Simple Responsive Menu

1 | 2 | 3 | 4 | 5 | 6 | 7 | 8 | 9 | 10 | 11

DIAGNOSIS KESEIMBANGAN HARA PADA TANAMAN KELAPA SAWIT
DI MAIN NURSERY MELALUI ANALISIS DAUN MENGGUNAKAN METODE DRIS

Nurjaya
Balai Penelitian Tanah, Bogor

ABSTRAK

Kelapa sawit merupakan salah satu komoditas perkebunan yang mempunyai nilai ekonomis tinggi. Dalam pengembangan perkebunan kelapa sawit ketersediaan bibit yang sehat dan berkualitas baik sangat menentukan produktivitas tanaman di kemudian hari. DRIS merupakan metode diagnosis terpadu berdasarkan analisis tanaman dapat menilai keseimbangan tanaman dan menentukan kebutuhan hara tanaman. Prinsip DRIS adalah menilai keseimbangan hara dalam tanaman dengan memperhatikan aspek tanah, tanaman, iklim, dan pengelolaan. Tujuan penelitian mentukan takaran optimum pupuk kalium pada tanaman kelapa sawit di main nursery dan mengidentifikasi keseimbnagan hara berdasarkan analisis daun pada berbagai taraf takaran pupuk kalium yang diberikan sampai umur sembilan bulan setelah tanaman di pembibitan. Perlakuan pemupukan menggunakan Rancangan Acak Kelompok yang terdiri atas empat perlakuan dengan ulangan sembilan kali. Perlakuan terdiri atas : kontrol, pemberian pupuk K (MOP) takaran 0,71 g/pohon, 1,42 g/pohon, dan 2,13 g/pohon. Parameter yang diamati yaitu tinggi tanaman, jumlah pelepah daun, diamter batang, bobot basah dan kering tanaman. Untuk mengetahui keseimbangan hara dengan metode DRIS terlebih dahulu harus menetapkan norm, std, dan CV. Tahap pertama melakukan pengambilan contoh daun pada tanaman kelapa sawit di main nursery yang menunjukkan pertumbuhan optimum menetapkan norm. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian pupuk K (MOP) memberikan respon yang nyata terhadap pertumbuhan tinggi tanaman, jumlah daun, diameter batang, bobot basah dan bobot kering tanaman bibit kelapa sawit di main nursery. Hasil diagnosis dengan diagram DRIS menunjukkan bahwa secara umum hara P menjadi pembatas utama selain N dan P. Sedangkan hasil diagnosis mengggunakan indeks DRIS pemberian pupuk MOP di bawah takaran anjuran (<1,41 g/pohon) hara P dan K mengalami kahat berat dengan urutan kebutuhan hara berturut-turut P>K>Mg>N, sedangkan pemberian pupuk MOP di atas takaran anjuran (2,13 g/pohon) hara Mg, N, dan K mengalami kahat berat sehingga urutan kebutuhan haranya menjadi Mg>N>K>P.

Makalah diterbitkan pada Prosiding Seminar dan Lokakarya Nasional Inovasi Sumberdaya Lahan, Bogor, 24-25 Nopember 2009 Buku II: Teknologi Konservasi, Pemupukan, dan Biologi Tanah. Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Sumberdaya Lahan Pertanian. Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian, Kementerian Pertanian.

Hubungi Kami

Slogan Agro Inovasi

 
 
 

 

SCIENCE . INNOVATION . NETWORKS

Balai Penelitian Tanah
Jl. Tentara Pelajar No.12 Bogor Jawa Barat 16114 Indonesia
balittanah@litbang.pertanian.go.id Telp :+622518336757
Fax :+622518321608; +622518322933