Balittanah

Banner-balittanah1
Banner-balittanah2
BioNutrien
Bannerbalittanah5
Bannerbalittanah5
banner7
banner8
banner9
banner10
banner11
KarywanBalittanah
Antikorupsi1
Antikorupsi2
Antikorupsi3
Antikorupsi4
slide3
slide1
slide2

Dengan semakin mengemukanya isu perubahan iklim dan dengan adanya komitmen pemerintah untuk ikut menurunkan emisi gas rumah kaca (GRK), maka metode perhitungan neraca karbon dan startegi penurunan emisi GRK menjadi penting. Prof. Dr. Fahmuddin Agus dengan timnya telah melakukan suatu analisis perubahan stock karbon dan emisi CO2 sehubungan dengan perubahan penggunaan lahan menjadi lahan perkebunan. Studi ini menyimpulkan bahwa penggunaan lahan mineral dengan tutupan alang-alang dan semak belukar untuk perkebunan dapat berkontribusi menjerap (sequestrate) CO2 dari atmosfir. Hutan gambut akan berubah peran dari penjerap CO2 menjadi sumber emisi CO2 bila hutannya dibuka dan didrainase. Tingkat emisi ini dapat dikurangi bila lahan gambut  yang digunakan untuk pertanian/perkebunan adalah berupa belukar gambut. Akan tetapi penggunaan lahan gambut untuk pertanian pada umumnya memberikan net emisi positif. Pada kabupaten yang lahan gambutnya dominan, maka pemerintah serta masyarakat setempat akan tergantung pada penggunaan lahan gambut. Moratorium lahan gambut untuk jangka panjang akan mengganggu pembangunan dan sosial ekonomi masyarakat setempat. Oleh sebab itu moratorium gambut  hanya dapat dilaksanakan bila diikuti dengan penyediaan lapangan kerja dan sumber perekonomian alternatif bagi kabupaten dan provinsi yang kehilangan kesempatan (opportunity) untuk membangun lahan gambut. Aspek ekonomi dari penelitian ini diterangkan dalam makalah Herman et al (2009).