Simple Responsive Menu

1 | 2 | 3 | 4 | 5 | 6 | 7 | 8 | 9 | 10 | 11

Inovasi Teknologi

Limbah Pertanian dan Limbah Industri berupa, sekam padi, kelapa sawit, jerami padi  dan serbuk gergaji, merupakan limbah yang mengandung serat yang tinggi yang dapat diolah menjadi material dasar untuk pembuatan pupuk Organik Granul (POG) bermutu tinggi, dengan melakukan modifikasi dan pengkayaan terhadap  bahan limbah.Pengunaan limbah tersebut sebagai material dasar pembuatan pupuk sangat terbatas , dikarenakan limbah-limbah diatas mengandung kadar lignin dan selulosa yang sangat tinggi dan saling terikat  didalam jaringan tanaman berbentuk senyawa lignoselulosa. Hampir setengah materi penyusun Lignoselulosa merupakan senyawa selulosa  dan 15% sampai 36% adalah senyawa lignin (Eriksson et.al 1989), serta hemiselulosa 25% sampai 30% dari total berat kering kayu ( Perez et al. 2002).  Untuk menjadikan limbah tsb sebagai bahan dasar pembuatan pupuk organik garanul bermutu tingg1, terlebih dahulu dilakukan pengolahan terhadap limbah, beberapa cara pengolahan dapat dilakukan seperti pengolahan cara kimia , fisika dan biologi. Diantara 3 cara pengolahan tsb diatas, pengolahan biologis memiliki lebih banyak keuntungan bila dibandingkan dengan cara pengolahan lain selain relatif lebih aman dan sederhana dalam penerapannya, pengolahan secara biologis dapat meningkatkan mutu dari bahan hasil rombakaan. Pengolahan secara Biologi atau biofermentasiakan merombak struktur jaringan kimia sel tanaman dengan bantuanmikroorganisme dapat berasal dari kelompok bakteri, cendawan dan aktinomisetes yang akan bekerja secara sinergis dalam menghasilkan produk akhir berupa humus yang stabil. Kelompok Lignoselulolitik penghasil lignoselulase yang dapat merombak limbah lignoselulosa diantaranya Mycobacteriales, Eubacteriales,jamur putih pembusuk (Phanerachaete chrysosporium, Coriolus versicolor dan Phalebia radiataputih pembusuk).

Rosmimik/M.Is

 

Lahan gambut merupakan penyimpan karbon dalam jumlah sangat besar. Karbon yang terkandung di dalam tanah gambut bersifat tidak stabil. Dalam keadaan hutan alam karbon tersebut bertahan dalam bentuk bahan organik, namun apabila hutan gambut dibuka dan didrainase maka karbon yang disimpannya akan mudah terdekomposisi dan menghasilkan CO2; salah satu gas rumah kaca terpenting. Selain itu drainase lahan gambut yang berlebihan menyebkan lahan gambut rentan terhadap kebakaran. Proses dekomposisi, konsolidasi (pemadatan) dan kebakaran meyebabkan gambut akan mengalami penyusutan (subsidence) dan kehilangan berbagai fungsinya dalam menyangga lahan sekitarnya dari kebanjiran dan kekeringan.

Sejalan dengan pertambahan penduduk maka sumberdaya lahan semakin langka sehingga lahan gambut yang dulunya dianggap sebagai lahan sisa (wasteland) semakin banyak digunakan untuk berbagai keperluan pembangunan ekonomi seperti pertanian dan pemukiman. Hal ini menyebabkan lahan gambut menjelma menjadi sumber emisi nasional yang tertinggi dari sektor yang berhubungan dengan penggunaan dan perubahan penggunaan lahan (LULUCF = Land use land use change and forestry). Oleh sebab itu di dalam aksi nasional penurunan emisi (NAMA = nationally appropriate mitigation actions) konservasi dan pengelolaan lahan gambut menjadi salah satu tumpuan utama.

Salah satu syarat dalam pelaksanaan penurunan emisi karbon melalui skema REDD (Reducing Emissions from Deforestation and (forest) Degradation) adalah MRV (Measurable, Reportable and Verifiable). MRV merupakan sistem untuk mendokumentasikan, melaporkan, dan memverifikasikan perubahan cadangan karbon secara transparan, konsisten, dapat dibuktikan secara lengkap dan akurat. MRV perlu didukung oleh pengukuran cadangan dan perubahan cadangan karbon yang akurat, baik di atas maupun di bawah permukaan tanah. Buku ini memberikan petunjuk praktis pengambilan contoh gambut, analisis tanah gambut dan perhitungan jumlah serta interpretasi data cadangan karbon gambut. Di dalam buku ini juga diterangkan tentang hubungan perubahan cadangan karbon dengan emisi CO2.

Penelitian Pengomposan dengan “DSAplus” Selulotik dan Lignolitik <5 Hari untuk Pembuatan Foliar Biofertilizer dan Biostimulant yang Mampu Meningkatkan Efisiensi Pemupukan >25%

Research on composting with Sellulotic and Lignolitic “DSA plus” less than 5 days for making foliar Biofertilizer and Biostimulant which have ability to In crease Fertilizer Efficiency >25%

Berdasarkan penelitian sebelumnya telah diperoleh teknologi formulasi dekomposer super aktif (DSA) dengan teknik pengomposan aerobik suhu tinggi (aerobic high temperature composting with DSA inoculation) pada jerami. Hasil penelitian tersebut menunjukkan bahwa keberhasilan proses pengomposan secara cepat sangat dipengaruhi oleh mutu bioaktivator perombak bahan organik dan teknik pengomposannya. Proses pengomposan selama 7 hari dengan suhu 45-53o C menghasilkan kompos dengan C/N rasio 16-24. Penelitian lebih lanjut dilakukan untuk memperkaya formula DSA dengan mikroba termofilik penghasil lipoprotease menjadi DSA plusfoliar biofertilizer dan biostimulant. Kemampuan memacu pertumbuhan tanaman erat kaitannya dengan kemampuan bakteri dalam menghasilkan zat tumbuh dan anti mikroba, sehingga dalam penelitian ini dikembangkan formula foliar biofertilizer dan biostimulant dengan menggunakan bakteri diazotrof endofitik pemacu tumbuh tanaman dan pengendali patogen. untuk memperluas spektrum pemanfaatannya, dan ekstrak komposnya digunakan untuk pembuatan ekstrak kompos (cair) sebagai

SIMPANAN KARBON DAN EMISI CO2 LAHAN GAMBUT

Tanah gambut menyimpan C yang jauh lebih tinggi dibandingkan dengan tanah mineral.Setiap satu gram gambut kering menyimpan sekitar 180-600 mg karbon, sedangkan setiap satu gram tanah mineral hanya mengandung 5-80 mg kabon. Di daerah tropika, karbon yang disimpan olah tanah dan tanaman pada lahan gambut bisa 10 kali karbon yang disimpan oleh tanah dan tanaman pada tanah mineral (Agus dan Subiksa, 2008).

Lahan gambut hanya meliputi 3% dari total luas daratan dunia, namun menyimpan 550 Gigaton C atau setara dengan 30% karbon tanah, 75% C dari seluruh C atmosfer, setara dengan seluruh C yang dikandung biomassa (masa total mahluk hidup) daratan, dan setara dengan dua kali simpanan C semua hutan di seluruh dunia (Joosten, 2007).Luas lahan gambut di Indonesia meliputi 10% dari total luas daratannya atau sekitar 20 juta ha (Rieley, 1996).Jaenicke et al. (2008) memperkirakan karbon yangtersimpan pada lahan gambut di Indonesia sekitar 55 Gigaton.

Dalam kondisi alami simpanan karbon pada lahan gambut relatif stabil. Ketebalan gambut bisabertambah sampai 3 mm tahun-1 (Parish et al., 2007). Namun jika kondisi alami tersebut terganggu, maka akan terjadi percepatan proses pelapukan (dekomposisi), sehingga karbon yang tersimpan di dalam lahan gambut akan teremisi membentuk gas rumah kaca (GRK) terutama gas CO2, sebagai dampak dari dilakukannya proses drainase yang selalu menyertai proses penggunaan lahan gambut.

Pengembangan Pembenah Tanah Beta Diperkaya Senyawa Humat dari Sampah Kota dan Bahan Organik Lainnya dengan Kandungan >10% untuk Meningkatkan Kualitas Tanah dan Produktivitas Tanaman >20% pada Tanah Mineral Masam Terdegradasi

Development of Beta Soil Conditioner Enriched with Humat Substance from City Waste and Other Organic with the Content more Than Ten Percent to Increase Soil Quality and Crops Productivity on Degraded Mineral Acid Soil

Beberapa pembenah tanah seperti Beta dan Biochar-SP50 sudah terbukti efektif dalam memperbaiki kualitas tanah dan produktivitas tanaman tetapi pada takaran yang relatif tinggi. Formula pembenah tanah tersebut masih perlu ditingkatkan efektivitasnya melalui pengkayaan dengan senyawa humat dari berbagai sumber bahan organik. Berbagai sumber bahan organik seperti kompos atau bahan alami lainnya seperti gambut dan batubara berpotensi untuk dijadikan sumber senyawa humat. Selain memperbaiki kualitas tanah dan produktivitas tanaman, penggunaan pembenah tanah juga diharapkan dapat mengefisienkan penggunaan pupuk.

Tujuan penelitian adalah untuk: (1) menguji efektivitas pembenah tanah diperkaya senyawa humat terhadap perbaikan kualitas tanah masam terdegradasi dan produktivitas tanaman dan (2) menguji efektivitas pembenah tanah diperkaya senyawa humat terhadap peningkatan efisiensi pemupukan. Penelitian terdiri atas dua kegiatan, yakni (a) efektivitas pembenah tanah diperkaya senyawa humat terhadap efisiensi pemupukan dan (b) efektivitas pembenah tanah diperkaya senyawa humat terhadap peningkatan kualitas tanah masam terdegradasi dan produktivitas tanaman.

Hubungi Kami

Slogan Agro Inovasi

 
 
 

 

SCIENCE . INNOVATION . NETWORKS

Balai Penelitian Tanah
Jl. Tentara Pelajar No.12 Bogor Jawa Barat 16114 Indonesia
balittanah@litbang.pertanian.go.id Telp :+622518336757
Fax :+622518321608; +622518322933