Balittanah

Banner-balittanah1
Banner-balittanah2
BioNutrien
Bannerbalittanah5
Bannerbalittanah5
banner7
banner8
banner9
banner10
banner11
KarywanBalittanah
Antikorupsi1
Antikorupsi2
Antikorupsi3
Antikorupsi4

Ruang Gerak Wanita Indonesia Sangat Luas

Sejarah Perjuangan Kartini berawal ketika ia yang berumur 12 tahun dilarang melanjutkan studinya setelah sebelumnya bersekolah di Europese Lagere School (ELS) dimana ia juga belajar bahasa Belanda.

Larangan untuk Kartini mengejar cita-cita bersekolahnya muncul dari orang yang paling dekat dengannya, yaitu ayahnya sendiri. Ayahnya bersikeras Kartini harus tinggal di rumah karena usianya sudah mencapai 12 tahun, berarti ia sudah bisa dipingit.

Selama masa ia tinggal di rumah, Kartini kecil mulai menulis surat-surat kepada teman korespondensinya yang kebanyakan berasal dari Belanda, dimana ia kemudian mengenal Rosa Abendanon yang sering mendukung apapun yang direncanakan Kartini.

Dari Abendanon jugalah Kartini kecil mulai sering membaca buku-buku dan koran Eropa yang menyulut api baru di dalam hati Kartini, yaitu tentang bagaimana wanita-wanita Eropa mampu berpikir sangat maju. Api tersebut menjadi semakin besar karena ia melihat perempuan-perempuan Indonesia ada pada strata sosial yang amat rendah.

Kartini juga mulai banyak membaca De Locomotief, surat kabar dari Semarang yang ada di bawah asuhan Pieter Brooshoof. Kartini juga mendapatkan leestrommel, sebuah paketan majalah yang dikirimkan oleh toko buku kepada langganan mereka yang di dalamnya terdapat majalah-majalah tentang kebudayaan dan ilmu pengetahuan.

Kartini kecil sering juga mengirimkan beberapa tulisan yang kemudian ia kirimkan kepada salah satu majalah wanita Belanda yang ia baca, yaitu De Hollandsche Lelie. Melalui surat-surat yang ia kirimkan, terlihat jelas bahwa Kartini selalu membaca segala hal dengan penuh perhatian sambil terkadang membuat catatan kecil, dan tak jarang juga dalam suratnya Kartini menyebut judul sebuah karangan atau hanya mengutip kalimat-kalimat yang pernah ia baca.

Sebelum Kartini menginjak umur 20 tahun, ia sudah membaca buku-buku seperti De Stille Kraacht milik Louis Coperus, Max Havelaar dan Surat-Surat Cinta yang ditulis Multatuli, hasil buah pemikiran Van Eeden, roman-feminis yang dikarang oleh Nyonya Goekoop de-Jong Van Beek, dan Die Waffen Nieder yang merupakan roman anti-perang tulisan Berta Von Suttner. Semua buku-buku yang ia baca berbahasa Belanda. Itulah Sekelumit cerita mengenai perjalanan perjuangan KARTINI.

Selanjutnya adalah pernyataan Dr. Husnain (Kepala Balai Penelitian Tanah, Badan Litbang Pertanian, Kementan):

“Hari ini tanggal 21 april 2017 kita memperingati hari kartini, kita harus bangga sebagai wanita Indonesia karena disini ruang gerak wanita Indonesia sangat luas. Kita bisa lihat di pemerintahan itu Indonesia mempunyai 9 menteri wanita, menteri terbanyak di dunia, menteri terbanyak di kabinet di dunia, kemudian di lingkungan kita sendiri juga profesi-profesi sangat vital yang dipegang oleh perempuan.

Sebagai, kebanyakan negara-negara lain sebagai contoh negara timur tengah, disana masih isu wanita bepergian sendiri, isu wanita mengemudi sendiri di mobil, apalagi wanita pekerja masih menjadi masalah. Di kita sudah tidak ada, kita bandingkan dengan negara maju, contohnya jepang di perguruan tinggi misalnya jarang ditemui professor wanita, di sana wanita menikah kemudian berhenti bekerja.

Tapi kondisi di Indonesia sangat kondusif untuk wanita bekerja, memang itu perlu dipikirkan bagaimana meningkatkan kualitas generasi muda kedepan dan ibu-ibu juga tidak boleh lupa mendidik anak yang memang sesuai perannya. Karena peran ibu juga sangat vital.

Jadi pesan saya kepada kartini-kartini di Balai Penelitian Tanah terutama agar meningkatkan kapasitas kita dan mensyukuri bahwa kita diberikan kesempatan sehingga sampai kondisi sekarang ini. Terima kasih”. (Moch. Iskandar dan Firman, 21/04/2017).