Simple Responsive Menu

1 | 2 | 3 | 4 | 5 | 6 | 7 | 8 | 9 | 10 | 11

PENGEMBANGAN FOMULA AMELIORAN DAN PUPUK “PUGAM” SPESIFIK  LAHAN GAMBUT
DIPERKAYA BAHAN PENGKHELAT UNTUK MENINGKATKAN SERAPAN HARA
DAN PRODUKSI TANAMAN > 50% DAN MENURUNKAN EMISI GAS RUMAH KACA (GRK)  >30%

RINGKASAN

Beberapa tahun terakhir, lahan gambut mendapat sorotan karena dianggap sebagai sumber emisi gas rumah kaca (GRK), yang berperan dalam pemanasan global. Ekosistem gambut juga merupakan penyangga hidrologi dan cadangan karbon yang sangat penting artinya bagi lingkungan hidup. Namun saat ini sudah banyak areal gambut yang dimanfaatkan sebagai lahan pertanian yang tidak mungkin untuk dikembalikan menjadi hutan karena ketergantungan petani terhadap lahan gambut begitu besar. Oleh karenanya, agar ekses dari pemanfaatan lahan gambut, baik untuk tanaman pangan maupun untuk perkebunan, maka diperlukan teknologi usahatani yang mampu meningkatkan produktivitas lahan dan sekaligus mampu menekan emisi karbon (gas rumah kaca/GRK). Penelitian kearah tersebut sedang dilakukan dengan tujuan (1) Menyempurnakan formula pupuk lahan gambut PUGAM dan menguji efektivitasnya terhadap pengurangan emisi gas rumah kaca dan pencucian hara sampai 30%, (2) Menguji efektivitas formula PUGAM yang disempurnakan untuk meningkatkan serapan hara dan pertumbuhan tanaman > 30% di rumah kaca, dan (3) Memverifikasi dan menguji efektivitas formula pupuk PUGAM pada lahan gambut pedalaman dan gambut peralihan untuk meningkatkan pertumbuhan dan produksi tanaman jagung  > 30%. Keluaran yang diharapkan adalah dua formula Pugam yang mampu: (a) mengurangi pencucian hara > 50% dan serapan hara dan pertumbuhan tanaman > 50% serta mengurangi emisi gas rumah kaca > 30%; (b) Meningkatkan pertumbuhan dan produksi tanaman di lapangan > 30%. Penelitian dilakukan dengan menyempurnakan formula pupuk dari bahan alami dan limbah serta melakukan verifikasi dan validasi teknologi pemupukan Pugam di lapangan. Kegiatan meliputi 3 tahapan percobaan yaitu 1) Penyempurnaan formula dan Uji efektivitas 4 formula PUGAM yang disempurnakan terhadap laju emisi dan pencucian hara dilakukan dengan percobaan pot di rumah kaca, 2) Pengujian efektivitas formula PUGAM terhadap serapan hara dan pertumbuhan tanaman jagung di rumah kaca dan 3) Pengujian efektivitas 2 jenis formula PUGAM terpilih dari penelitian rumah kaca yaitu PUGAM A dan PUGAM T yang dibandingkan dengan pupuk P konvensional. Kegiatan 1 dan 2 dilakukan secara berurutan (bertahap). Kegiatan 1 dilakukan di laboratorium dengan menyusun beberapa formula dari berbagai bahan yang mudah didapat dan murah.  Kegiatan 2 dilakukan di rumah kaca dengan perlakuan berbagai jenis formula yang telah dikembangkan. Dan kegiatan 3 dilakukan di lapang untuk melihat pengaruh 2 formula terpilih dari hasil kegiatan tahun 2009 terhadap pertumbuhan dan hasil tanaman jagung. Sampai bulan ke 4 target fisik kegiatan 30 % telah tercapai 30%. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tanah gambut asal Sepucuk tergolong gambut ombrogen   tingkat kematangan saprik dengan karakteristik bereaksi masam, miskin hara dan basa-basa, tetapi KTK tanah tinggi. Sedangkan tanah gambut di lokasi penelitian lapang menunjukkan sifat kimia yang lebih baik dengan pH > 4 dan kejenuhan basa 6,5% dan 7%. Sementara itu karakteristik kimia, Pugam mengandung hara P, Ca dan Mg. Selain itu Pugam juga kaya dengan kation polivalen dan unsur mikro yang sangat diperlukan untuk menetralisir asam organik beracun. Hasil pengujian efektivitas menekan emisi GRK menunjukkan Pugam A mampu menekan emisi CO2 paling tinggi yaitu  rata-rata 57%, diikuti Pugam T, Pugam R dan Pugam Q masing-masing sebesar 50%, 45% dan 43%. Hasil pengujian efektivitas Pugam terhadap pertumbuhan tanaman menunjukkan bahwa Pugam A, T, Q dan R meningkatkan pertumbuhan tinggi tanaman dan bobot biomasa tanaman sangat signifikan jauh melebihi hasil yang diperoleh dengan menggunakan pupuk NPK konvensional. Peningkatan pertumbuhan tanaman bagian atas tanah didukung oleh perkembangan akar tanaman yang baik. Bobot akar tanaman pada perlakuan Pugam A, T, R dan Q jauh melebihi bobot akar yang diberi perlakuan NPK konvensional. Hal ini menunjukkan adanya perbaikan kondisi media perakaran tanaman bila diberi perlakuan Pugam. Hasil penelitian di lapangan menunjukkan bahwa pemupukan dengan Pugam lebih baik dibandingkan perlakuan SP-36. Namun demikian peningkatan hasil yang diperoleh tidak sebesar seperti percobaan di rumah kaca. Hal ini disebabkan karena kondisi tanah gambut di lokasi penelitian, baik gambut ombrogen maupun topogen, tergolong sudah baik yang diduga dari residu ameliorasi dan pemupukan dari tanaman sebelumnya.

Hubungi Kami

Slogan Agro Inovasi

 
 
 

 

SCIENCE . INNOVATION . NETWORKS

Balai Penelitian Tanah
Jl. Tentara Pelajar No.12 Bogor Jawa Barat 16114 Indonesia
balittanah@litbang.pertanian.go.id, balittanah.isri@gmail.com
Telp :+622518336757 Fax :+622518321608; +622518322933