Simple Responsive Menu

1 | 2 | 3 | 4 | 5 | 6 | 7 | 8 | 9 | 10 | 11

Biochar: Mudah, Murah dan Ramah Lingkungan

Apa itu biochar?

Sejatinya biochar adalah arang. Nama biochar dipakai karena biochar berasal dari sisa biomas dan diharapkan bersifat ramah dan aman terhadap lingkungan. Biochar adalah produk sampingan dari proses pyrolysis. Pyrolysisdapat diartikan sebagai proses dekomposisi dengan menggunakan energy panas atau pembakaran tetapi dengan oksigen terbatas. Hasil utama dari pyrolysisini adalah energy panas, energi listrik atau bahkan bahan bakar nabati (biofuel).

Prinsip ramah lingkungan biochardapat dijelaskan dalam beberapa hal. Dari segi bahan asal, biochartermasuk bahan yang dapat diperbaharui (renewable). Lebih lanjut, biochardapat dikatakan sebagai salah satu alternative pengelolaan limbah. Limbah pertanian yang selama ini belum dimanfaatkan dan sulit dikomposkan dapat dimanfaatkan untuk biochar. Proses penanganan limbah yang tidak ramah lingkungan, seperti pembakaran (menghasilkan CO2) dapat dihindari. Pembiaran limbah pada kondisi anaerob dan aerob juga memiliki resiko. Limbah yang tidak dikelola dengan baik pada kondisi aerob akan menghasilkan CO2, sedangkan pada kondisi anaerob dapat menghasilkan CO2 dan CH4 (methane). Dipastikan juga limbah yang digunakan sebagai bahan baku biochar tidak dimanfaatkan sebagai pakan ternak, sehingga tidak terjadi persaingan antara biochar-ternak.

Fungsi biochar sebagai pembenah tanah, dan sebagai bentuk sekuestrasi (penambatan) karbon juga dapat dikatakan sebagai fungsi biocharterhadap lingkungan. Pembuktian secara empirik sudah banyak dilakukan, menunjukkan bahwa biochar dapat meningkatkan kesuburan dan C organik tanah. Peningkatan kesuburan tanah tentu saja berkorelasi positif terhadap upaya pengurangan deforestasi. Masyarakat akan malas merambah hutan jika produktifitas lahan pertanian mereka meningkat. Mereka akan lebih suka mengolah tanah mereka sendiri.

Teknologi produksi biochar manakah yang bersih dan ramah lingkungan?

Biochar diyakini dapat menjadi salah satu strategi mitigasi perubahan iklim. Kombinasi energy alternative dari pyrolysisdan aplikasi biocharsebagai pembenah tanah diharapkan mampu mengurangi CO2dari atmosfer. Titik kritis dari upaya ini adalah pada proses produksi biochar. Pada umumnya, alat produksi biochar sederhana dan berskala kecil merupakan alat produksi yang lambat dan sumber pencemaran. Lambat dalam artian memerlukan waktu lama untuk menghasilkan arang, bisa dalam ukuran hari. Dikatakan sumber pencemaran karena tidak ada perlakuan terhadap syngas (sintesis gas) hasil pyrolysis. Komposisi syngas adalah CO2, CO, dan H. Proses pembuatan biochar juga dapat melepaskan gas-gas lain seperti CH4, NO, N2O, NOx, dan aerosol (asap ataupun debu-debu sangat halus/particulate matter /PM 2,5 dan PM 10). Komponen-komponen tersebut berbahaya bagi kesehatan manusia, dan juga merupakan penyumbang efek rumah kaca. Pada skala industri, kualitas biochar memang sangat baik dan dengan proses produksi yang bersih (rendah polusi dan emisi), tetapi investasi pada alat semacam ini sangat tinggi. Pada daerah-daerah terpencil dengan tingkat pendapatan rendah dan akses transportasi yang kurang memadai, alat produksi biochar yang mahal tidak dapat diterapkan.

Balai Penelitian Tanah, Badan Litbang Pertanian, Kementan setidaknya sudah menerapkan dua macam teknologi bersih dan relatif lebih murah dibanding dengan alat produksi skala industri yaitu tungku retort (Adam Retort Kiln/ARK) (Gambar 2) dan Tungku Kon Tiki (Gambar 1). ARK adalah tungku bata modifikasi yang dirancang oleh J. C. Adam, versi murah dari tungku retort yang dipakai di negara maju. ARK diklaim memiliki produktifitas lebih baik dari pada tungku tanahtradisional (pembakaran di dalam galian tanah/earth mound kiln), 20-30 % lebih tinggi dan dengan pengurangan emisi gas hingga 75 %. Pada sistem retort, gas berbahaya saat pyrolysis didistribusikan kembali dan kemudian dibakar dan dibebaskan ke udara dalam bentuk CO2. ARK sudah dibangun di KP Taman Bogo. Kekurangan dari ARK adalah dibutuhkan jumlah kayu yang banyak sebagai sumber pengapian awal. ARK juga tidak bisa dikatakan sebagai alat produksi skala kecil, tetapi lebih cocok diterapkan pada kelompok tani.

Teknologi tungku Kon Tiki juga sudah diujicobakan oleh Balai Penelitian Tanah di KP Taman Bogo Lampung, Lamongan,  dan Nusa TenggaraTimur. Kon Tiki dirancang pada tahun 2014 oleh Hans Peter Schmidt di Swis, dan sekarang sudah menyebar ke berbagai belahan dunia (Gambar 3). Nama Kon Tiki berasal dari nama perahu sederhana (kalau bisa dibilang rakit) yang dipakai oleh Thor Hayerdahl untuk menyebrang dari Peru ke kawasan Polynesia (Kepulauan Tuamotu) pada tahun 1947. Kon Tiki sendiri adalah nama dewa matahari bangsa Inca. Hayerdahl ingin membuktikan bahwa orang-orang jaman dahulu sudah mampu melakukan pelayaran jarak jauh dengan alat sederhana, dan mampu berinteraksi dengan kebudayaan lain. Tungku Kon Tiki untuk produksi biochar bisa dibuat dari plat besi yang dilipat berbentuk kerucut (cone) ataupun hanya dengan galian yang juga berbentuk kerucut (cone). Pembakaran dengan menggunakan Kon Tiki dengan volume 2 m3 dapat menghasilkan 500 kg biochar, dalam waktu 3 jam danhanyasatu orang pekerja. Biaya yang dibutuhkan untuk membuat Kon Tiki ini setara dengan Rp 300.000, 00 (3 orang tenaga kerja dengan upah Rp 100.000,00). 

Cara kerja dari  Kon Tiki adalah pembakaran dengan sedikit asap (smokeless). Pembakaran dilakukan selapis demi selapis, dapat dilihat pada link https://www.youtube.com/watch?v=-AebWIpGu4I (sumber Ithaka institute Swis). Bahan pertama diletakkan sebagai sumber pengapian. Ketika bahan tersebut sudah menyala sempurna, tambahkan kembali bahan lainnya. Jaga api tetap menyala. Proses tersebut dilakukan secara berulang hingga kapasitas Kon Tiki terpenuhi. Proses dikatakan selesai jika sudah terbentuk lapisan abu pada bagian atas. Jika proses yang kita lakukan betul, maka asap tidak akan terbentuk (smokeless fire). Dari segi keamanan bagi lingkungan, Kon Tiki dianggap relatif lebih baik dari cara retort.  Konsentrasi CO dan NOx yang dihasilkan Kon Tiki lebih rendah dari cara retort. Proses smokeless fire menjaga produksi bahan-bahan pencemar pada proses pembuatan biochar dengan Kon Tiki selalu rendah. (Jubaedah 17/04/2017)

Gambar 1

Gambar 2

Gambar 3

 

 

 

 

 

  1. Berita Terbaru
  2. Info Teknologi
  3. Info Aktual
  4. Peta
  5. Poster
IAARD-ISRI Attended 2019 KAPEX Training In Korea

IAARD-ISRI Attended 2019 KAPEX Training In Korea

18 June 2019
Korean Agricultural Policy Experiences for Food Security (KAPEX) Training is one of programs of collaboration…
2019 APEC Workshop on Smart Agriculture Policies for Sustainable Growth

2019 APEC Workshop on Smart Agriculture Policies for Sustainable Growth

17 June 2019
Digital innovation and new technology have emerged as one of the means that play a…
Field Visit Tim RDA-AFACI, Korea dan Balittanah, Balitbangtan ke Lokasi Desa Organik di Jawa Tengah

Field Visit Tim RDA-AFACI, Korea dan Balittanah, Balitbangtan ke Lokasi Desa Organik di Jawa Tengah

13 June 2019
Kegiatan field visit tersebut dilakukan pada tgl 11-13 Juni 2019 yang didahului dengan kunjungan instansi…
Kunjungan Tim RDA-AFACI, Korea

Kunjungan Tim RDA-AFACI, Korea

11 June 2019
Pagi ini Balittanah mendapat kunjungan Tim dari RDA (Rural Development Administration)-AFACI, yaitu Dr. Byonggu Ko…
Workshop Aplikasi Monev Lingkup Kementerian Pertanian TA 2019 Wilayah Jawa dan Kalimanatan 

Workshop Aplikasi Monev Lingkup Kementerian Pertanian TA 2019 Wilayah Jawa dan Kalimanatan 

26 April 2019
Dalam rangka Penerapan Aplikasi SmArt (PMK 214/PMK 02/2017) dan Aplikasi e-Monev Gen III Versi 3.0…
Kick Off Workshop Kerjasama Penelitian Balittanah-KREI, Korea

Kick Off Workshop Kerjasama Penelitian Balittanah-KREI, Korea

24 April 2019
Dalam rangka menindaklanjuti Penandatangan Perjanjian Kerjasama Penelitian antara Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian dan Korea…
Pelatihan Sistem Mutu ISO 17025:2017

Pelatihan Sistem Mutu ISO 17025:2017

23 April 2019
Laboratorium merupakan sarana yang penting dalam menunjang berbagai macam penelitian. Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian…
Kunjungan Mahasiswa Universitas Tidar

Kunjungan Mahasiswa Universitas Tidar

10 April 2019
Dalam rangkaian kunjungan mahasiswa beserta dosen Universitas Tidar Magelang ke Kampus Pertanian Cimanggu Bogor, sebanyak…
Peran Lignoselulolitik Merombak Limbah Serat Tinggi menjadi Pupuk Organik Granul (POG)

Peran Lignoselulolitik Merombak Limbah Serat Tinggi menjadi Pupuk Organik Granul (POG)

30 April 2015
Limbah Pertanian dan Limbah Industri berupa, sekam padi, kelapa sawit, jerami padi dan serbuk gergaji,…
Pengukuran Cadangan Karbon Tanah Gambut

Pengukuran Cadangan Karbon Tanah Gambut

09 May 2014
Lahan gambut merupakan penyimpan karbon dalam jumlah sangat besar. Karbon yang terkandung di dalam tanah…
Simpanan Karbon dan Emisi CO2 Lahan Gambut

Simpanan Karbon dan Emisi CO2 Lahan Gambut

16 April 2012
SIMPANAN KARBON DAN EMISI CO2 LAHAN GAMBUT Tanah gambut menyimpan C yang jauh lebih tinggi…
Penelitian Pengomposan dengan “DSAplus” Selulotik dan Lignolitik 25%

Penelitian Pengomposan dengan “DSAplus” Selulotik dan Lignolitik 25%

15 September 2011
Penelitian Pengomposan dengan “DSAplus” Selulotik dan Lignolitik <5 Hari untuk Pembuatan Foliar Biofertilizer dan Biostimulant…
Teknologi Pengelolaan Lahan Berbasis Sistem Usaha Tani Integrasi Tanaman Ternak (SITT) untuk Meningkatkan Kualitas Tanah >15% Mendukung Program Swasembada Daging Sapi (PSDS)

Teknologi Pengelolaan Lahan Berbasis Sistem Usaha Tani Integrasi Tanaman Ternak (SITT) untuk Meningkatkan Kualitas Tanah >15% Mendukung Program Swasembada Daging Sapi (PSDS)

15 September 2011
Teknologi Pengelolaan Lahan Berbasis Sistem Usaha Tani Integrasi Tanaman Ternak (SITT) untuk Meningkatkan Kualitas Tanah…
Pemanfaatan Teknologi Nano untuk Meningkatkan Efisiensi Pupuk>25%

Pemanfaatan Teknologi Nano untuk Meningkatkan Efisiensi Pupuk>25%

15 September 2011
Pemanfaatan Teknologi Nano untuk Meningkatkan Efisiensi Pupuk>25% Study on nanotechnology to improvefertilizerefficiency>25% Dalam upaya mencapai…
Pengelolaan Lahan dan Pemupukan untuk Meningkatkan Produktivitas Hortikultura >20% Mendukung Pengembangan Kawasan Hortikultura

Pengelolaan Lahan dan Pemupukan untuk Meningkatkan Produktivitas Hortikultura >20% Mendukung Pengembangan Kawasan Hortikultura

13 September 2011
Pengelolaan Lahan dan Pemupukan untuk Meningkatkan Produktivitas Hortikultura >20% Mendukung Pengembangan Kawasan Hortikultura Land Management…
Teknologi Pengelolaan Lahan dan Pemupukan untuk Meningkatkan Produktivitas Lahan >15%, Pemupukan>35%, Mendukung P2BN

Teknologi Pengelolaan Lahan dan Pemupukan untuk Meningkatkan Produktivitas Lahan >15%, Pemupukan>35%, Mendukung P2BN

13 September 2011
Teknologi Pengelolaan Lahan dan Pemupukan untuk Meningkatkan Produktivitas Lahan >15%, Pemupukan >35%, Mendukung P2BN Technology…
Perpustakaan

Perpustakaan

26 February 2019
Balai Penelitian Tanah (Balittanah) merupakan Perpustakaan khusus, yang fungsi utamanya menyediakan informasi sesuai dengan mandat…
Kegiatan 2018

Kegiatan 2018

31 January 2019
RPTP (Rencana Penelitian Tingkat Peneliti) 1. Penelitian Formulasi Pupuk dan Pembenah Tanah, Penyusunan dan Penyempurnaan…
Kegiatan 2017

Kegiatan 2017

31 January 2019
RPTP (Rencana Penelitian Tingkat Peneliti) 1. Penelitian Penyusunan Informasi Geospasial dan Sistem Pengelolaan Sumberdaya Lahan…
Kegiatan 2016

Kegiatan 2016

31 January 2019
RPTP (Rencana Penelitian Tingkat Peneliti) 1. Penelitian Formulasi dan Teknik Produksi Pupuk dan Pembenah Tanah…
Kegiatan 2015

Kegiatan 2015

31 January 2019
RPTP (Rencana Penelitian Tingkat Peneliti) 1. Pemetaan Lahan Terdegradasi Mendukung Pertanian Berkelanjutan di Propinsi Jawa…
Kegiatan 2014

Kegiatan 2014

31 January 2019
RPTP (Rencana Penelitian Tingkat Peneliti) 1. Penelitian Formulasi Pupuk dan Pembenah Tanah Mendukung Produktivitas Pertanian…
Kegiatan 2013

Kegiatan 2013

31 January 2019
RPTP (Rencana Penelitian Tingkat Peneliti) 1. Penelitian Pengembangan Teknologi Pengelolaan Lahan Sawah Mendukung Swasembada Pangan…
Kegiatan 2012

Kegiatan 2012

31 January 2019
RPTP (Rencana Penelitian Tingkat Peneliti) 1. Aktivitas Mikroba Dan Perubahan Cadangan Karbon Pada Berbagai Sistem…
Prosedur Standar Pelayanan Publik

Prosedur Standar Pelayanan Publik

30 January 2019
Prosedur Standar Pelayanan
Peta-peta Lahan Kering dan Lahan Sawah Kab. Bangka Tengah

Peta-peta Lahan Kering dan Lahan Sawah Kab. Bangka Tengah

03 February 2016
Lahan Kering:- Peta Observasi- Peta Kadar C-Organik- Peta Status Hara Fosfat- Peta Status Hara Kalium-…
Peta-peta Fosfat Sawah Jawa Tengah

Peta-peta Fosfat Sawah Jawa Tengah

09 August 2012
1. Fosfat Sawah Cirebon 2. Fosfat Sawah Jawa Tengah dan Yogyakarta
Peta-peta C-Organik Sawah Jawa Tengah

Peta-peta C-Organik Sawah Jawa Tengah

09 August 2012
1. C-Organik Sawah Cirebon 2. C-Organik Sawah Jawa Tengah dan Yogyakarta 3. C-Organik Sawah Madiun…
Peta-peta Kalium Sawah Jawa Timur

Peta-peta Kalium Sawah Jawa Timur

06 August 2012
1. Kalium Sawah Denpasar 2. Kalium Sawah Jawa Timur 3. Kalium Sawah Madiun 4. Kalium…
Fosfat Sawah Jawa Timur

Fosfat Sawah Jawa Timur

06 August 2012
1. Fosfat Sawah Denpasar 2. Fosfat Sawah Jawa Timur 3. Fosfat Sawah Madiun 4. Fosfat…
Peta-peta C-Organik Sawah Jawa Timur

Peta-peta C-Organik Sawah Jawa Timur

06 August 2012
1. C-Organik Sawah Denpasar 2. C-Organik Sawah Jawa Timur 3. C-Organik Sawah Madiun 4. C-Organik…
   
   
   
   
   

Hubungi Kami

Slogan Agro Inovasi

 
 
 

 

SCIENCE . INNOVATION . NETWORKS

Balai Penelitian Tanah
Jl. Tentara Pelajar No.12 Bogor Jawa Barat 16114 Indonesia
balittanah@litbang.pertanian.go.id Telp :+622518336757
Fax :+622518321608; +622518322933