Simple Responsive Menu

1 | 2 | 3 | 4 | 5 | 6 | 7 | 8 | 9 | 10 | 11

EFISIENSI PENGGUNAAN AIR BERBAGAI TEKNIK IRIGASI UNTUK PERTANAMAN CABAI
DI LAHAN KERING PADA TYPIC KANHAPLUDULT LAMPUNG

Umi Haryati, A. Abdurachman, dan K. Subagyono

ABSTRAK

Untuk mengatasi masalah kekurangan air dalam rangka meningkatkan produktivitas lahan kering tanpa merusak sumberdaya alam, diperlukan teknologi pengelolaan irigasi yang efektif dan efisien. Teknologi tersebut merupakan kombinasi antara pemberian air yang optimal, teknik irigasi yang efisien dan teknik konservasi air. Pemanfaatan mulsa sisa tanaman yang ditujukan untuk meningkatkan kapasitas tanah menahan air dan mengurangi kehilangan air melalui evaporasi, mampu memperpanjang batas kritis penurunan air tersedia dan meningkatkan efisiensi penggunaan air (water use efficiency=WUE). Penelitian bertujuan untuk: 1) Mengkaji berbagai teknik irigasi yang menghasilkan efisiensi penggunaan air yang optimal, 2) Menganalisis pengaruh mulsa jerami terhadap efisiensi penggunaan air pada berbagai teknik irigasi. Penelitian dilaksanakan di KP Tamanbogo, Lampung Timur pada MK 2006. Rancangan percobaan yang digunakan adalah petak terpisah dengan 3 ulangan. Petak utama teknik irigasi (I1 = gelontor/surface irrigation, I2 = tetes/drip irrigation, I3 = curah/sprinkle irrigation, I4 = bawah permukaan /subsurface drip irrigation), sedangkan anak petak dosis mulsa jerami (M1 = tanpa mulsa, M2 = 5 t/ha dan M3 =10 t/ha). Tanaman indikator yang digunakan adalah cabai (capsicum annum) varietas TM 99. Urea, SP-36, KCl dan pupuk kandang diberikan dengan takaran masing-masing 300, 150, 100 kg/ha, dan 10 t/ha. Variabel yang diamati meliputi kadar air tanah, pertumbuhan dan hasil tanaman, serta volume dan frekuensi pemberian air. Hasil penelitian menunjukkan bahwa teknik irigasi gelontor dan bawah permukaan memberikan total produksi cabai yang lebih tinggi dibandingkan teknik curah dan tetes. Mulsa jerami meningkatkan hasil cabai pada setiap teknik irigasi kecuali teknik bawah permukaan. Keeratan hubungan dosis mulsa jerami dan produksi diperlihatkan oleh adanya nilai koefisien determinasi yang tinggi (>0,50), kecuali pada teknik irigasi bawah permukaan. Neraca air di zone perakaran memperlihatkan bahwa tidak terdapat perubahan cadangan air (ΔS) yang terlalu berbeda untuk setiap teknik irigasi, sehingga air yang digunakanpun tidak berbeda. Teknik irigasi bawah permukaan memberikan efisiensi penggunaan air yang paling tinggi (0, 78 kg/m3 ) diikuti oleh teknik irigasi gelontor (0,73 kg/m3), curah (0,62 kg/m3) dan tetes (0,60 kg/m3). Dengan demikian teknik irigasi tetes bawah permukaan (sub-surface drip irrigation = SSDI) dan gelontor merupakan teknik irigasi yang hemat air karena memberikan efisiensi penggunaan air yang lebih tinggi dibandingkan teknik irigasi lainnya. Sejalan dengan pengaruh mulsa terhadap produksi cabai, maka pemberian mulsa jerami meningkatkan WUE pada setiap teknik irigasi kecuali teknik irigasi bawah permukaan. Hal ini juga diperlihatkan oleh adanya keeratan hubungan antara dosis mulsa jerami dengan WUE pada setiap teknik irigasi. Untuk itu penggunaan teknik irigasi terutama teknik irigasi gelontor, tetes dan curah sebaiknya dilakukan secara simultan dengan penggunaan mulsa sisa tanaman agar dicapai WUE yang lebih tinggi.

Makalah diterbitkan pada Prosiding Seminar Nasional Sumberdaya Lahan Pertanian. Bogor, 30 November - 1 Desember 2010. Buku III: Pengelolaan Air, Iklim dan Rawa. Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Sumberdaya Lahan Pertanian. Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian, Kementerian Pertanian.

Hubungi Kami

Slogan Agro Inovasi

 
 
 

 

SCIENCE . INNOVATION . NETWORKS

Balai Penelitian Tanah
Jl. Tentara Pelajar No.12 Bogor Jawa Barat 16114 Indonesia
balittanah@litbang.pertanian.go.id Telp :+622518336757
Fax :+622518321608; +622518322933