesia dapat segera diselesaikan, maka perlu adanya upaya untuk melakukan percepatan, diantaranya menggunakan metode pemetaan yang cepat dan efisien serta akurat. Salah satu alternatif metode percepatan  pemetaan status hara yang dapat digunakan adalah memanfaatkan cara delineasi satuan peta yang dianalisis secara digital berbasis GIS (Geographic Information System). Unsur yang dijadikan dasar delineasi satuan peta adalah:  bentuk wilayah/lereng, bentuk sawah (diteras atau tidak diteras), bahan induk/litologi, sumber air irigasi dan tingkat manajemen pemupukan yang digunakan di suatu wilayah. Unsur bentuk wilayah/lereng diturunkan dari DEM (SRTM atau peta topografi digital), bentuk sawah diperoleh dari citra satelit, bahan induk/litologi diperolah dari peta geologi, sumber air irigasi diperoleh dari peta Rupabumi Indonesia (RBI) dan tingkat manajemen diperoleh Dinas Pertanian setempat. Dengan cara ini, maka (1). delineasi satuan peta dapat dilakukan secara cepat dan mencakup wilayah yang luas, (2).  penjelajahan lapangan dilakukan seminimal mungkin dan (3). jumlah contoh tanah yang dianalisis dapat diminimalisir. Tujuan dari tulisan ini adalah membahas salah satu metode pemetaan status hara (P, K dan C-organik)  lahan sawah dalam upaya untuk percepatan pemetaan status hara lahan sawah di Indonesia pada skala semi detail (1:50.000).

Kata Kunci: Percepatan pemetaan, status hara, lahan sawah

Abstract. Map of P and K status of wetland is very useful for making  recommendations landing site-specific fertilization of rice paddies and the direction of the need for fertilizers in the district, provincial and national levels. Map of P and K status of wetland 1:50,000 scale useful for preparing rice fertilizer recommendation and referral site-specific fertilizer needs of the district. Map of P and K status of wetland 1:250.000 scale for the allocation of landing a national fertilizer requirement. Making maps of wetland nutrient status has been initiated in 1970 by the Research Institute of Soil and till now only 22 provinces are mapped mapping soil nutrient status. While mapping the nutrient status of 1: 50,000, has just been implemented in several districts in the northern coast, West Java, so it is still a lot of paddy fields in Indonesia is not yet mapped the soil nutrient status. Methods of nutrient status of wetland mapping undertaken to date is the grid method. The use of these methods require long and expensive, because they have to explore all areas of mapping and the number of soil samples are analyzed very much. In order for the mapping of wetland nutrient status throughout Indonesia can be resolved, there needs to accelerate efforts, including using a mapping method that quickly and efficiently and accurately. One alternative method of mapping the acceleration of nutrient status that can be used to delineate the unit is utilizing the analyzed digital maps based on GIS (Geographic Information System). Elements that form the basis delineation map unit are: the shape/slope, form fields (or not diteras diteras), parent material/lithology, source of irrigation water and fertilizer management levels are used in a region. Elements of the shape/slope derived from DEM (SRTM or digital topographic maps), form fields derived from satellite imagery, the parent material/lithology obtained from geological maps, the source of irrigation water obtained from Topographic maps of Indonesia (RBI) and the Agriculture Department acquired the management of local . In this way, then (1). Delineation map unit can be performed quickly and covers a wide area, (2). Field explorations conducted a minimum and (3). The number of soil samples that were analyzed can be minimized. The purpose of this paper is to discuss one method of mapping the nutrient status (P, K and C-organic) paddy field in an effort to accelerate the mapping of wetland nutrient status in Indonesia in the semi detail scale (1:50,000).

Keywords: Acceleration mapping, nutrient status, wetland.

Diterbitkan pada Prosiding Seminar Nasional Teknologi Pemupukan dan Pemulihan Lahan Terdegradasi. Hal. 141-149. Penyunting: Wigena et al. Bogor, 29-30 Juni 2012. Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian, Kementerian Pertanian. 2012

Hubungi Kami

Slogan Agro Inovasi

 
 
 

 

SCIENCE . INNOVATION . NETWORKS

Balai Penelitian Tanah
Jl. Tentara Pelajar No.12 Bogor Jawa Barat 16114 Indonesia
balittanah@litbang.pertanian.go.id Telp :+622518336757
Fax :+622518321608; +622518322933