Simple Responsive Menu

Petunjuk Teknis

Membakar jerami dan sisa-sisa  tanaman lainnya sama dengan menyia-nyiakan unsur hara yang dikandung bahan organik tersebut. Pengembaliannya ke dalam tanah dalam bentuk kompos akan meningkatkan kandungan bahan organik tanah dan menghemat penggunaan pupuk.

Kebijaksanaan penghapusan subsidi pupuk telah mengakibatkan terjadinya kelangkaan pupuk-pupuk anorganik produksi pabrik di lapangan. Hal itu segera diatasi dengan kebijakan pemerintah melalui pintu terbuka dengan menumbuhkembangkan mekanisme pasar bagi pengadaan dan penyaluran pupuk. Kebijakan tersebut berakibat beredarnya pupuk anorganik merek-merek baru, baik impor maupun produksi dalam negeri yang mutu dan efektivitasnya belum diketahui. Pupuk baru yang beredar di pasaran dan sebagiannya belum memenuhi Standar Nasional Indonesia (SNI) dikenal dengan sebutan pupuk alternatif.

Dalam rangka penertiban dan pengawasan kualitas pupuk anorganik yang beredar di lapangan, Departemen Pertanian telah menerbitkan Surat Keputusan Menteri Pertanian No. 9/Kpts/TP.260/1/2003 tentang Persyaratan dan Tatacara Pendaftaran Pupuk Anorganik. Dalam keputusan tersebut ditetapkan bahwa semua pupuk anorganik yang akan diedarkan di pasaran harus mempunyai nomor pendaftaran.Uji mutu dan efektivitas pupuk diperlukan agar setiap pupuk yang beredar mempunyai mutu yang sesuai dengan standar dan efektif meningkatkan hasil tanaman. Dalam rangka mendukung terlaksananya pengujian mutu dan uji efektivitas ini diperlukan adanya standardisasi metode pengujian berupa petunjuk teknis metodologi pengujian efektivitas pupuk.

Prosedur analisis yang diberikan dalam petunjuk teknis ini adalah prosedur rutin untuk analisis tanah, tanaman, air dan pupuk yang dilakukan di laboratorium kimia Balai Penelitian Tanah. Disebut rutin karena jenis-jenis penetapan ini biasa diminta oleh para pengguna jasa baik praktisi maupun peneliti pertanian. Laboratorium kimia tanah merupakan bagian dari laboratorium tanah, Balai Penelitian Tanah selain laboratorium biologi, laboratorium penelitian, laboratorium fisika, dan laboratorium mineral. Laboratorium tanah telah terakreditasi oleh Komite Akreditasi Nasional, Badan Standardisasi Nasional sebagai laboratorium penguji mulai tahun 2004 di bawah No. LP-192-IDN.Analisis tanah memberikan data sifat fisika dan kimia serta status unsur hara di dalam tanah. Selain untuk uji tanah, analisis tanah juga diperlukan untuk klasifikasi tanah dan evaluasi lahan. Uji tanah digunakan dalam penelitian kesuburan agar dapat memberikan rekomendasi pemupukan untuk perbaikan kesuburan tanah dan peningkatan hasil pertanian. Analisis jaringan tanaman diperlukan untuk penelitian respon pemupukan, diagnosis penyakit yang disebabkan kekahatan atau keracunan unsur, dan rekomendasi pemupukan. Hasil analisis air dapat digunakan untuk penilaian kualitas air irigasi, tingkat erosi dan kuantitas pasokan atau intensitas pencucian hara dari suatu lahan. Analisis pupuk digunakan untuk uji mutu pupuk yang diperlukan dalam penelitian pertanian maupun perdagangan.

Prosedur analisis yang diberikan dalam petunjuk teknis ini adalah prosedur rutin untuk analisis tanah, tanaman, air dan pupuk yang dilakukan di Laboratorium Kimia Balai Penelitian Tanah. Disebut rutin karena jenis-jenis penetapan ini biasa diminta oleh para pengguna jasa baik praktisi maupun peneliti. Buku ini merupakan penyempurnaan dari petunjuk Teknis Analisis Kimia Tanah, Tanaman, Air, dan Pupuk yang diterbitkan tahun 2005. Laboratorium Kimia Tanah merupakan bagian dari Laboratorium Tanah, Balai Penelitian Tanah selain Laboratorium Biologi dan Laboratorium Fisika Tanah. Laboratorium kimia tanah telah terakreditasi oleh Komite Akreditasi Nasional (KAN), Badan Standardisasi Nasional (BSN) sebagai laboratorium penguji mulai tahun 2004 dengan No. LP-192-IDN.

Analisis tanah memberikan data sifat kimia, status unsur hara, serta sifat fisika tanah. Selain untuk uji tanah, analisis tanah juga diperlukan untuk klasifikasi tanah dan evaluasi lahan. Uji tanah digunakan dalam penelitian kesuburan agar dapat memberikan rekomendasi pemupukan untuk perbaikan kesuburan tanah dan peningkatan hasil pertanian. Analisis jaringan tanaman diperlukan untuk penelitian respon pemupukan, diagnosis penyakit yang disebabkan kekahatan atau keracunan unsur, dan rekomendasi pemupukan. Hasil analisis air dapat digunakan untuk penilaian kualitas air irigasi, tingkat erosi dan kuantitas pasokan atau intensitas pencucian hara dari suatu lahan. Analisis pupuk digunakan untuk uji mutu pupuk yang diperlukan dalam penelitian pertanian maupun industri pupuk.

Pertanian lahan kering umumnya memanfaatkan tanah yang mempunyai tingkat kesuburan rendah atau marginal dan mempunya kelerengan datar sampai curam, serta jenis tanah Ultisols dan Oxisols. Kedua jenis tanah tersebut di Indonesia menempati luas lahan sekitar 47,5-51,0 juta ha yang tersebar di Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, Maluku, Papua, dan Jawa. Lahan tersebut dikategorikan mempunyai sifat fisika tanah yang baik, namun tergolong peka terhadap erosi dan produktivitasnya sesungguhnya lebih rendah dari potensinya, sehingga diperlukan tindakan revitalisasi untuk meningkatkan produktivitasnya.

Secara ringkas buku ini menjelaskan penyebab terjadinya penurunan produktivitas lahan dan memberikan alternatif teknologi yang dapat digunakan untuk memulihkan kualitas lahan dimaksud serta dilengkapi dengan perencanaan usaha tani pada lahan kering terdegradasi.

Hubungi Kami

Slogan Agro Inovasi

 
 
 

 

SCIENCE . INNOVATION . NETWORKS

Balai Penelitian Tanah
Jl. Tentara Pelajar No.12 Bogor Jawa Barat 16114 Indonesia
balittanah@litbang.pertanian.go.id, balittanah.isri@gmail.com
Telp :+622518336757 Fax :+622518321608; +622518322933