Balittanah

Banner-balittanah1
Banner-balittanah2
BioNutrien
Bannerbalittanah5
Bannerbalittanah5
banner7
banner8
banner9
banner10
banner11
KarywanBalittanah
Antikorupsi1
Antikorupsi2
Antikorupsi3
Antikorupsi4
slide3
slide1
slide2

Aplikasi pupuk an-organik seperti Urea, NPK, SP 36/ZA di Kabupaten Ngawi mungkin juga di sentra  produksi padi masih sangat tinggi bisa mencapai 800-900 kg/ha. Apakah tanaman memerlukan pupuk sebanyak itu. Kunci memberikan pupuk semestinya adalah sesuai dengan kebutuhan tanaman dan status hara dalam tanah.

Mengutip Penjelasan Dr. Sri Rochayat (Peneliti Balittanah), yang mudanya pernah lama meneliti pupuk di Cangakan-Ngawi, bahwa pemberian an-organik semestinya tidak sebanyak itu. Petani tidak merasa puas bila warna daun padi menjadi hijau kelam, walaupun pemberian pupuk an-oragnik yang tinggi tersebut tidak selalu diikuti hasil yang tinggi juga, bahkan boros dan mencemari lingkungan. Pemerintah terus berupaya meningkatkan provitas dan produktivitas padi. Peningkatan provitas bisa dilakukan menggunakan verietas unggul, pupuk, dan rekayasa budidaya tanaman padi.

Bertitik tolak dari hasil penelitian dan pengujian efektivitas beberapa produk yang mendukung budidaya M-Tani di Kabupaten Cianjur, Jawa Barat, maka dilaksanakanlah dem farm di Kabupaten Ngawi dan Sragen seluas 3.000 ha.  Sri Rochayati menambahkan bahwa hasil pengujian di Cianjur tersebut dengan menggunakan varietas M 400, pupuk organik remah, pupuk hayati penyubur tanah, pupuk hayati penyubur tanaman, pupuk hayati majemuk, pestisida hayatimenghasilkan gabah rata-rata 9,5 t/ha dengan kisaran 6,5 – 12 GKP t/ha. Selain itu, dengan budidaya tersebut serangan organisme pengganggu tanaman (OPT) dapat ditekan. Demikian juga budidaya ini berdasarkan hasil uji dapat menekan pupuk anorganik hingga setengahnya. Pemberian 180 kg/ha urea dan 200 kg NPK majemuk/ha atau setengah dosis anjuran sudah cukup untuk memberikan hasil yang memadai. Hasil penelitian tersebut direspon dengan sangat baik oleh Direktorat Jenderal Tanaman Pangan, Kementan, sehingga dirancang dan diimplementasikan di lapangan skala luas, sebagaimana bapak/ibu yang dapat dlihat bersama sekarang ini.

Suji, Ketua Poktan Sri Agung Desa Sukowiyono, Kec. Padas, Kabupaten Ngawi, sebelum mengikuti kegiatan Percepatan Peningkatan Produksi Padi melalui Pengembangan VUB, menggunakan 900 kg/ha pupuk anorganik, sekarang ini hanya menggunakan 350 kg NPK dan 100 kg urea. Penggunaan pupuk hayati, organik, pestisida hayati yang dikemas dalam bididaya M-Tani, petani mengamplikasikan ½ dosis pupuk anorganik. Jumlah anakan padi umur 21 hari setelah atanam bisa mencapai 30 anakan/rumpun.

Sri Rochayati menambahkan bahwa pengembalian semua jerami (5 t/ha) dapat memberikan sumbangan hara kalium setara dengan 50-100 kg KCl/ha. Suji juga merasa puas dengan apa yang diaplikasikan saat ini. Tidak lupa Sri Rochayati, Koordinator kegiatan, memberikan apresasi kepada Dinas Pertanian Kabupaten Ngawi beserta jajaranya, PT SBE, Peneliti Balittanah dan BPTP Jawa Timur, Koramil Ngawi, Polres Ngawi, Kelompok Tani, Aparat Kecamatan hingga Desa (Joko Purnomo, Sri Rochayati, dan Moch. Iskandar. 20 Desember 2017).