Simple Responsive Menu

1 | 2 | 3 | 4 | 5 | 6 | 7 | 8 | 9 | 10 | 11

NERACA HARA N, P, DAN K PADA PENGELOLAAN HARA TERPADU LAHAN SAWAH
BERMINERAL LIAT CAMPURAN DAN 1:1

A. Kasno, Nurjaya, dan D.A. Suriadikarta
Balai Penelitian Tanah, Bogor

ABSTRAK

Beras merupakan makanan pokok bangsa Indonesia dan jumlahnya semakin meningkat dengan semakin meningkatnya jumlah penduduk dan beralihnya orang yang biasa makan jagung, sagu dan singkong makan beras. Peningkatan produksi beras dapat dilakukan dengan pemupukan berimbang yang mempertimbangkan neraca hara. Neraca hara adalah perimbangan jumlah hara yang ditambahkan (input) dengan jumlah hara yang dikeluarkan dari sistem produksi (output). Penelitian bertujuan untuk mempelajari neraca hara N, P, dan K pada pengelolaan hara terpadu lahan sawah bermineral liat campuran dan 1:1 di rumah kaca. Penelitian dilakukan dengan menggunakan contoh tanah bulk yang di ambil pada lahan sawah dari Desa Bakung, Cirebon dan Metro, Lampung Tengah. Percobaan menggunakan Rancangan Acak Kelompok, 10 perlakuan dan tiga ulangan. Berat contoh tanah yang digunakan 7,5 kg, dan air yang digunakan untuk menyiran adalah air bebas ion. Perlakuan merupakan kombinasi pupuk anorganik (urea, SP-36, KCl, ZA, pupuk mikro Cu dan Zn), dolomit dan bahan organik (jerami dan pupuk kandang) dan dolomit. Jerami diberikan dengan dosis 5 t/ha, pupuk kandang dengan dosis 2 dan 10 t/ha. Pupuk urea diberikan dengan dosis 300 kg/ha, pupuk ZA 42 kg/ha, pupuk SP-36 dan KCl adalah 100 dan 80 kg/ha, pupuk Mg dan Ca diberikan dalam bentuk dolomit dengan dosis 20 kg Mg/ha. Pemupukan Zn diberikan dengan cara mencelupkan bibit padi yang siap tanam ke dalam larutan 0,05% ZnSO4 selama lima menit. Pupuk mikro Cu diberikan dalam bentuk CuSO4 dengan dosis 5 kg/ha. Pada tanah bermineral liat 1:1, dosis pupuk SP-36 dan KCl diberikan dengan dosis 100 dan 120 kg/ha. Perhitungan neraca hara dihitung dengan mengurangi jumlah hara yang ditambahkan (input) dengan jumlah hara yang dikeluarkan dari sistem produksi (output). Hasil penelitian menunjukkan bahwa kandungan kation pada tanah bertipe liat campuran lebih tinggi, dan ber pH lebih tinggi, kadar C-organik dan N-total sama. Berat gabah kering panen pada tanah bertipe liat campuran juga lebih tinggi, hal ini berarti tanah bertipe liat campuran berpotensi hasil lebih tinggi dibandingkan tanah bertipe liat 1:1. Penambahan jerami 5 t/ha cukup untuk menggantikan dosis pupuk K sesuai status hara tanah pada tanah bertipe liat 1:1, dan tidak dapat menggantikan pada tanah bertipe liat campuran. Pada kedua tanah, penambahan 10 t pupuk kandang/ha tidak dapat meningkatkan berat gabah kering panen dibandingkan perlakuan pemupukan NPK. Neraca hara N pada tanah bertipe liat campuran negatif, hara P dan K positif pada perlakuan 10 t pupuk kandang/ha. Neraca hara N dan P pada tanah bertipe liat 1:1 juga negatif, hara K positif. Penambahan 5 t jerami/ha dan 10 t pupuk kandang/ha juga dapat membuat neraca hara N dan P positif. Hal ini menunjukkan bahwa tidak semua hara yang terkandung dalam bahan organik langsung dapat diserap oleh tanaman.

Makalah diterbitkan pada Prosiding Seminar dan Lokakarya Nasional Inovasi Sumberdaya Lahan, Bogor, 24-25 Nopember 2009 Buku II: Teknologi Konservasi, Pemupukan, dan Biologi Tanah. Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Sumberdaya Lahan Pertanian. Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian, Kementerian Pertanian

Hubungi Kami

Slogan Agro Inovasi

 
 
 

 

SCIENCE . INNOVATION . NETWORKS

Balai Penelitian Tanah
Jl. Tentara Pelajar No.12 Bogor Jawa Barat 16114 Indonesia
balittanah@litbang.pertanian.go.id Telp :+622518336757
Fax :+622518321608; +622518322933