Simple Responsive Menu

1 | 2 | 3 | 4 | 5 | 6 | 7 | 8 | 9 | 10 | 11

ANALISIS KOMPARATIF SITEM PERTANIAN KONVENSIONAL, PTT DAN SRI
DI LAHAN SAWAH IRIGASI JAWA BARAT DAN BANTEN TERHADAP KESEIMBANGAN HARA,
DINAMIKA BIOLOGI, PRODUKTIVITAS, EFISIENSI PUPUK (> 30%) DAN NILAI EKONOMI USAHATANI

ABSTRAK

Untuk memacu kenaikan produksi beras sebesar 5% per tahun melalui P2BN (Peningkatan Produksi Beras Nasional), Departemen Pertanian menggunakan pendekatan Pengelolaan Tanaman Terpadu (PTT). Akan tetapi bersamaan dengan itu, Departemen Kimpraswil mengembangkan SRI (System of Rice Intensification) dalam rangka peningkatan efisiensi penggunaan air irigasi. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menganalisis secara komprehensif tentang keseimbangan hara dan dinamika biologi pada sistem pertanian di lahan sawah irigasi dalam rangka peningkatan produksi padi dan efisiensi pupuk sebesar 30%. Penelitian terdiri dari dua unit percobaan. Satu unit percobaan berada di Sarang (Banten) merupakan penelitian lanjutan tahun ke tiga dan satu unit percobaan baru, akan dilaksanakan di daerah volkan sekitar Cianjur (Jawa Barat). Penelitian di Serang menggunakan Rancangan Acak Kelompok dengan 6 perlakuan diulang 3 kali. Perlakuan terdiri atas: sistem pertanian konvensional (Petani), PTT, SRI, SPH-1, SPH-2 dan SPH-3. Penelitian di Cianjur menggunakan rancangan Split plot; sebagai main plot yaitu olah tanah sempurna (OTS) dan olah tanah tidak sempurna (OTTS), sebagai subplot terdiri atas 4 perlakuan yaitu: sistem pertanian kovensional (Petani), PTT, SRI dan SPH-1. Parameter yang diamati yaitu: dinamika hara N, P dan K dan neraca hara, dinamika biologi, pertumbuhan tinggi dan jumlah anakan, bobot gabah dan jerami, nilai RAE, dan analisis usaha tanai. Hasil penelitian tahun 2010 menunjukkan bahwa (1) Pemberian pupuk urea di Serang  dan Cianjur secara umum dapat  meningkatkan populasi bakteri pelarut P dan K , (2) Sistem pengelolaan hara dengan mengkombinasikan pupuk organik dan anorganik menghasilkan pertumbuhan tinggi dan jumlah anakan serta hasil gabah yang meningkat (14-44%) di Banten, sedangkan di Cianjur sistem pengelolaan PTT dan SPH-1 menghasilkan gabah yang lebih tinggi masing-masing sekitar 36% dan 26% dibandingkan SRI, 23% dan 14% dibandingkan Petani, (3) Populasi mikroorganisme tanah seperti: pelarut Fosfat dan Pelarut K dibandingkan dengan sistem konvensional (Petani) pada lokasi percobaan di Serang Banten dan Cianjur cenderung meningkat dengan pemberian pupuk N, (4) Dinamika hara N, P dan K dalam tanah sawah selama dua  musim tanah belum stabil. Total N tanah sawah pada minggu ke 6 meningkat 7-37%, di Serang dan 4-65% diCianjur, P-total tanah di serang meningkat 23-233% dan P tersedia meningkat 1-3 kali lipat. Di Cianjur P total tanah meningkat sekitar 40%, dan P tersedia cenderung menurun. K-total meningkat 75-144% dan K-tersedia cenderung menurun di Serang. Di Cianjur K-tersedia menurun 68-88%. Kadar C-organik tanah sawah di Serang meningkat 8-74%, dan di Cianjur meningkat 33-136% pada tanah yang diolah sempurna maupun tidak diolah sempurna (5) Hasil analisis usaha tani sistem pertanian PTT lebih menguntungkan untuk lokasi pertanian di Serang dan Cianjur. dibandingkan konvensiona dan SRI.

Kata Kunci: pengelolaan hara, keseimbangan hara, dinamika hara

Hubungi Kami

Slogan Agro Inovasi

 
 
 

 

SCIENCE . INNOVATION . NETWORKS

Balai Penelitian Tanah
Jl. Tentara Pelajar No.12 Bogor Jawa Barat 16114 Indonesia
balittanah@litbang.pertanian.go.id Telp :+622518336757
Fax :+622518321608; +622518322933