Balittanah

Banner-balittanah1
Banner-balittanah2
BioNutrien
Bannerbalittanah5
Bannerbalittanah5
banner7
banner8
banner9
banner10
banner11
KarywanBalittanah
Antikorupsi1
Antikorupsi2
Antikorupsi3
Antikorupsi4
slide3
slide1
slide2

Bertempat di Afdiling III unit usaha Bunut PTPN VI, kabupaten Muara Jambi, Propinsi Jambi telah dilaksanakan Temu Lapang Peningkatan Produktivitas Tanaman Kepala Sawit Melalui Aplikasi Langsung Fosfat Alam Reaktif Morocco.

Kegiatan ini dilaksanakan pada tanggal 13 Desember 2017 merupakan kerjasama antara Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian, Kementan dengan OCP SA.

Acara ini dihadiri oleh Kepala Balittanah, peneliti Balittanah, staf BPTP Jambi, Staf PTPN VI Jambi, Camat Muara Jambi, anggota DPRD Kab. Muara Jambi serta petani Muara Jambi.

Pada acara ini juga dilakukan kunjungan ke Demplot di areal unit Usaha Bunut PTPN VI ini. Acara diakhiri dengan diskusi.

Komoditas kelapa sawit merupakan andalan dan sumber devisa yang besar bagi perekonomian Indonesia. Produksi kelapa sawit Indonesia tahun 2016 mencapai 35 juta ton CPO dengan total ekspor mencapai 27 juta ton. Luas areal tanam kelapa sawit adalah 11,8 juta Ha.

Kelapa sawit umumnya ditanam di lahan masam baik lahan kering masam, lahan gambut dan lainnya yang memiliki keterbatasan tingkat kesuburan tanah. Indonesia memiliki luasan lahan masam sekitar 104 juta Ha yang mencakup 68% dari total luasan lahan pertanian (148 juta Ha). Lahan masam tersebut terutama tersebar di Pulau Sumatera, Kalimantan dan Papua. Sekitar 47 juta Ha lahan masam potensial dapat dimanfaatkan untuk pertanian maupun perkebunan. Saat ini lahan masam di Sumatera dan Kalimantan secara luas dimanfaatkan untuk tanaman pangan terutama jagung dan kedelai dan tanaman perkebunan seperti kelapa sawit.

Lahan kering masam memiliki permasalahan utama dengan ketersediaan fosfat (P) dalam tanah. Pupuk P yang diberikan dalam bentukcepat tersedia seperti SP-36 atau TSP akan segera dijerap oleh Fe dan Al yang mendominasi tanah masam sehingga menjadi tidak tersedia bagi tanaman. Sehingga untuk kondisi lahan kering masam diperlukan pupuk P dalam bentuk lepas lambat (slow release) namun sangat reaktif seperti reaktif fosfat dari Marocco.

Hingga saat ini produktivitas tanaman kelapa sawit rata-rata mulai dari 20-30 ton/ha tandan buah segar (TBS). Masih ada peluang potensi peningkatan produktivitas tanaman kelapa sawit.

Pemupukan merupakan salah satu komponen biaya terbesar mencapai 40-60% dari total biaya pemeliharaan dalam industri perkebunan kelapa sawit. Sehingga upaya efisiensi pupuk efisiensi pupuk menjadi sangat penting.

Hasil penelitian periode 2013-2015 di perkebunan kelapa sawit PT. CPKA di Kalimantan Selatan dan lahan milik Wilmar menunjukkan hasil sebagai berikut: Pemberian pupuk P dalam bentuk fosfat alam reaktif dari Marocco dapat meningkatkan produktivitas TBS hingga 15-20% dengan efisiensi pupuk mencapai 25%. Teknik aplikasi fosfat alam tidak berbeda nyata antara sistem pocket dengan sistem tabur (broadcast). (Husnain dan Moch. Iskandar, 13 Desember 2017).