Balittanah

Banner-balittanah1
Banner-balittanah2
BioNutrien
Bannerbalittanah5
Bannerbalittanah5
banner7
banner8
banner9
banner10
banner11
KarywanBalittanah
Antikorupsi1
Antikorupsi2
Antikorupsi3
Antikorupsi4

Laporan Kegiatan Penelitian 2008

Category: Laporan Kegiatan Penelitian 2008

Demplot Pengelolaan Lahan Kering Masam

DEMPLOT PENGELOLAAN LAHAN KERING MASAM

Abstrak

Hasil penelitian teknologi pengelolaan lahan kering masam perlu disosialisasikan kepada pengguna melalui kunjungan lapang/tatap muka dan diskusi antara petani, penyuluh, peneliti dan pengambil kebijakan daerah dilokasi demplot. Tujuan kegiatan ini adalah untuk memperepat proses adopsi teknologi pengelolaan lahan kering masam yang dapat meningkatkan produktivitas lahan seara berkelanjutan. Hasil pangkasan Flemingia pada sistem alley cropping dapat memperbaiki sifat kimia dan fisika tanah. Pemberian pupuk kandang dapat meningkatkan kandungan C-organik tanah antara 0,28-0,30 % dan KTK antara 0,15-3,98  cmol/kg tanah tetapi kandungan P tersedia (Bray 1) dari fosfat alam mengalami penurunan setelah 6 musim. Penggunaan pupuk kandang/kompos memberikan hasil padi antara 1,722-2,166 t GKG/ha, pipilan kering jagung Pioner 21 antara 3,365-4,121 t/ha, kacang hijau 1,08-1,30 t/ha dan berat ubi segar  antara 10,500-12,417 t/ha. Penggunaan pupuk kandang dengan dosis 10 t/ha/tahun selama 2 tahun pada tanaman jagung Pioner 21 menurunkan kan BD tanah dari 1,29 menjadi 1,26, RPT meningkat dari 43,37 menjadi 44,8 % volume, air tersedia meningkat dari 12,3 menjadi 13,3 % volume dan permeabilitas dari 2,12 menjadi 2,49 cm/jam. Sifat-sifat kimia tanah pada plot tanpa pupuk kandang mengalami penuruan setiap musim. Hasil pipilan kering mencapai 3,58 t/ha dan hasil ubi kayu segar Kasesart sebesar 38 t/ha. Pada umur 7 bulan, tanaman pisang memberikan jumlah anakan antara 1-3 anak/rumpun, pada umur 12 bulan dihasilkan 8-12 tandan/400 m2 atau setara dengan 200-300 tandan/ha. Tanaman nenas Batu yang disisipkan di antara tanaman pisang menghasilkan 10 buah/400 m2 atau setara dengan 250 buah/ha. Rumput Gajah (Penissetum purpuruem), Setaria (Setaria splendida) mempunyai kemampuan produksi biomass lebih tinggi dibandingkan dengan rumput Panikum (Panicum maximum). Bakteri Mdec efektif merombak jerami padi menjadi kompos dalam waktu 21-23 hari. Dari bahan segar jerami padi sebanyak 200 kg dapat dihasilkan kompos sebanyak 40 kg sehingga dengan rata-rata produksi jerami padi di KP Tamanbogo antara 12-19 t/ha/musim dapat dihasilkan 2,4-3,8 t/ha/musim kompos. Legum Flemingia congesta menghasilkan biomass lebih tinggi dibandingkan dengan Glirisidia sepium tetapi hasil  biomass berfluktuasi sesuai dengan interval pemangkasan dan curah hujan. Pemangkasan Glirisidia pada musim hujan menghasilkan biomass sebesar 49,11 kg/tahun/3 sampel tanaman dan Flemingia sebesar 59,25 kg/tahun/3 sampel tanaman. Produksi biomass tanaman legum tersebut masih di bawah potensinya dimana akan meningkat dengan semakin bertambahnya umur tanaman. Teknologi pengelolaan lahan kering masam yang didemontrasikan kepada stake holders/pengguna diakui petani lebih baik tetapi untuk mengaplikasikan memerlukan proses sosialisasi secara terus menerus. Melalui kegiatan demplot diharapkan proses adopsi teknologi  pengelolaan produktivitas lahan kering masam dapat  lebih cepat serta produktivitas tanah dan pendapatan petani dapat ditingkatkan secara stabil dan berkelanjutan.

  • Written by admin

Category: Laporan Kegiatan Penelitian 2008

Monitoring dan Evaluasi

MONITORING DAN EVALUASI

Abstrak

Tujuan kegiatan ini adalah melakukan kegiatan pemantauan, pengendalian dan evaluasi kegiatan penelitian dan pelaksanaan kegiatan administrasi di lingkup Balai Penelitian Tanah, Balai Besar Penelitian Sumberdaya Lahan Pertanian tahun anggaran 2008.

Untuk mengukur kemajuan dan keberhasilan serta menjamin akuntabilitas (tanggung gugat) pelaksanaan program dan administrasi, diperlukan pengukuran kinerja melalui kegiatan pemantauan (monitoring), pengendalian dan evaluasi.  Monitoring dan evaluasi merupakan alat manajemen yang digunakan untuk mengetahui peluang keberhasilan suatu kegiatan.  Data hasil pemantauan dapat dijadikan sebagai bahan dalam evaluasi.  Sedangkan evaluasi lebih ditekankan pada suatu periode tertentu dalam suatu kurun waktu kegiatan, dan diatur sesuai dengan kebutuhan.

Dalam penelitian, evaluasi digunakan untuk mengukur keragaan dan kualitas kemajuan penelitian, serta keberhasilan penyelesaian kegiatan.  Evaluasi dilakukan secara mendalam, menganalisis tentang kualitas dan relevansi serta ketepatan terhadap rencana.  Evaluasi menghasilkan rekomendasi untuk perbaikan dalam pelaksanaan dan perencanaan berikutnya.

Pelaksanaan pemantauan dan evaluasi dilakukan dalam tiga tahap, yaitu: (1). pra evaluasi terhadap rencana kegiatan yang akan dilaksanakan termasuk matrik dan proposal (2). pemantauan/evaluasi kegiatan yang sedang berjalan termasuk pelaporan bulanan dan tengah tahunan, (3). evaluasi pasca kegiatan terhadap pelaporan. Tujuan kegiatan adalah memonitor dan mengevaluasi pelaksanaan penelitian dari RPTP/RDHP/RKOT Balai Penelitian Tanah TA 2008 dan mempersiapkan laporan akuntabilitas.

  • Written by admin

Category: Laporan Kegiatan Penelitian 2008

Penelitian dan Pengembangan Teknologi Mikroflora Tanah Multiguna (MTM) untuk Keberlanjutan Produktivitas Lahan Pertanian

PENELITIAN DAN PENGEMBANGAN TEKNOLOGI MIKROFLORA TANAH MULTIGUNA (MTM)
UNTUK KEBERLANJUTAN PRODUKTIVITAS LAHAN PERTANIAN

Abstrak

Lahan pertanian merupakan salah satu sumberdaya alam yang penting untuk dipelihara dan dilindungi, diperbaiki kualitas dan kapasitas produksinya. Produktivitas yang tinggi dan keanekaragaman mikroba yang hidup di dalamnya secara berkesinambungan mentransformasi hara dari residu tanaman menjadi sumber hara N, P dan hara lainnya yang dapat digunakan oleh tanaman. Ketepatan manajemen tanah akan mempengaruhi komunitas mikroba dalam degradasi bahan organik sepanjang musim tanam. Perubahan ciri fisika, kimia, dan biologi tanah yang dihasilkan dari praktek manajemen dapat mengubah lingkungan tanah pendukung pertumbuhan populasi dan keanekaragaman mikroba dan fauna tanah, sehingga praktek manajemen yang dilakukan harus mempertimbangkan lingkungan agar tidak merusak keanekaragaman hayati. Keanekaragaman hayati yang terpelihara akan  memperbaiki kualitas tanah, sehingga  akan tercapai pertanian berkelanjutan. Tujuan  penelitian ini adalah untuk mempelajari  (1) hubungan antara aktifitas biologi mikroba (enzim β-glucosidase dan dehidrogenase) dengan kematangan kompos (C/N rasio) dan (2) teknik aplikasi pupuk hayati MTM dalam meningkatkan efisiensi pemupukan dan produktivitas padi sawah. Penelitian terdiri atas dua kegiatan yaitu di rumah kaca dan di lapangan. Penelitian di rumah kaca dengan judul  “Hubungan antara aktivitas mikroba dengan kematangan kompos” dilakukan di rumah kaca dengan menggunakan berbagai sumber karbon dan bentuk inokulan seperti cair, tepung. Penelitian di lapangan dengan judul “Teknik aplikasi pupuk hayati MTM dalam meningkatkan efisiensi pemupukan dan produktivitas padi sawah”,  dilaksanakan di Pusakaratu, Subang, Jawa Barat terdiri dari 9 perlakuan dengan 3 ulangan sebagai berikut 1). Dosis rekomendasi  (N- BWD, P dan K PUTS), 2). Dosis rekomendasi N- BWD, P-PUTS + Jerami sisa tanaman + MDec, 3). Perlakuan 2 + BioNutrient, 4) Perlakuan 2 + RPTT, 5). P-PUTS (tanpa N dan K) + BioNutrient, 6). P-PUTS (tanpa N dan K) + RPTT, 7). P-PUTS (tanpa N dan K) + PHG 50 kg/ha, 8).  Jerami disemprot MDec + Bio Nutrient + Pukan,  9). Jerami disemprot MDec + Hasil fermentasi mikroorganisme lokal. Hasil pengamatan terhadap tinggi tanaman menunjukkan bahwa perlakuan 7 (P-PUTS + PHG 50 kg/ha) menunjukkan tinggi tanaman yang setara dengan perlakuan pemupukan sesuai rekomendasi pemupukan PUTS.

Hasil penelitian  menunjukkan bahwa pengomposan bahan organik jerami dengan menggunakan inokulan MDec tepung menunjukkan hasil yang sama dengan MDec cair. Untuk pengomposan tandan kosong kelapa sawit penggunaan MDec cair lebih bagus dibandingkan MDec tepung dalam menurunkan C/N rasio. Sedangkan untuk pengomposan blotong, penggunaan MDec cair dan MDec tepung memberikan pengaruh yang sama dalam menurunkan C/N rasio.digunakan dibandingkan MDec tepung pembentukan anakan padi sawah memerlukan pemupukan kimia N, P, dan K.

Pada percobaan teknik aplikasi pupuk mikroba di lapang menunjukkan bahwa berat jerami tertinggi dicapai pada perlakuan Dosis rekomendasi (N-BWD, P dan K PUTS+Jerami sisa tanaman disemprot MDec. Sedangkan hasil gabah tertinggi dicapai pada perlakuan Dosis rekomendasi (N-BWD, P dan K PUTS+Jerami sisa tanaman disemprot MDec+ BioNutrient hasil gabah sebesar 7,60 t/ha. Pemberian BioNutrient tidak menunjukkan pengaruh yang nyata. Pemberian pupuk hayati hanya pada saat tanam belum mampu untuk mendukung pertumbuhan tanaman dengan umur yang relatif panjang, sehingga diperlukan pemberian pupuk hayati dengan frekuensi yang lebih intensif.

Pembenaman jerami sisa tanaman disemprot Mdec dan inokulasi BioNutrient atau RPTT pada bibit padi saat tanam memberikan pengaruh yang lebih baik terhadap hasil jerami dan hasil gabah dibandingkan hanya dengan pemupukan kimia saja.

  • Written by admin

Category: Laporan Kegiatan Penelitian 2008

Pendampingan Penerapan Teknologi Pengelolaan Lahan Untuk Mendukung Primatani

PENDAMPINGAN PENERAPAN TEKNOLOGI PENGELOLAAN LAHAN UNTUK MENDUKUNG PRIMATANI

Abstrak

Primatani merupakan model diseminasi teknologi yang dapat mempercepat penyampaian informasi dan bahan dasar inovasi teknologi pertanian yang dihasilkan Badan Litbang Pertanian kepada penggunanya. Primatani mempunyai fungsi ganda, yaitu sebagai modus diseminasi dan sekaligus sebagai laboratorium lapangan penelitian dan pengembangan Badan Litbang Pertanian.  Setiap lokasi laboratorium lapangan agribisnis Primatani mempunyai masalah lahan yang spesifik. Salah satu permasalahan di lokasi laboratorium agribisnis Sukabumi adalah terkait dengan aspek pembuatan kompos untuk meningkatkan kadar C-organik tanah dan untuk mendukung program Pemerintah Kabupaten Sukabumi dalam mengembangkan pertanian organik. Mengingat hal tersebut telah dilakukan pendampingan penerapan teknologi dalam kegiatan pengkajian beberapa dekomposer bekerja sama dengan BPTP Jawa Barat di lokasi laboratorium Prima Tani tersebut. Kegiatan pendampingan tersebut telah memberikan pelatihan dan praktek pembuatan dan penanganan kompos, praktek penggunaan PUTS, serta sosialisasi tiga buah juknis, yakni mengenai kompos, pengelolaan hara berimbang dan pengelolaan lahan kering berkelanjutan  kepada staf lapangan Prima Tani, penyuluh pertanian, dan para petani yang tergabung dalam kelompok tani (Gapoktan) Mekarjaya di Desa Bojongmekar, Kecamatan Cikembar, Sukabumi. Selain itu di lokasi Prima Tani tersebut telah dilakukan monitoring penerapan teknik konservasi tanah sebagai tindak lanjut dari kegiatan SL-KTA tahun 2007 pada lahan kering. Kemudian kegiatan sosialisasi formulasi teknologi pemupukan dan pengelolaan bahan organik dilakukan di BPTP Sulawesi Selatan. Dalam kegiatan tersebut diserahkan buku formulasi teknologi pemupukan dan konservasi tanah kepada para manajer laboratorium Prima Tani dan Kepala BPTP setempat, serta presentasi dan diskusi mengenai teknologi tersebut. Kegiatan lain yang dilakukan adalah sosialisasi IPTEK yang dihasilkan oleh Balai Penelitian Tanah kepada para kepala BPTP yang dilakukan oleh Kepala Balai Penelitian Tanah.

  • Written by admin

Category: Laporan Kegiatan Penelitian 2008

Penelitian Pengelolaan Tanah untuk Optimalisasi Lahan Kering Mendukung Peningkatan Produksi Pangan

PENELITIAN PENGELOLAAN TANAH UNTUK OPTIMALISASI LAHAN KERING
MENDUKUNG PENINGKATAN PRODUKSI PANGAN

Abstrak

Teknologi pemanfaatan pembenah tanah yang berbahan baku limbah pertanian yang sulit terdekomposisi belum banyak diteliti di daerah tropik khususnya Indonesia.  Karena itu diperlukan serangkaian penelitian yang bertujuan untuk (1) mendapatkan bahan baku pembenah tanah (arang) berbahan baku limbah pertanian yang sulit terdekomposisi yang berkualitas untuk merehabilitasi lahan, (2) mendapatkan formulasi pembenah tanah arang (biochar) dengan komposisi yang tepat untuk merehabilitasi lahan, dan (3) memperbaiki kualitas sifat fisik tanah dengan menggunakan bahan pembenah tanah berupa arang limbah pertanian guna meningkatkan produksi tanaman.  Hasil penelitian laboratorium menunjukkan bahwa melalui proses pembakaran tidak sempurna (pirolisis), jumlah arang yang dihasilkan sekitar 18,0-53,5%. Tempurung kelapa, kulit buah kakao dan sekam padi menghasilkan arang yang paling tinggi bila dibakar selama 3.5 jam, sedangkan hasil arang tertinggi dari tempurung kelapa sawit dicapai bila dibakar selama 1 jam. Kemampuan meretensi air paling tinggi dicapai bila dilakukan pembakaran selama 1 jam untuk arang tempurung kelapa dan tempurung sawit, serta pembakaran 3,5 jam untuk arang kulit buah kakao dan sekam padi. Kadar C-organik arang tempurung kelapa tergolong paling rendah yaitu hanya sebesar 1,37-1,70%, selain itu kandungan unsur hara makro yang terkandung dalam arang tempurung kelapa juga tergolong paling rendah baik yang dibakar 1 jam, 2 jam maupun 3,5 jam. Dengan pertimbangan sifat fisik dan kimia arang yang dihasilkan, maka telah terpilih 3 jenis bahan arang (biochar) terbaik yaitu kakao dengan lama pembakaran 3,5 jam; tempurung kelapa sawit dengan lama pembakaran 1 jam dan sekam padi dengan lama pembakaran 3.5 jam. Hasil percobaan di rumah kaca dengan menggunakan tanah kering masam dari Tamanbogo menunjukkan bahwa aplikasi formula SP75, SP50 dan KS50 ( dosis 5 t/ha) menghasilkan sifat fisik dan  kimia terbaik serta pertumbuhan tanaman yang tidak berbeda nyata hingga umur 8 MST. Hasil pengujian di lapang belum dapat dilaporkan karena masih dalam proses analisis.

  • Written by admin