1 | 2 | 3 | 4 | 5 | 6 | 7 | 8 | 9 | 10 | 11

Dr. Fahmuddin Agus (Peneliti Utama Balai Penelitian Tanah) menghadiri simposium “Sustainable palm oil: Challenges, a common vision and the way forward” di London, United Kingdom, 4-6 Mei 2011. Simposium ini dihadiri oleh berbagai kalangan termasuk perusahaan perkebunan, importir dan prosesor minyak sawit, investor, NGO, peneliti dan pemerintah.

Dari simposium ini  dapat dipahami bahwa kelapa sawit merupakan komoditas pertanian terpenting sebagai bahan pangan (vegetable oil) dan penghasil devisa. Dalam dekade terakhir popularitas minyak sawit juga meningkat untuk penggunaan bahan bakar nabati, khususnya bio-diesel.  Permintaan pasar, terutama dari pasar internasional berkembang pesat. Importir terbesar minyak sawit dunia dewasa ini adalah India, diikuti oleh Cina dan Uni Eropa. Peningkatan permintaan terutama disebakan pertumbuhan penduduk dunia yang menyebabkan meningkatnya kebutuhan terhadap minyak goreng dan, untuk negara tertentu, karena target penggunaan bio-diesel sebagai bahan bakar.  Target penggunaan biofuel sekitar 20% dari bahan bakar  negara uni Eropa menjelang tahun 2020 merupakan salah satu faktor peningkatan permintaan pasar internasional terhadap minyak sawit.

Minyak sawit adalah minyak nabati yang dihasilkan dengan cara yang relatif sustainable dalam suatu sistem produksi yang efisien. Ini disebabkan karena produktivitas kelapa sawit ≥ 5 x  dibandingkan tanaman penghasil minyak lainnya seperti jagung, kedelai, canola, rapeseed, kacang tanah, dan bunga matahari; artinya, untuk menghasilkan volume minyak yang sama, maka kelapa sawit hanya memerlukan lahan ≤seperlima dari kebutuhan lahan oleh tanaman penghasil minyak lainnya.

Dengan tingginya permintaan dan efisiennya sistem produksi kelapa sawit maka profitabilitas bertanam sawit sangat menjanjikan. Oleh sebab itu pengusaha kelapa sawit terdorong untuk meningkatkan produksi melalui intensifikasi dan ekstensifikasi. Peningkatan produksi melalui ekstensifikasi banyak mendapat sorotan  terutama di kalangan NGO internasional karena perluasan perkebunan kelapa sawit dianggap sebagai penyebab penebangan hutan yang selanjutnya menghilangkan lahan hutan yang bernilai High Conservation Values (HCV), dan meningkatkan emisi gas rumah kaca.

Symposium ini terutama membahas pendapat berbagai kalangan yang terkait dengan produksi, distribusi, penggunaan, governance, serta investasi dibidang perminyakan kelapa sawit untuk merumuskan visi bersama antar berbagai kalangan tersebut demi keberlanjutan produksi minyak sawit.

Dari simposium ini ditarik beberapa butir kesimpulan sebagai berikut:

  1. Kelapa sawit merupakan komoditas yang sistem produksinya sangat efisien karena produktivitasnya yang tinggi (lebih dari lima kali) dibanding produktivitas tanaman penghasil minyak nabati lainnya.
  2. Minyak sawit merupakan solusi, bukan masalah, untuk memenuhi kebutuhan akan minyak yang semakin meningkat.
  3. Terdapat beberapa dampak negatif dalam pengembangan perkebunan kelapa sawit, terutama ditinjau dari berkurangnya hutan  dengan high conservation value dan meningkatnya emisi. Namun demikian negara penghasil minyak sawit, sebagai negara yang berdaulat (souvereigned countries) berhak untuk menentukan arah pembangunannya. Penerapan  prinsip sustainable palm  oil banyak diartikan berbagai kalangan sebagai usaha mempertahankan berbagai fungsi lingkungan kelapa sawit. Namun demikian perlu diingat bahwa sustainabilitas juga berarti tercapainya produksi sesuai dengan kebutuhan pada tingkat ekonomi yang layak dan kemampuan untuk mengentaskan kemiskinan. Perlu diperhatikan aspek human dimension, lapangan kerja dan pembangunan ekonomi negara penghasil dalam mengadvokasikan sustainable palm oil.
  4. Roundtable for Sustainable Palm Oil (RSPO) sudah berhasil memberikan sertifikasi untuk sejumlah produk minyak sawit, namun serapan pasar terhadap minyak sawit bersertifikasi sustainable (CSPO) hanya sekitar 50% dari produk CSPO. Untuk itu diperlukan langkah kongkrit dikalangan pembeli dan di kalangan RSPO dan prosesor minyak sawit agar terjadi keseimbangan  antara supply dan demand  CSPO.
  5. India dan Cina merupakan pasar terbesar minyak sawit sedangkan Uni Eropa merupakan pasar ketiga terbesar. Saat ini pasar yang menyerap CSPO adalah pasar Eropa. Untuk itu RSPO akan meningkatkan promosinya ke pasar India dan Cina agar kedua negara tersebut membeli CSPO.

Implikasi kebijakan

  1. Memproduksi minyak sawit secara sustainable penting bagi Indonesia untuk memenuhi permintaan nasional dan internasional. Dengan demikian  teknik produksi yang sustainable perlu diterapkan.
  2. Beberapa tujuan konservasi berimplikasi terhadap biaya yang sangat besar bagi negara penghasil. Misalnya, konservasi hutan dengan HCV atau dengan high carbon stock bisa dilihat sebagai kehilangan kesempatan mendapatkan keuntungan (opportunity costs ) pada lahan yang dikonservasi tersebut. HCV dan  konservasi karbon pada umumnya merupakan public goods. Dengan demikian konservasi karbon dan HCV seharusnya menjadi tanggungan masyarakat global. Namun selama tidak mempengaruhi produksi dan pembangunan ekonomi secara signifikan, maka konservasi  hutan HCV seyogiyanya mendapat perhatian.
  3. Indonesia sudah mengeluarkan Permentan 29/2011 tentang Indonesian Sustainable Palm Oil (ISPO). Perlu ditegaskan apakah Indonesia akan mengeluarkan suatu sertifikasi di bawah ISPO (CISPO) sebagai bagian dari usaha untuk mencapai sustainble palm oil bersama-sama dengan RSPO. Juga perlu di eksplorasi potensi pasar untuk CISPO.

Hubungi Kami

Balai Penelitian Tanah
Jl. Tentara Pelajar No.12 Bogor Jawa Barat 16114 Indonesia
balittanah@litbang.pertanian.go.id Telp :+622518336757
Fax :+622518321608; +622518322933