Simple Responsive Menu

1 | 2 | 3 | 4 | 5 | 6 | 7 | 8 | 9 | 10 | 11

Kondisi Biofisik dan Arahan Teknologi Konservasi Tanah Pada Perkebunan Kelapa Sawit
di Daerah Sungai Landak, Kabupaten Landak, Kalimantan Barat

S. H. Tala’ohu, D. Subardja, dan Alkasuma

ABSTRAK

Informasi kondisi biofisik lahan dapat memberikan gambaran tentang kendala pengelolaan lahan di suatu wilayah. Di areal perkebunan PT. Ichtiar Gusti Pudi di daerah Sungai Landak, Kabupaten Landak, Provinsi Kalimantan Barat terdapat lahan seluas 1.500 ha, telah ditanami kelapa sawit (berumur ± 14 bulan) pada tanah berpasir, merupakan sebagian dari lahan yang bermasalah. Arahan pengembangan kelapa sawit, rekomendasi teknologi pengelolaan lahan seperti teknik konservasi tanah diperlukan agar produktivitas lahan dapat ditingkatkan. Sehubungan dengan itu PT. IGP, bekerjasama dengan Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Sumberdaya Lahan Pertanian (BBSDLP) guna mengidentifikasi kondisi biofisik lahan dan arahan teknologi konservasi tanah dengan tujuan: mengidentifikasi kondisi biofisik lahan, teknik konservasi tanah eksisting, permasalahan yang dihadapi dan menyusun arahan teknologi konservasi tanah. Pengamatan menggunakan metode transek, pengecekan langsung di lapangan, pengambilan contoh tanah tidak terganggu dari 8 lokasi yang mewakili satu satuan tanah. Analisis BD, RPT, ukuran pori menggunakan metode yang dikembangkan oleg (Ricards and Fireman, (1943); Ricards, (1947). Hasil penelitian menunjukkan bahwa curah hujan ± 3.000 mm/tahun dan tanah peka erosi, telah terjadi erosi parit dengan kedalaman 25-75 cm. Penghambat utama pada ordo Spodosols adalah rendahnya kemampuan tanah memegang air, adanya lapisan spodik yang padat. Peningkatan kemampuan tanah memegang air, kelembaban tanah dapat dilakukan melalui pengelolaan bahan organik, pemberian pembenah tanah seperti zeolit. Pencegahan erosi, degradasi lahan dilakukan dengan cara menanam (Mucuna sp., yang berumur panjang; Calopogonium sp.; Peuraria javanica), pembuatan rorak mengikuti kontur. Di awal musim kemarau, pemberian mulsa disebar di sekitar pokok tanaman sawit muda guna mengurangi evaporasi, memelihara kelembapan tanah. Pembuatan saluran drainase, saluran pembuangan air untuk mencegah tergenangnya air di areal pertanaman, serta pada lahan yang agak miring saluran pembuangan air dilengkapi bangunan terjunan air dari kayu guna mencegah tergerusnya tanah.

Makalah diterbitkan pada Prosiding Seminar Nasional dan Dialog Sumberdaya Lahan Pertanian. Buku II: Teknologi Pengelolaan Sumberdaya Lahan. Bogor, 18-20 November 2008. Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Sumberdaya Lahan Pertanian. Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian, Departemen Pertanian

Hubungi Kami

Slogan Agro Inovasi

 
 
 

 

SCIENCE . INNOVATION . NETWORKS

Balai Penelitian Tanah
Jl. Tentara Pelajar No.12 Bogor Jawa Barat 16114 Indonesia
balittanah@litbang.pertanian.go.id Telp :+622518336757
Fax :+622518321608; +622518322933