Simple Responsive Menu

1 | 2 | 3 | 4 | 5 | 6 | 7 | 8 | 9 | 10 | 11

DINAMIKA HARA N PADA LAHAN SAWAH INTENSIFIKASI BERMINERAL LIAT DOMINAN 2:1

I. Adamy Sipahutar dan A. Kasno
Balai Penelian Tanah, Bogor

ABSTRAK

Padi merupakan makanan pokok rakyat Indonesia yang memiliki nilai strategis dalam keamanan pangan nasional. Laju kenaikan produksi padi cenderung mengalami stagnasi, karena sistem pengelolaan hara yang belum maksimal. Untuk meningkatkan produksi padi dan efisiensi pemupukan N maka penerapan teknologi pemupukan terpadu mutlak dibutuhkan, melalui pemanfaatan pupuk organik berupa pupuk kandang sapi dan jerami yang dikombinasikan dengan pupuk anorganik (N, P, dan K) sebagai mana yang tertuang dalam Permentan No. 40/OT.140/04/2007. Sifat N yang mobil dan mudah berubah merupakan faktor penyebab rendahnya efisiensi pemupukan N, hal inilah yang mendorong dilakukannya penelitian dinamika hara N pada lahan sawah intensifikasi bermineral liat dominan 2:1. Telah dilakukan penelitian di Ngawi, Jawa Timur, dari Juli-Oktober 2009. Rancangan percobaan adalah rancangan acak kelompok (randomize complete block design), lima perlakuan dan diulang tiga kali, ukuran petak 5 x 5 m. Perlakuan terdiri atas (1) Kontrol (2) NPK, (3) NP + 5 t/ha jerami, (4) NPK + 2 t/ha pukan, (5) NPK + 2 t/ha pukan + 5 t/ ha jerami. Total pemberian urea 200 kg/ha, 100 kg diberikan pada saat padi berumur 2 MST dan 100 kg lagi pada 7 MST. SP-36 (75 kg/ha) dan KCl (75 kg/ ha) diberikan sehari sebelum tanam dengan cara disebar di atas permukaan petakan. Jerami diberikan dua minggu sebelum tanam dan pukan sapi satu minggu sebelum tanam. Bibit padi varietas Adirasa-1 berumur 14 hari ditanam dengan sistem jajar legowo 2:1 (15 cm - 35 cm x 20 cm). Perubahan dan pergerakan N diamati pada kedalaman 0-25 cm, 25-50 cm, 50-75 cm, 75-100 cm, pada 14, 18, 21, 35 HST dan menjelang primordia. Hasil penelitian menunjukkan pemberian pupuk kandang sapi dan jerami cenderung meningkatkan kadar N-NH4+ tanah dan air petakan tiga hari setelah pemupukan urea, kenaikan kadar N-NH4+ terbesar terjadi pada perlakuan NPK + 2 t/ha pukan + 5 t/ha jerami sebesar 63,48%, diikuti perlakuan NPK + 2 t/ha pukan (49,87%) dan NP + 5 t/ha jerami (8,71%). Ada kecenderungan bahwa semakin dalam lapisan tanah semakin sedikit kadar N-NO3- yang terukur. Perlakuan tidak berpengaruh nyata terhadap perubahan pH tanah. Jumlah anakan padi tertinggi pada saat menjelang primordia diperoleh pada perlakuan NPK + 2 t/ha pukan + 5 t/ha jerami (23,00) sedangkan tinggi tanaman tertinggi pada perlakuan NP + 2 t/ ha jerami (72,65 cm) dan terendah pada kontrol (58,67 cm).

Makalah diterbitkan pada Prosiding Seminar dan Lokakarya Nasional Inovasi Sumberdaya Lahan, Bogor, 24-25 Nopember 2009 Buku II: Teknologi Konservasi, Pemupukan, dan Biologi Tanah. Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Sumberdaya Lahan Pertanian. Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian, Kementerian Pertanian.

Hubungi Kami

Slogan Agro Inovasi

 
 
 

 

SCIENCE . INNOVATION . NETWORKS

Balai Penelitian Tanah
Jl. Tentara Pelajar No.12 Bogor Jawa Barat 16114 Indonesia
balittanah@litbang.pertanian.go.id Telp :+622518336757
Fax :+622518321608; +622518322933