Simple Responsive Menu

1 | 2 | 3 | 4 | 5 | 6 | 7 | 8 | 9 | 10 | 11

TEKNOLOGI PENGELOLAAN HARA TERPADU TERHADAP NERACA HARA N, P, DAN K
PADA VARIETAS PADI VUTB LAHAN SAWAH BERMINERAL DOMINAN LIAT 2:1 (MONSMORILONITIK)

D.A. Suriadikarta dan A. Kasno
Balai Penelitian Tanah, Bogor

ABSTRAK

Pada TA 2008 telah dilaksanakan penelitian neraca hara sistem pengelolaan hara terpadu pada lahan sawah bermineral liat dominan 2:1. Pemilihan pengelolaan hara yang baik didasarkan perhitungan neraca hara atau perhitungan hara yang masuk dan keluar dari sawah. Rancangan percobaan yang digunakan adalah rancangan acak kelompok (Randomized Complete Block Design) dengan tiga ulangan. Perlakuan terdiri atas kombinasi pupuk anorganik dan organik. Takaran pupuk SP-36 disesuaikan dengan status hara P tanah, takaran pupuk N diberikan dengan bantuan Bagan Warna Daun (BWD) yang dimulai umur 21 HST, selanjutnya dimonitor setiap 7-10 hari. Pemupukan urea pertama diberikan dengan takaran 100 kg/ha. Percobaan dilaksanakan di Cirebon, Jawa Barat. Kombinasi perlakuan untuk lahan sawah bermineral liat dominan 2:1 (monsmorilonitik) adalah: (1) Partial Kontrol (tanpa P, dan K), (2) NPK, (3) NP + 5 t jerami/ha, (4) NK(P dari pupuk kandang setara takaran P/ha,(5) NPK( P dari pupuk kandang setara takaran P) + K dari 5 t jerami/ha, (6) NPK + S (ZA) (7) NPK + (Ca+Mg) + SZA. Bahan organik berupa jerami sisa hasil panen diberikan dengan takaran 5 t/ha dan pupuk kandang diberikan dengan setara takaran P/ha (2 t pupuk kandang/ha). Lahan sawah yang digunakan berstatus P dan K tinggi, takaran pupuk SP-36 dan KCl ditetapkan 100 dan 80 kg/ha. Pupuk ZA diberikan sebagai sumber hara S dengan takaran 10 kg S/ha. Pupuk Mg dan Ca diberikan dalam bentuk dolomit dengan takaran 20 kg Mg/ha. Kelas mineralogi lokasi percobaan adalah mineral campuran dengan dominasi mineral smektit (banyak) dan kaolinit (sedang). Hasil penelitian menunjukan bahwa pengaruh perlakuan terhadap pertumbuhan tanaman tidak berbeda nyata, baik untuk tinggi tanaman maupun jumlah anakan. Namun pemupukan P dan K, baik dari pupuk anorganik (100 kg SP-36 dan 80 kg KCl/ha), maupun dari jerami dan pupuk kandang nyata meningkatkan berat gabah kering panen dan kering giling. Hal ini disebabkan kejenuhan hara K masih jauh di bawah kejenuhan K ideal untuk pertumbuhan tanaman, sehingga hara K baik dari pupuk anorganik dan bahan organik dapat meningkatkan berat gabah kering panen (GKP).

Makalah diterbitkan pada Prosiding Seminar dan Lokakarya Nasional Inovasi Sumberdaya Lahan, Bogor, 24-25 Nopember 2009 Buku II: Teknologi Konservasi, Pemupukan, dan Biologi Tanah. Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Sumberdaya Lahan Pertanian. Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian, Kementerian Pertanian.

Hubungi Kami

Slogan Agro Inovasi

 
 
 

 

SCIENCE . INNOVATION . NETWORKS

Balai Penelitian Tanah
Jl. Tentara Pelajar No.12 Bogor Jawa Barat 16114 Indonesia
balittanah@litbang.pertanian.go.id, balittanah.isri@gmail.com
Telp :+622518336757 Fax :+622518321608; +622518322933