Balittanah

Banner-balittanah1
Banner-balittanah2
BioNutrien
Bannerbalittanah5
Bannerbalittanah5
banner7
banner8
banner9
banner10
banner11
KarywanBalittanah
Antikorupsi1
Antikorupsi2
Antikorupsi3
Antikorupsi4
slide3
slide1
slide2

Berita Terbaru

Lokasi Calon Kegiatan Blok Program Lahan Kering Masam (LKM)

Mulai tahun anggaran 2018, Balai Besar Litbang Sumberdaya Lahan Pertanian (BBSDLP), Balitbangtan, Kementan bersama dengan Balit-balit di bawah koordinasinya (Balittanah, Balitklimat, dan Balingtan) akan melaksanakan kegiatan Blok Program Pengembangan Jagung pada ekosistem lahan kering masam di Provinsi Lampung. Untuk mewujudkan program tersebut, pada tanggal 12 Oktober 2017 yang lalu, peneliti lingkup BBSDLP yaitu: Dr. Neneng Laela Nurida, Dr. Maswar, bersama Kepala Kebun Percobaan (KP) Tamanbogo, Lampung Timur (Ir. Ishak Juarsah MM) dan teknisi KP Tamanbogo (Achmad Samsun, SP) mulai mencari lokasi yang diperkirakan tepat dan layak untuk pelaksanaan kegiatan tersebut (sesuai dengan spesifikasi yang disyaratkan) yaitu: luasan ± 100 ha dalam satu hamparan lahan, kelompok tani aktif, aksesbilitas mudah, potensi sumber air untuk bisa meningkatkan IP, dan lahan kering dengan pH masam.

Berdasarkan hasil identifikasi dari beberapa daerah yang telah dikunjungi, dan berdiskusi dengan aparat terkait (kepala desa) telah diperoleh 2 lokasi yang menurut identifikasi awal layak untuk dijadikan lokasi kegiatan tersebut. Lokasi yang dianggap memenuhi kriteria yang dipersyaratkan tersebut adalah:

Lokasi Desa Purwosari, Kecamatan Natar, Kabupaten Lampung Selatan

Lokasi ini merupakan salah satu daerah sentra produksi jagung di Provinsi Lampung. Petani pada umumnya melaksanakan 2 (dua) kali tanam dalam satu tahun yaitu MT 1 dimulai pada bulan November – Januari, dan MT 2 dimulai pada bulan Februari – Mei. Pada musim tanam pertama jenis tanaman yang dibudidayakan agak beragam, namun masih didominasi oleh jagung. Pada musim tanam ke 2 petani mengusahakan jagung secara serentak (>95 % jagung), dan pada bulan Juni – September ditanami jagung dan/atau sayuran. Pada lokasi ini ada potensi untuk meningkatkan IP menjadi 3 kali (lebih luas) dalam setahun. Hal ini didukung dengan adanya potensi sumberdaya air tersedia yang selama ini belum optimal di manfaatkan, yaitu adanya sejenis cekungan (alur sungai mati) pada lokasi tersebut (Gambar 1).

 Gambar 1. Cekungan/alur sungai mati yang berpotensi menyediakan air untuk musim tanam ke 3 di Desa Purwosari, Kecamatan Natar, Kabupaten Lampung Selatan.

Pada lokasi ini, ada 18 kelompok tani yang aktif, dimana masing-masing kelompok terdiri dari 20 – 30 orang petani. Pada budidaya jagung petani telah mengintroduksikan pemenfaatan pupuk kandang ayam dengan dosis 2,5 - 3,0 ton/ha. Pemupukan pupuk kimia dosis : Phonska: 400 kg/ha; Urea: 400 kg/ha; dan bahakan ada yang sampai 600-700 kg/ha menggunakan Urea. Produktivitas rata-rata sekitar 10 ton/ha (jagung + tongkol). Keragaan hamparan lahan disajikan pada Gambar 2. 

 Gambar 2. Keragaan hamparan lahan kering masam di Desa Purwosari, Kecamatan Natar, Kabupaten Lampung Selatan yang berpotensi digunakan sebagai kegiatan Blog Program di lahan kering masam.

Lokasi Desa Margototo, Kecamatan Metrokibang,  Kabupaten Lampung Tengah

Lokasi ini juga merupakan salah satu daerah sentra produksi jagung di Provinsi Lampung. Petani pada umumnya melaksanakan 3 (tiga) kali tanam dalam satu tahun yaitu MT 1 dimulai pada bulan November – Januari, MT 2 dimulai pada bulan Februari – Mei, dan MT 3 pada bulan Juni - September. Pada musim tanam pertama jenis tanaman yang dibudidayakan seragam yaitu jagung monokultur. Pada musim tanam ke 2 petani mengusahakan jagung dan jenis tanaman lain yaitu Cabe Merah, sedangkan MT-3 disamping menanam jagung petani juga menanam sayuran. Pada lokasi ini juga ada potensi untuk meningkatkan luas tanam pada MT-3 kali. Hal ini didukung dengan telah dibungannya 2 (dua) buah sumur bor oleh PU pada tahun 2017 ini, namun belum bisa beroperasi, karena pengadaan mesin pompanya baru dianggarkan pada tahun anggaran (TA) 2018 (Gambar 3), sedangkan keragaan hamparan (landscape) lokasi ini terlihat pada Gambar 4. Menurut informasi, setiap sumur bor dapat mengairi lahan seluas 1500 ha.

 

 

 

Gambar 3. Sumur bor yang sudah dibangun pada lokasi lahan kering masam (LKM) di  Desa Margototo, Kecamatan Metrokibang,  Kabupaten Lampung Tengah.

 

 

Gambar 4. Keragaan lanscape lahan kering masam (LKM) di Desa Margototo, Kecamatan Metrokibang, Kabupaten Lampung Tengah.

Kondisi selama ini dalam melaksanakan budidaya jagung, petani telah menggunakan pupuk kandang ayam/kambing dosis  480 kg/ha. Pupuk kimia yaitu Phonska dosis 200 kg/ha, dan Urea dosis 400 kg/ha. Dengan manajemen seperti saat ini yang diterapkan petani, rata-rata produktivitas jagung adalah sekitar 6 ton/ha jagung pipilan kering. Masalah utama yang dihadapi petani saat ini adalah ketersedian/sulitnya mendapatkan benih jagung (khususnya jenis hybrida). (Maswar dan Moch. Iskandar, 18 Oktober 2017).

  • Written by admin

Laboratorium Penguji sebagai Sarana Pelayanan Publik

Balai Penelitian Tanah (Balittanah) dalam melaksanakan tugas pokok dan fungsinya dilengkapi, laboratorium penguji. Laboratorium Penguji (LP) Balittanah terdiri dari 5 (lima) laboratorium, yaitu kimia tanah, fisika tanah, biologi tanah, mineralogi tanah, dan laboratorium pilot plan pengembangan pupuk hayati unggulan nasional.

LP Balittanah sudah berdiri sejak tahun 1905 dengan nama Laboratorium voor Agrogeologieen Grond Onderzoek yang merupakan bagian dari Kebun Raya Bogor. LP Balittanah dikelola berdasarkan standar SNI/ISO IEC 17025-2008 sejak tahun 2004 dengan 175 parameter uji terakreditasi. LP Balittanah menjadi anggota uji terakreditasi internasional yang diselenggarakan oleh WEPAL (Belanda), baik untuk uji silang tanaman dan tanah.

Untuk meningkatkan kapasitas pengujian, kecepatan, dan keakuratan pengujian, LP Balittanah dilengkapi dengan peralatan laboratorium yang tergolong modern. LP Balittanah menyelenggarakan pengujian untuk komoditas tanah, tanaman, air dan pupuk (hayati, organik dan anorganik).

Dalam keterbukaan informasi dan pelayanan publik, pada tanggal 16 Oktober 2017, LP Balittanah telah dikunjungi oleh 75 Mahasiswa D3 Kimia Institut Pertanian Bogor.

Kunjungan dilakukan ke Laboratorium Kimia Tanah. Pada kunjungan ke Laboratorium Kimia Tanah dijelaskan mekanisme pelayanan contoh tanah, tanaman, pupuk dan air masuk ke pelayanan Laboratorium Kimia serta menjelaskan alur pekerjaan di Laboratorium Kimia Tanah. Dijelaskan juga cara kerja beberapa peralatan laboratorium kimia tanah antara lain: (1) AAS (Atomic Absorbtion Spectrometer) (2) MP-AES (Micro Plasma-Atomic Emmision Spectrometer), dan (3) Spectrophotometer.

Selanjutnya di Laboratorium Fisika Tanah dikunjungi dan dijelaskan parameter dan peralatan yang ada, antara lain: (1) ruangan penetapan pF: pada ruangan ini dijelaskan cara kerja water holding capacity yaitu alat untuk m,engetahui banyaknya air yang dapat dipertahankan oleh tanah pada tekanan tertentu; (2) ruangan penetapan luas permukaan secara mikro (surface area). Alat ini berfungsi untuk mengetahui ukuran pori dan diameter dari jenis tanah tertentu; dan 3) Ruangan permeabilitas dan agregat stability: Alat permeabilitas berfungsi untuk mengukur kecepatan hantar air di dalam tanah dalam satuan cm/jam.

Pada sesi terakhir adalah kunjungan ke Laboratorium Biologi Tanah yang menjelaskan berkaitan dengan (1) analisis mutu; (2) kegiatan penelitian biologi tanah Balittanah; (3) identifikasi mikroba; (4) ruang transfer mikroba; (4) ruang sterilisasi dan dekontaminasi; (5) ruang biokimia untuk analisis enzim tanah. (Tia Rostaman, Arief Budianto, Erny Yuniarti, dan Moch. Iskandar. 17 Oktober 2017)

  • Written by admin

Aplikasi Co-compost Biochar

Pada musim tanam pertama 2017/2018 akan dilakukan demo plot aplikasi pembenah tanah biochar dalam bentuk biochar enriched Phonska dan  co-compost biochar. Kegiatan dilakukan di  Desa Sukadana Ilir, Kecamatan Sukadana, Lampung Timur.

Co-compost biochar adalah mencampurkan biochar sebagai bahan tambahan ke dalam bahan utama kompos (kotoran hewan) dengan proporsi sekitar 10-20% volume. Tujuan pembuatan co-compost biochar adalah untuk meningkatkan efektivitas kompos dimana unsur hara yang dilepas selama proses dekomposisi (mineralisasi) akan diserap dan masuk ke dalam rongga biochar sehingga tidak hilang dan lebih tersedia bagi tanaman.

Proses pembuatan co compost biochar di lapang dilakukan pada tanggal 12 Oktober 2017 oleh tim Balittanah (peneliti dan teknisi) beserta petani kooperator. Co-compost biochar akan diaplikasikan untuk tanaman jagung bersamaan dengan pemberian biochar enriched Phonska.

Adapun proses pembuatannya dimulai dengan mencampur kotoran sapi dengan biochar lalu ditumpuk agak melebar. Setelah itu, disiram dengan dekomposer AgroDeko yang sudah diencerkan, lalu diaduk hingga merata kemudian ditutup rapat dengan terpal dan disimpan (inkubasi ) minimal selama  15 hari. Selama proses inkubasi bahan kompos diaduk sebanyak 3 kali. Jika kompos sudah matang, maka co-compost biochar siap diaplikasikan. (Neneng L. Nurida dan Moch. Iskandar. 13 Oktober 2017).

  • Written by admin

Wawancara Petani Plasma Kegiatan KP4S

Tujuan kegiatan untuk menggali data primer mengenai cara bertani jagung yang dilakukan para petani di sekitar lokasi Kegiatan “Kerjasama Penelitian, Pengkajian, dan Pengembangan Pertanian Strategis (KP4S) Aplikasi Fosfat Alam pada Tanah Masam” di Desa Braja Harjosari, Kec. Braja Selebah, Lampung Timur. 

Petani yang diwawancarai adalah petani yang mendapatkan pupuk Fosfat Alam dari Kegiatan KP4S yang digunakan untuk usahatani jagung. Wawancara dilakukan pada tanggal 11 dan 12 Oktober 2017 dengan melibatkan 3 orang enumerator.

Berusahatani jagung yang dilakukan petani yang tergabung dalam Poktan Ramayana 1 dan 2 relatif beragam, baik dilihat dari jumlah dan jenis pupuk yang digunakan, varietas jagung, dan pengolahan tanah. Akibatnya produktivitas jagung juga beragam. Bahkan panen jagungpun masih cukup banyak yang ditebaskan. Secara kuantitatif keragaman tersebut belum bisa disajikan karena diperlukan tahapan pengolahan data.

Ada beberapa petani yang sangat menonjol dalam budidaya jagung, salah seorang di antaranya adalah Bapak Nyoman Warnite (47 th). Ia sudah berorientasi jagung hybrida tetapi tanpa olah tanah (TOT), dan memprioritaskan pupuk kandang yang didukung oleh keberadaan embung mini (40 m3) milik sendiri untuk sumber air pengairan saat musim kemarau.

Keragaan vegetatif jagung Pak Nyoman sangat kontras (paling baik) dibandingkan dengan tanaman jagung petani lain di sekitarnya, termasuk tanaman jagung pilot plot KP4S. Pak Nyoman menanam jagung lebih awal daripada petani lainnya, yakni tanggal 25  Agustus 2017. Jagung petani lainnya dan lokasi pilot plot ditanam pada minggu ke-2 September 2017. Awal tanam jagung Pak Nyoman dimungkinkan karena TOT, sedangkan petani lain mengolah tanahnya dengan cara dibajak menggunakan traktor yang sudah tentu bergiliran.

Sebagai gambaran betapa bagusnya jagung Pak Nyoman dibandingkan jagung lainnya dapat dilihat pada Gambar 1 (jagung Pak Nyoman) vs Gambar 2 (petani lainnya) dan Gambar 3 (pilot plot). (Irawan dan Moch. Iskandar, 12 Oktober 2017).

  • Written by admin

Aplikasi Biochar yang Diperkaya dengan Pupuk Anorganik

Pada musim tanam pertama  2017/2018 akan dilakukan demo plot aplikasi pembenah tanah biochar yang diperkaya dengan pupuk anorganik (biochar enriched fertilizer) di Desa Sukadana Ilir, Kecamatan Sukadana, Lampung Timur.

Tujuan kegiatan ini adalah untuk meningkatkan efktivitas pupuk anorganik sekaligus perbaikan lahan melalui pemberian pembenah tanah biochar. Proses ini menyebabkan pupuk anorganik diserap dan masuk ke dalam rongga biochar sehingga tidak mudah larut dan tetap tersedia bagi tanaman.

Persiapan di lapang dilakukan tanggal 11 Oktober 2017 oleh tim Balai Penelitian Tanah (peneliti dan teknisi) beserta petani kooperator.

Pada musim tanam pertama ini, jenis tanaman yang akan ditanam petani cukup beragam yaitu jagung, ubikayu dan padi gogo, sedangkan jenis pupuk yang digunakan adalah Phonska, Urea dan KCl. Jenis pupuk anorganik yang akan diberikan bersama dengan biochar adalah Phonska yang diaplikasikan saat tanam (1/2 dosis). Proses pencampuran dimulai dengan Phonska 1-2 kg dilarutkan dalam air sebanyak 42 L kemudian dcampur dengan biochar 100 kg. Setelah campuran tersebut cukup homogen, lalu masukkan ke dalam kantung plastik yang tertutup rapat dan disimpan minimal selama  14 hari sebelum tanam.

Cara aplikasi di lapangan adalah di dalam larikan (jagung dan ubikayu) dan disebar (padi gogo). (Neneng L. Nurida dan Moch. Iskandar. 11 Oktober 2017).

  • Written by admin