Simple Responsive Menu

1 | 2 | 3 | 4 | 5 | 6 | 7 | 8 | 9 | 10 | 11

KEHILANGAN UNSUR HARA AKIBAT PEMBAKARAN JERAMI PADI DAN POTENSI PENCEMARAN LINGKUNGAN

Husnain

PENDAHULUAN

Jerami padi merupakan salah satu sumber bahan organik yang sangat aksesible bagi petani. Ini berarti jerami banyak tersedia, mudah diperoleh dan tidak mahal. Jerami sudah dikenal sebagai sumber unsur hara K dan Si serta sejumlah kecil unsur-unsur hara lainnya. Menurut Ma dan Takahashi  (1991), jerami padi mengandung SiO2 antara 1,7 hingga 9,3% sementara itu Tanaka (1978) melaporkan bahwa kandungan K dalam jerami padi bervariasi antara 1 hingga 3%. Dengan mengomposkan jerami dan mengaplikasikannya kembali maka sebagian unsur hara yang terkandung dalam jerami dapat dikembalikan ke dalam tanah. Jerami padi diketahui mengandung unsur K dan Si dalam jumlah cukup tinggi. Dengan demikian kebutuhan K dan Si dalam jumlah cukup besar dapat berasal dari jerami padi.

Potensi jerami padi di Indonesia sangat besar dari segi kuantitas yaitu 77 juta ton dari hasil panen padi (BPS, 2008). Jumlah jerami sebesar tersebut sangat potensial untuk dapat digunakan sebagai bahan baku amelioran tanah, pakan ternak atau sebagai media perkembangbiakan jamur. Namun demikian karena kandungan silika yang tinggi sehingga jerami tidak terlalu disukai sebagai pakan ternak. Sebagai akibatnya sebagian besar jerami padi menjadi bahan terbuang sehingga terpaksa dibakar.

Pembakaran jerami ini dapat bertujuan untuk mempercepat persiapan atau pengolahan tanah untuk masa tanam berikutnya dan di beberapa daerah bahkan bertujuan untuk menghindari penyebaran hama dan penyakit yang menyebar. Dengan tingginya intensitas pertanaman padi maka tidak lagi tersedia waktu yang cukup untuk jerami melapuk di tanah. Namun demikian pembakaran jerami mengakibatkan sebagian unsur hara hilang terutama unsur-unsur hara mudah menguap (volatile) dan unsur hara lain yang menjadi tidak tersedia bagi tanaman. Pembakaran jerami tidak hanya menjadi tradisi petani padi sawah di Indonesia tetapi juga di banyak negara Asia penghasil padi lainnya seperti China, Vietnam, Thailand, dan lain-lain.

Pembakaran jerami tidak hanya menyebabkan sebagian unsur hara hilang, tetapi juga polusi udara sekitar dan gangguan kesehatan petani dan masyarakat sekitar. Hingga saat ini belum ada informasi berupa hasil penelitian kehilangan unsur hara akibat pembakaran jerami secara kuantitatif. Sementara itu, kehilangan unsur hara tanpa dibarengi oleh pengembalian unsur-unsur tersebut ke dalam tanh akan mengakitabkan ketidakseimbangan neraca hara dalam tanah sehingga akan menurunkan tingkat kesuburan tanah dan berujung pada penurunan produksi dan produktivitas tanaman. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui seberapa besar kehilangan unsur hara akibat pembakaran jerami.

Makalah diterbitkan pada Prosiding Seminar Nasional Sumberdaya Lahan Pertanian. Bogor, 30 November - 1 Desember 2010. Buku II: Konservasi Lahan, Pemupukan, dan Biologii Tanah. Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Sumberdaya Lahan Pertanian. Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian, Kementerian Pertanian.

Hubungi Kami

Slogan Agro Inovasi

 
 
 

 

SCIENCE . INNOVATION . NETWORKS

Balai Penelitian Tanah
Jl. Tentara Pelajar No.12 Bogor Jawa Barat 16114 Indonesia
balittanah@litbang.pertanian.go.id Telp :+622518336757
Fax :+622518321608; +622518322933