Simple Responsive Menu

1 | 2 | 3 | 4 | 5 | 6 | 7 | 8 | 9 | 10 | 11

KECEPATAN DEKOMPOSISI BIOMASSA DAN AKUMULASI KARBON PADA KONVERSI LAHAN GAMBUT
MENJADI PERKEBUNAN KELAPA SAWIT

Maswar
Balai Penelitian Tanah, Bogor

ABSTRAK

Hubungan antara isu-isu tentang karbon dengan pengelolaan gambut di Indonesia menjadi semakin penting, Hal ini salah satunya akibat dari konversi lahan gambut untuk perluasan perkebunan kelapa sawit yang menurut perkiraan melepaskan 2 miliar ton karbon ke atmosfer setiap tahunnya, sehingga menempatkan Indonesia menjadi pembuang emisi karbon ketiga terbesar di dunia setelah AS dan Cina. Berkaitan dengan masalah ini telah dilakukan penelitian yang bertujuan menghitung karbon yang hilang dan terakumulasi dan emisi gas rumah kaca (GRK) pada perkebunan kelapa sawit di lahan gambut. Penelitian dilaksanakan mulai bulan Mei 2008 sampai dengan Agustus 2009, pada perkebunan kelapa sawit rakyat di Desa Suak Raya, Kecamatan Johan Pahlawan, kabupaten Aceh Barat. Sebanyak enam kantong serasah (litter bag) yang berisi biomassa dari tumbuhan yang dominan pada lokasi tersebut yaitu pelepah dan daun kelapa sawit (Elaeis guinensis Jacg.), Melastoma malabatricum dan Cycas sp., masing-masing sebanyak 100 g (berdasar berat kering oven) diletakkan dipermukaan tanah gambut (pada lapisan oksidasi) untuk mengetahui kecepatan dekomposisi, kehilangan karbon serta emisi gas CO2 selama proses dekomposisi berlangsung. Hasil penelitian menunjukkan bahwa setelah 14 bulan proses dekomposisi berlangsung biomassa yang tersisa adalah sebanyak 12,45, 16,93, dan 74,57% masing-masing untuk Melastoma malabatricum, Elaeis guinensis Jacg dan Cycas sp. secara berturut-turut. Sementara itu, setiap kilogram biomassa mengalami kehilangan karbon sebanyak 470,2 g C; 464,0 g C, dan 109,2 g C masing-masing untuk Melastoma malabatricum, Elaeis guinensis Jacg. dan Cycas sp. secara berturut-turut. Dari setiap kilogram biomassa yang terdekomposisi ini akan mengemisikan GRK sekitar 1,73 kg CO2; 1,70 kg CO2 dan 0,40 kg CO2 /tahun, masing-masing untuk Melastoma malabatricum, Elaeis guinensis Jacg. dan Cycas sp. secara berturut-turut. Sedangkan potensi karbon yang dapat dikembalikan ke lahan setiap tahunnya adalah berkisar antara 1,40-1,86 t C/ha dari pelepah dan daun sawit dan 7,99-10,37 t C/ha dari biomassa gulma. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa walaupun terjadi proses dekomposisi biomassa yang dikembalikan ke lahan gambut, namun setiap tahunnya masih ada bahan organik tersisa yang dapat dijadikan sebagai sumber cadangan karbon pada lahan gambut yang dikonversi menjadi perkebunan kelapa sawit.

Makalah diterbitkan pada Prosiding Seminar dan Lokakarya Nasional Inovasi Sumberdaya Lahan, Bogor, 24-25 Nopember 2009 Buku II: Teknologi Konservasi, Pemupukan, dan Biologi Tanah. Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Sumberdaya Lahan Pertanian. Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian, Kementerian Pertanian

Hubungi Kami

Slogan Agro Inovasi

 
 
 

 

SCIENCE . INNOVATION . NETWORKS

Balai Penelitian Tanah
Jl. Tentara Pelajar No.12 Bogor Jawa Barat 16114 Indonesia
balittanah@litbang.pertanian.go.id Telp :+622518336757
Fax :+622518321608; +622518322933