Simple Responsive Menu

1 | 2 | 3 | 4 | 5 | 6 | 7 | 8 | 9 | 10 | 11

FAKTOR PENDUGA SIMPANAN KARBON PADA TANAH GAMBUT

Ai Dariah, Erni Susanti, Anny Mulyani, dan Fahmuddin Agus

Abstrak. Pengukuran simpanan karbon pada lahan gambut penting dilakukan selain untuk menginventarisasi besarnya simpanan karbon, juga untuk monitoring besarnya perubahan simpanan karbon sebagai dampak perubahan sistem pengelolaan lahan. Selama ini simpanan karbon pada lahan gambut ditetapkan berdasarkan data yang didapat dari hasil pengamatan dan pengukuran langsung di lapangan (khususnya untuk parameter kedalaman atau ketebalan lapisan gambut) dan hasil analisis di laboratorium (untuk bulk density, kadar air, dan kadar karbon). Untuk mendapatkan keseluruhan data tersebut dibutuhkan waktu dan biaya pengamatan, pengambilan sample dan analisis laboratorium yang relatif lama dan mahal. Adanya hubungan yang erat antara beberapa variable tertentu seperti ketebalandan kematangan gambut dengan besarnya simpanan karbon membuka peluang untuk dapat menduga atau memprediksi besarnya simpanan karbon di lahan gambut. Penelit ian ini bertujuan untuk menentukan faktor penduga (proxy) simpanan karbon dalam tanah gambut. Penentuan faktor penduga simpanan karbon dilakukan dengan menggunakan data hasil pengamatan gambut di Pulau Sumatera dan Kalimantan. Berdasarkan data hasil pengamatan dan analisis gambut di 248 titik pengamatan di Pulau Sumatera (Aceh, Jambi, dan Riau) dan Pulau Kalimantan (Kalimantan Tengah, Kalimantan Barat, dan Kalimantan Selatan) menunjukkan hubungan antara kedalaman gambut dan simpanan gambut dalam bentuk persamaan sebagai berikut : Y=5,534X, dimana Y=simpanan C (tha-1), X=kedalaman/ketebalan gambut (cm), dengan nilai R2=0,68. Selain kedalaman gambut, faktor lainnya yang dominan menentukan besarnya simpanan C dalam tanah gambut adalah kematangan gambut. Semakin matang gambut,simpanan C per volume tertentu (C-density) semakin tinggi, rata-rata kandungan karbon dalam tanah gambut dengan kematangan fibrik, hemik, dan saprik berturut -turut adalah 0,049, 0,061, dan 0,084 t m-3. Lebih tingginya kerapatan C pada gambut yang lebih matang lebih dominan dipengaruhi BD gambut. Selain karena proses pematangan gambut, perubahan BD gambut juga bisa disebabkan oleh konsolidasi bahan gambut akibat proses drainase atau adanya perubahan beban/tekanan di permukaan gambut. Oleh karena itu, dalam monitoring emisi berdasarkan pengurangan ketebalan gambut (subsidance), perubahan tingkat kematangan dan BD merupakan faktor yang penting untuk diamat i.

Katakunci: Simpanan, karbon, gambut

Abstract. Measurement of carbon stock in peatlands is required in addition to inventory the amount of carbon stock, as well as for monitoring changes in carbon stocks as a result of changes in land management system. Carbon stock in peatlands are usually measured based on data obtained from direct observations and measurements in the field (especially for depth or thickness of peat layer) and the results of laboratory analysis (for bulk density, moisture and carbon content). To obtain these data takes a relatively long time and costs (observations, sampling, and laboratory analysis) are relatively expensive. The relationship between some specific variables such as thickness and maturity of the peat with the magnitude of carbon stock opportunities in order predict amount of carbon stock in peatlands. This study aims to determine the factors probe (proxy) of carbon stock in peatland. Determination of carbon storage estimators performed using the data of observations of peat in Sumatra and Kalimantan. Based on the observations and analysis of peat at 248 observation points Sumatra Island (Aceh, Jambi and Riau) and Kalimantan Island (Central Kalimantan, West Kalimantan and South Kalimantan) shows the relationship between the depth of peat and peat deposits in the form of the equation as follows: Y = 5.534 X, where Y = savings C (t ha-1), X = depth / thickness of the peat (cm), with a value of R2 = 0.68. Another factor which determines the C deposit in peat deposits is the maturity of the peat. The average content carbon content in peat soils with a maturity fibrik, hemik, and Saprik respectively 0.049, 0.061, and 0.084 t m-3. C density is higher in more mature peat. C density of peat predominantly influenced by BD. In addition to its maturation process of peat, change of BD can also be caused by the consolidation of the peat material as a result of the drainage process or change in the load/pressure at the surface of the peat . There fore, the monitoring of emissions by reducing the thickness of the peat (subsidance), then change the level of maturity and BD is an important factor to be observed.

Keywords: stock, carbon, peat, proxy

Diterbitkan pada Prosiding Seminar Nasional Pengelolaan Lahan Gambut Berkelanjutan. Bogor, 4 Mei 2012. Penyunting: Husen et al. Halaman 213-221. Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian. Kementerian Pertanian. 2012.

Hubungi Kami

Slogan Agro Inovasi

 
 
 

 

SCIENCE . INNOVATION . NETWORKS

Balai Penelitian Tanah
Jl. Tentara Pelajar No.12 Bogor Jawa Barat 16114 Indonesia
balittanah@litbang.pertanian.go.id Telp :+622518336757
Fax :+622518321608; +622518322933