Simple Responsive Menu

1 | 2 | 3 | 4 | 5 | 6 | 7 | 8 | 9 | 10 | 11

Pengelolaan Hara Terpadu pada Lahan Sawah
dalam Hubungannya Terhadap Inovasi Teknologinya Menunjang P2BN

M. Al-Jabri

ABSTRAK

Data analisis tanah awal dari contoh tanah komposit yan dianalisis di laboratorium sering terlambat, padahal percoban lapang harus secepatnya di lapang. Tujuan dari makalah karya tulis penelitian ilmiah review ini adalah mengevaluasi hasil penelitian pengelolaan hara terpadu lahan sawah tahun 2006 dan 2007 dalam hubungannya terhadap inovasi pengembangan teknologinya yang harus dipilih supaya produksi beras nasional (P2BN) dapat ditingkatkan. Kasus keterlambatan data analisis tanah awal, peneliti terpaksa mengambil jalan pintas menentukan perlakuan dari unsur hara tanpa melihat atau mempertimbangkan, apakah status ketersediaannya dibawah atau di atas batas kritisnya. Dalam kaitan ini, peneliti justru memberikan hampir semua unsur hara yang sebenarnya tidak harus diberikan, hal ini ditunjukkan data hasil analisis tanah yang terlambat diterima bahwa ketersediaan unsur hara umumnya di atas nilai batas kritisnya, sehingga tanaman tidak respon terhadap perlakuan yang diberikan. Solusi permasalahan keterlambatan hasil analisis awal dapat ditanggulangi dengan memberikan contoh tanah yang sudah siap dianalisis, dan peneliti langsung berkomunikasi dengan penanggungjawab laboratorium untuk memberi tahukan bahwa datanya untuk segera dianalisis, dan akan lebih baik lagi jika peneliti dan analis di laboratorium saling bekerjasama. Setelah data analisis laboratorium sudah diperoleh, kemudian peneliti mengevaluasi unsur-unsur apa saja yang nilainya masih di bawah atau sudah di atas nilai batas kritis dari tanaman yang diuji. Jika status ketersediannya di atas nilai batas kritisnya, maka tidak perlu diberikan. Review hasil penelitian pengelolaah hara terpadu dapat disimpulkan sebagai berikut: (1) Pemberian dolomit pada tanah sawah mineral masam berstatus P dan K sedang dan tinggi di Lampung berpengaruh terhadap peningkatan hasil gabah, selama Mg-dd lebih rendah dari nilai batas kritisnya, yaitu £ 0.44 cmol(+)-1; (2) Pemberian hara S pada tanah sawah mineral masam dan tanah sawah mineral basa tidak berpengaruh nyata terhadap peningkatan hasil gabah; (3) Peranan pupuk KCl yang diberikan pada tanah sawah mineral masam dan tanah sawah mineral basa dapat digantikan dengan jerami padi hasil panen; (4) Teknik perendaman bibit padi ke dalam larutan ZnSO4 0.05% selama 5 – 10 menit cenderung meningkatkan hasil gabah tanaman padi pada ke dua tipologi lahan sawah tersebut. Pada masa depan, penelitian pengelolaan hara terpadu pada lahan sawah sebaiknya, bahwa sebelum perlakuan diputuskan untuk dipilih, data analisis tanah awal harus tersedia lebih dahulu untuk mengetahui ketersediaan hara makro dan mikro secara pasti untuk pemilihan faktor pembatas pertumbuhan tanaman. Temuan inovasi teknologi pengelolaan hara adalah pembuatan formulasi pupuk spesifik lokasi untuk kondisi lapang yang mengandung unsur hara yang benar-benar diperlukan tanaman, dan dikombinasikan dengan pembenah tanah dan pupuk organik. kg

Makalah diterbitkan pada Prosiding Seminar Nasional dan Dialog Sumberdaya Lahan Pertanian. Buku II: Teknologi Pengelolaan Sumberdaya Lahan. Bogor, 18-20 November 2008. Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Sumberdaya Lahan Pertanian. Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian, Departemen Pertanian

Hubungi Kami

Slogan Agro Inovasi

 
 
 

 

SCIENCE . INNOVATION . NETWORKS

Balai Penelitian Tanah
Jl. Tentara Pelajar No.12 Bogor Jawa Barat 16114 Indonesia
balittanah@litbang.pertanian.go.id Telp :+622518336757
Fax :+622518321608; +622518322933