Simple Responsive Menu

1 | 2 | 3 | 4 | 5 | 6 | 7 | 8 | 9 | 10 | 11

PENELITIAN DAN PENGEMBANGAN TEKNOLOGI PENGELOLAAN LAHAN DAN AIR
UNTUK MEMPERCEPAT PENINGKATAN DAN STABILITAS PRODUKTIVITAS SAWAH BUKAAN BARU
DI KALTIM DAN SUMBAR > 40 %

RINGKASAN

Penelitian dilaksanakan di sawah bukaan baru yang sudah dibuka tahun 2007, di lokasi yang pada tahun 2009 digunakan untuk penelitian kerjasama yang didanai oleh SINTA, yaitu di Sei Gemuruh, Kabupaten Pesisir Selatan, Sumatera Barat dan Panca Agung, Kabupaten Bulungan, Kalimantan Timur. Penelitian dan pengembangan teknologi pengelolaan lahan dan air untuk mempercepat peningkatan dan stabilitas produktivitas sawah bukaan baru di Kalimantan Timur dan Sumatera Barat diatas 40 % terdiri dari tiga percobaan, yaitu (1) penelitian pengaruh residu kompos jerami dan dolomit terhadap pertumbuhan dan hasil padi sawah bukaan baru, (2) penelitian neraca hara pada sawah bukaan baru, dan (3) penelitian pengaruh tinggi genangan terhadap dinamika besi, pH, Eh dan produksi padi. Penelitian I dan II dilaksanakan di Kabupaten Pesisir Selatan-Sumatera Barat dan di Kabupaten Bulungan-Kalimantan Timur. Sementara, Penelitian III hanya dilaksanakan di Panca Agung, Kabupaten Bulungan-Kalimantan Timur. Secara keseluruhan penelitian bertujuan untuk (1) mengetahui pengaruh residu dolomit dan residu kompos jerami terhadap sifat tanah dan produksi padi sawah bukaan baru, (2) mempelajari dinamika pH dan Eh sawah bukaan baru pada tinggi genangan yang berbeda, (3) memperbaiki rekomendasi pemupukan N, P dan K berdasarkan analisis neraca hara, (4) mempelajari proporsi dan waktu pemberian pupuk anorganik dan organik untuk  memperbaiki sifat tanah dan hasil padi sawah bukaan baru, dan (5) meningkatkan produksi padi sawah bukaan baru sekitar 40 %. Varietas padi yang ditanam adalah IR-66 untuk Kabupaten Pesisir Selatan dan Ciliwung untuk Kabupaten Bulungan. Pengaruh residu dolomit dan residu kompos jerami yang dikombinasikan dengan penambahan pupuk NPK dosis rekomendasi (250 kg urea, 100 kg SP-36 dan 100 kg KCl ha-1) dimana pupuk N dan K diberikan 3 kali memberikan pertumbuhan dan hasil padi varietas IR 66 yang ditanam di sawah bukaan baru Sei Gemuruh yang terbaik. Hasil gabah yang didapat adalah 4,63 ± 0,3 t ha-1, meningkat 85 % jika dibandingkan dengan kontrol atau cara petani. Sementara, penelitian yang dilaksanakan di Panca Agung, Kabupaten Bulungan-Kalimantan Timur menunjukkan hal yang sama. Residu dolomit dan kompos jerami yang dikombinasikan dengan pupuk NPK dosis rekomendasi, yaitu  250 kg urea, 100 kg SP-36 dan 100 kg KCl ha-1 dimana pupuk N dan K diberikan 3 kali memberikan pertumbuhan dan hasil padi varietas Ciliwung yang terbaik. Hasil gabah kering giling yang didapat adalah 3,32 ± 0,7 t ha-1, meningkat 85 % dibandingkan kontrol atau cara petani. Selanjutnya, dari penelitian neraca hara didapatkan bahwa pemupukan N P K dosis rekomendasi (250 kg urea, 100 kg SP-36 dan 100 kg KCl ha-1) dimana pupuk N dan K diberikan 3 kali memberikan pertumbuhan dan hasil padi varietas IR 66 yang ditanam di sawah bukaan baru Sei Gemuruh yang terbaik. Hasil gabah kering giling yang didapat adalah 5,51 ± 0,13 t ha-1, meningkat 2,06 t ha-1 atau 68 % jika dibandingkan dengan kontrol atau cara petani. Sementara, penelitian yang dilaksanakan di Panca Agung, Kabupaten Bulungan-Kalimantan Timur menunjukkan hal yang sama. Pemupukan NPK dengan dosis rekomendasi, yaitu 250 kg urea, 100 kg SP-36 dan 100 kg KCl ha-1 dimana pupuk N dan K diberikan 3 kali memberikan pertumbuhan dan hasil padi varietas Ciliwung yang terbaik. Produksi biomasa padi yang didapat adalah 11,26 ± 1,2 t ha-1 untuk produksi jerami segar saat panen, 4,48 ± 0,2  t ha-1 untuk hasi gabah saat panen dan 3,85 ± 0,2 t ha-1 untuk produksi gabah kering giling. Produksi gabah kering giling ini meningkat 73 % jika dibandingkan dengan dosis petani. Sementara, hasil penelitian pengaruh tinggi genangan air menunjukkan bahwa perlakuan dengan tinggi genangan air 5 cm terus menerus dan tinggi penggenangan 5 cm secara intermittent (2 minggu digenangi - 1 minggu kering) meningkatkan secara nyata berat jerami segar, berat gabah saat panen dan berat gabah kering giling (kadar air 14%) jika dibandingkan dengan perlakuan tinggi genangan lainnya. Besarnya hasil yang dicapai pada tinggi genangan air 5 cm secara terus menerus dan yang intermittent masing-masing adalah  8,06 ± 2,9 t ha-1 dan 10,80 ± 0,9 t ha-1 untuk  berat jerami segar; 4,44 ± 0,5 t ha-1 dan 4,78 ±  0,5 t ha-1 untuk berat gabah saat panen; dan 4,04 ± 0.6 t ha-1 dan 4,14 ± 0,5 t ha-1 untuk berat gabah kering giling. Selanjutnya tinggi genangan air berpengaruh nyata terhadap kenaikan pH tanah.  Perlakuan tinggi genangan 0-5 cm secara terus menrerus dan tinggi genangan air 0-5 cm secara intermitten: 2 minggu digenangi dan seminggu dikeringkan menunjukkan kenaikan pH yang lebih baik dan mencapai pH tanah 6,32 dari pH tanah mula-mula 4,62. Selanjutnya, semakin lama dilakukan penggenangan dan semakin tinggi genangan air semakin menurunkan Eh tanah yang berarti pula suasana menjadi lebih reduksi. Pada tinggi genangan 10 cm nilai Eh tanah menjadi -108 mV yang berarti suasana lebih reduksi dari tinggi genangan yang lain.

Hubungi Kami

Slogan Agro Inovasi

 
 
 

 

SCIENCE . INNOVATION . NETWORKS

Balai Penelitian Tanah
Jl. Tentara Pelajar No.12 Bogor Jawa Barat 16114 Indonesia
balittanah@litbang.pertanian.go.id, balittanah.isri@gmail.com
Telp :+622518336757 Fax :+622518321608; +622518322933