Balittanah

Banner-balittanah1
Banner-balittanah2
BioNutrien
Bannerbalittanah5
Bannerbalittanah5
banner7
banner8
banner9
banner10
banner11
KarywanBalittanah
Antikorupsi1
Antikorupsi2
Antikorupsi3
Antikorupsi4
slide3
slide1
slide2

Secara nasional, provitas jagung di Jawa adalah 5.4 ton/ha, masih sangat rendah sehingga perlu dioptimalkan produktivitasnya. Tahun 2017 adalah target untuk mencapai swasembada jagung. Semua upaya untuk meningkatkan produktivitas dan produksi jagung menjadi prioritas Kementerian Pertanian.

Indonesia memiliki luasan lahan masam sekitar 104 juta Ha yang mencakup 68% dari total luasan lahan pertanian (148 juta Ha). Lahan masam tersebut terutama tersebar di Pulau Sumatera, Kalimantan dan Papua. Ke depan pengembangan lahan pertanian terutama adalah pada lahan masam tersebut. Sekitar 47 juta Ha lahan masam potensial dapat dimanfaatkan untuk pertanian maupun perkebunan. Saat ini lahan masam di Sumatera dan Kalimantan secara luas dimanfaatkan untuk tanaman pangan terutama jagung dan kedelai dan tanaman perkebunan seperti kelapa sawit.

Namun demikian, lahan kering masam memiliki permasalahan utama dengan ketersediaan fosfat (P) dalam tanah. Pupuk P yang diberikan dalam bentuk cepat tersedia seperti SP-36  atau TSP akan segera dijerap oleh Fe dan Al yang mendominasi tanah masam sehingga menjadi tidak tersedia bagi tanaman. Sehingga untuk kondisi lahan kering masam diperlukan pupuk P dalam bentuk lepas lambat (slow release) namun sangat reaktif seperti reaktif fosfat alam dari Morocco.

Pada tanggal 11 Desember 2017 telah dilaksanakan Temu Lapang Peningkatan Produktivitas Jagung Melalui Aplikasi Langsung Fosfat Alam Reaktif Morocco pada Lahan Kering Masam. Temu lapang ini kerjasama antara Balai Penelitian Tanah, Badan Litbang Pertanian dengan Office Chérifien des Phosphates (OCP S.A) Marocco. Acara ini diselenggarakan di Desa Braja Harjosari, Kecamatan Braja Selebah, Kabupaten Lampung Timur, dihadiri oleh Kepala Balittanah (Dr. Husnain), Staf BPTP Lampung, perwakilan OCP-SA (Dr. Abderrahim Nassir), Universitas Putra Malaysia (Dr. Tan Ngai Paing), peneliti Balittanah, penyuluh, dan petani desa Braja Harjosari.

Hasil penelitian jangka panjang di Indonesia pada tanaman pangan (1990-2002) menunjukkan bahwa fosfat alam reaktif Morocco yang diberikan dengan dosis 1 ton/ha yang diberikan 1 kali selama 5 musim tanam, dikombinasikan dengan pupuk kandang dapat meningkatkan produktivitas tanaman jagung minimal hingga 30% konsisten selama 5 musim tanam dengan efisiensi biaya hingga 25%. Hasil penelitian lanjutan pada tahun 2013-2017 di Taman Bogo, Lampung dan Banyu Asin, Sumsel tanah Ultisol menunjukkan produktivitas jagung rata-rata adalah 8-9 ton/ha sedangkan produktivitas jagung di Tanah Laut, Kalimantan Selatan menunjukkan hasil yang lebih tinggi yaitu antara 10-12 ton/ha.

Teknologi pengelolaan lahan kering masam yang optimal adalah dengan memberikan input yaitu kapur, bahan organik, dan fosfat alam reaktif serta pemupukan yang tepat, selain varietas tahan masam dan faktor lainnya. (Husnain dan Moch. Iskandar, 11 Desember 2017).