Simple Responsive Menu

1 | 2 | 3 | 4 | 5 | 6 | 7 | 8 | 9 | 10 | 11

TEKNOLOGI PENGELOLAAN LAHAN GAMBUT BERKELANJUTAN

Didi A. Suriadikarta

Abstrak. Luas lahan rawa Indonesia ± 33,4 juta ha, yang terdiri dari lahan rawa pasang surut sekitar 20 juta ha dan lahan lebak 13,4 juta ha. lahan pasang surut yang telah direklamasi 3,84 jua ha yang terdiri dari 0,94 juta ha oleh pemerintah dan sisanya oleh swadaya masyarakat. Lahan rawa di Irian Jaya (Papua) sampai saat ini masih belum dibuka untuk pertanian. Kegagalan program PLG sejuta ha hendaknya dijadikan pembelajaran berharga dalam pengembangan lahan rawa, khususnya lahan gambut. Oleh karena itu pemerintah telah menunjukan melakukan berbagai langkah untuk pengelolaan lahan PLG tersebut. Lahan rawa adalah lahan yang sepanjang tahun, atau selama waktu yang panjang dalam setahun, selalu jenuh air (saturated water), atau tergenang (waterlogged) air dangkal. Pada lahan rawa umumnya dijumpai tanah mineral dan tanah gambut. Teknologi pengelolaan lahan rawa antara lain adalah teknologi pengelolaan tanah dan air (tata air mikro dan penataan lahan), teknologi ameliorasi tanah dan pemupukan, penggunaan varietas yang adaptif, teknologi pengendalian hama dan penyakit, pengembangan Alsintan, serta pemberdayaan kelembagaan petani. Kawasan Lahan Gambut satu juta ha eks PLG di kalimantan Tengah, mempunyai potensi untuk dikembangkan sebagai kawasan budidaya pertanian, dan kawasan konservasi yang berlandaskan kepada Keppres no 32 tahun 1990, dan Keppres no 80 tahun 1999, dan Undang-undang no. 26, tahun 2007. Kawasan budidaya pertanian dilaksanakan pada kawasan gambut < 3 m yang dapat dikembangkan untuk lahan sawah, perkebunan, perikanan, dan hutan tanaman industri (HTI), yang berdasarkan kepada kriteria kesesuaian lahan. Kawasan konservasi berada pada wilayah gambut dengan ketebalan > 3 m dan juga daerah-daerah tertentu yang mempunyai keanekaragaman hayati (flora dan fauna), dan dibawah gambut lapisan sulfidik dan atau pasir kuarsa. Pembukaan lahan gambut harus dilakukan melalui perencanaan yang matang, dan hati-hati, karena lahan pasang surut merupakan lahan yang rapuh (fragile) mudah berubah dan tidak bisa dikembalikan ke alam aslinya. Karena itu dibutuhkan data biofisik lingkungan yang lengkap, bukan sekadar asumsi, dan perlu ditunjang dengan analisa dampak lingkungan yang handal. Pemahaman terhadap kondisi sosial budaya masyarakat lokal perlu dipertimbangkan dalam perencanaan dan program aksi.

Katakunci: teknologi, pengelolaan lahan, gambut, berrkelanjutan

Diterbitkan pada Prosiding Seminar Nasional Pengelolaan Lahan Gambut Berkelanjutan. Bogor, 4 Mei 2012. Penyunting: Husen et al. Halaman 197-211. Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian. Kementerian Pertanian. 2012.

Hubungi Kami

Slogan Agro Inovasi

 
 
 

 

SCIENCE . INNOVATION . NETWORKS

Balai Penelitian Tanah
Jl. Tentara Pelajar No.12 Bogor Jawa Barat 16114 Indonesia
balittanah@litbang.pertanian.go.id Telp :+622518336757
Fax :+622518321608; +622518322933