Simple Responsive Menu

1 | 2 | 3 | 4 | 5 | 6 | 7 | 8 | 9 | 10 | 11

PENELITIAN DAN PENGEMBANGAN TEKNOLOGI PENGELOLAAN TANAH
DI LAHAN KERING IKLIM KERING UNTUK MENINGKATKANPRODUKTIVITAS >20%

Ringkasan

Sistem pertanian lahan kering terutama di wilayah beriklim kering masih jauh tertinggal, padahal teknik pengelolaan lahan kering sudah tersedia.  Oleh karena itu perlu dibuat pedoman pengelolaan lahan kering iklim kering, berdasarkan berbagai hasil studi.  Perlu juga dilakukan pengujian berbagai teknik pengelolaan tanah dan berbagai produk yang dapat memecahkan berbagai kendala yang ada. Penelitian bertujuan untuk 1) melakukan pengawalan teknologi di bidang pengelolaan tanah (pemupukan,  pengelolaan bahan organik, konservasi dan rehabilitasi tanah) dalam upaya mendukung Konsorsium Pengembangan “Model/Sistem Pertanian Terpadu Lahan Kering Iklim Kering”, 2) menguji beberapa teknik pengelolan tanah (pupuk, pengelolaan bahan organik, konservasi dan rehabilitasi tanah) dalam bentuk penelitian superimphose trial untuk meningkatkan produktivitas >20%. Penelitian terdiri dari dua kegiatan yaitu: 1) inventarisasi teknologi pengelolaan lahan kering iklim kering yang dilakukan melalui deskwork dan pengecekan lapangan. Keluaran dari kegiatan ini adalah kumpulan teknologi pengelolaan lahan kering (pupuk, bahan organik pengelolaan, konservasi tanah dan rehabilitasi) di iklim kering, 2) superimphose trial, untuk menguji efektivitas beberapa teknik pengelolaan lahan kering, teknik konservasi dan jenis produk (pupuk, pembenah tanah, dll) pada iklim kering. Superimphosed trial dirancang menggunakan acak kelompok dengan 4 ulangan.  Hasil wawancara dengan petani dengan metoda Foccus Group discussion (FGD) menunjukan bahwa teknologi penanaman jambu mete melalui kegiatan P3NT yang dimulai pada tahun 1987 masih diadopsi petani.  Lahan petani mempunyai kemiringan yang beragam, dan jambu mete yang awalnya ditanam sebagai tanaman pagar dalam sistem pertanaman lorong, saat ini berkembang ke arah monokultur.   Jambu mete yang ditanam pada sekitar tahun 1987-1996 masih terpelihara baik, sedangkan tanaman lainnya tidak berkembang.  Teknologi pemangkasan dan pemupukan jambu mete tidak berkembang, teknologi yang diterapkan masih secara parsial dan minimal.  Tidak berkembangnya teknologi budidaya jambu mete berkaitan dengan kebiasaan petani dan keterbatasan tenaga kerja baik tenaga kerja keluarga maupun tenaga kerja upahan.  Pada tahun 2008, Pemda Kupang mengembangkan proyek dengan nama “tanam jagung, panen sapi” yang merupakan proyek inisiasi pengelolaan lahan kering terpadu. Setiap panen jagung diwajibkan menabung sehingga dalam beberapa kali panen akan dapat membeli sapi. Sistem tanaman-ternak akan dikembangkan secara luas, mengingat selama ini petani hanya memelihara ternak orang lain.  Hasil pengujian tingkat kesuburan tanah dengan menggunakan PUTK menunjukan  pH tanah di KP Naibonat bersifat netral alkalin, kandungan hara N dan K umumnya rendah, status bahan organik juga rendah.  Kandungan P potensial berkisar sedang-tinggi, namun karena pH tergolong netral alkalin.  Dengan menggunakan konsep zero waste, kebutuhan pupuk organik untuk lahan pangan seluas 28,3 ha dan pakan ternak sebanyak 30 ekor sapi di lokasi pilot dapat dipenuhi secara insitu.  Masih diperlukan sumber bahan organik lain untuk memenuhi kebutuhan mulsa.  Penggunaan pupuk berdasarkan dosis rekomendasi dapat meningkatkan produktivitas tanaman jagung .  Penurunan dosis pupuk sebesar ¼ - ½ dosis rekomendasi menyebabkan penurunan hasil, meskipun disertai dengan penambahan pupuk organik+hayati. Aplikasi mulsa vertikal dikombinasikan dengan pembenah tanah berbahan baku biochar dapat meningkatkan produktivitas tanaman jagung secara nyata dan dapat mengurangi dosis penggunaan mulsa.

Hubungi Kami

Slogan Agro Inovasi

 
 
 

 

SCIENCE . INNOVATION . NETWORKS

Balai Penelitian Tanah
Jl. Tentara Pelajar No.12 Bogor Jawa Barat 16114 Indonesia
balittanah@litbang.pertanian.go.id, balittanah.isri@gmail.com
Telp :+622518336757 Fax :+622518321608; +622518322933