Balittanah

Banner-balittanah1
Banner-balittanah2
BioNutrien
Bannerbalittanah5
Bannerbalittanah5
banner7
banner8
banner9
banner10
banner11
KarywanBalittanah
Antikorupsi1
Antikorupsi2
Antikorupsi3
Antikorupsi4

Berita Terbaru

Public Hearing: Standar Pelayanan Masyarakat di Balittanah

Kegiatan Public Hearing (PH) telah dilakukan pada tanggal 16 Juni 2017 bertempat di ruang rapat Balai Penelitian Tanah (Balittanah). Acara tersebut dihadiri oleh masyarakat pengguna jasa layananan Balittanah, mencakup UK dan UPT Balitbangtan, Ditjen PSP, Laboratorium IPB, PT Pupuk Kujang, PT SBE, PT Agricon, Seameo Biotrop, serta Kepala Balittanah dan 34 staf Balittanah.

Beberapa kesepakatan hasil PH antara lain: (1) Maklumat pelayanan bahwa Balittanah dengan ini menyatakan akan selalu berusaha memberikan pelayanan berkualitas, cepat, mudah, transparan, aman, nyaman, dan terukur serta akuntabel sesuai standar pelayanan yang telah ditetapkan dan bersedia menerima sanksi untuk setiap pengaduan yang tidak ditindaklanjuti sesuai peraturan perundangan yang berlaku; (2) Waktu layanan; (3) Biaya analisis sesuai dengan PP Tarif; (4) Mekanisme konsultasi pengadua; dan (5) Alur pelayanan pengujian laboratorium.(Ijang, Irawan, dan Moch. Iskandar 17/06/2017).

  • Written by admin

Memasyarakatkan Biochar

Ketika beberapa penelitian sudah dapat membuktikan bahwa biochar itu bermanfaat bagi tanah, bahkan lebih jauh dikatakan memiliki potensi sebagai salah satu strategi adaptasi perubahan iklim, adalah sewajarnya jika penerapan biochar secara lebih luas harus disosialisasikan. Salah satu kegiatan penelitian di Balai Penelitian Tanah (Balittanah) melalui kerja sama antara Balai Besar Sumber Daya Lahan Pertanian (BBSDLP) dan Norwegian Geotechnical Institute (NGI) tahun 2017 adalah upaya memasyarakatkan biochar melalui training dan demonstrasi plot pada tingkat petani.

Kegiatan-kegiatan tersebut sudah dipersiapkan sejak akhir tahun 2016. Dimulai dengan kunjungan tim NGI dan Balittanah ke Desa Sukadana Ilir, Lampung Timur dan melakukan pertemuan serta diskusi dengan petani, disertai dengan kunjungan lapang guna melihat kondisi lahan petani. Pada pertemuan tersebut, tim NGI dan balittanah mensosialisasikan cara pembuatan biochar dengan metode KonTiki (http://balittanah.litbang.pertanian.go.id/ind/index.php/en/berita-terbaru-topmenu-58/1295-biochar-murah), juga berdiskusi tentang praktek usaha tani dalam keseharian mereka.

Kunjungan tim NGI dan Balittanah dilanjutkan ke Lamongan, Jawa Timur. Desa yang dikunjungi yaitu Desa Banyubang, Solokuro. Di Desa Banyubang terdapat Taman Teknologi Pertanian (TTP) yang berada dalam pengawasan Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) Jawa Timur. TTP Banyubang mengadopsi sistem pertanian zero waste (nol limbah), dengan integrasi antara tanaman jagung dan sapi potong. Pada kunjungan ke Lamongan, dilakukan audiensi antara petani, jajaran pemda Kab. Lamongan (bupati, wakil bupati, kadis, dan staf lain), dan tim NGI-Balittanah. Kunjungan tersebut diakhiri dengan kunjungan lapang ke TTP Banyubang.

Kedua lokasi (Lampung Timur dan Lamongan) tersebut sudah ditetapkan sebagai lokasi demonstrasi plot praktik penggunaan biochar pada tingkat petani. Pada masing-masing lokasi terdapat 10 orang petani yang ikut berperan dalam demplot tersebut. Sebelum demplot dimulai (sekitar bulan September/Oktober) dilakukan pengumpulan data dengan metode survey di kedua lokasi tersebut pada bulan April 2017. Tujuan dari survey tersebut adalah untuk mengumpulkan informasi dasar tentang praktik usaha tani, penggunaan energi pada rumah tangga petani, pengetahuan umum petani (tentang tanah, erosi tanah, dan perambahan hutan). Data hasil survey dapat digunakan untuk menilai potensi kelestarian dan keberlanjutan biochar, jika kelak diterapkan oleh petani.

Bahan baku biochar yang akan diproduksi di kedua lokasi (Lampung Timur dan Lamongan) merupakan bahan baku yang banyak dijumpai di sekitar kedua lokasi tersebut. Di Lampung timur akan menggunakan batang singkong, sedangkan di Lamongan akan menggunakan sisa tanaman jagung (batang, janggel, kelobot). Cara tersebut sesuai dengan prinsip in situ (bahan baku didapat di lokasi, tanpa biaya tambahan), dan dipastikan tidak ada persaingan dengan hewan ternak (bahan baku yang dipakai bukan tanaman untuk pakan ternak).  (Jubaedah, 22/05/2017).

 

  • Written by admin

Kelimpahan Cacing Tanah

Cacing tanah merupakan makro fauna tanah yang berperan penting sebagai penyelaras berlangsungnya ekosistem yang sehat bagi biota tanah, hewan dan manusia. Cacing tanah selama ini diketahui sebagai makhluk yang berguna untuk menyuburkan tanah dan sebagaimakanan ternak. Fungsi cacing tanah terhadap kesuburan tanah yaitu sebagai bahan mineralyang dicerna oleh cacing tanah dan dikembalikan ke dalam tanah dalam bentuk nutrisi yang mudah dimanfaatkan oleh tanaman, selain itu kotoran cacing tanah juga kaya akan unsur hara.

Peran cacing tanah terhadap sifat fisik tanah yaitu dapat memperbaiki aerasi dan drainase di dalam tanah, menguraikan bahan organik,membantu pengangkutan sejumlah lapisan tanah dari bahan organik, dan  dapat memperbaiki struktur tanah, sehingga tanah menjadi subur.

Kesuksesan pertanian dapat dilihat dari hasil panen yang dipengaruhi oleh berbagai faktor antara lain :jenis tanaman, pengelolaan tanah, fauna tanah yang mendukung lahan pertanian. Oleh karena itu perlu ada tindakan dalam konservasi dan pengelompokan cacing tanah diberbagai areal pertanian untuk melihat keanekaragaman fauna tanah pada tiap area yang berbeda. Hal itu diperlukan untuk dapat mengamati paramater fisika dankimia tanah, seperti derajat keasaman tanah, kadar air tanah dan suhu tanah untuk mengetahui pengaruhnya terhadap keanekaragaman tersebut.

Pengelompokan cacing tanah pada areal pertanian dilakukan sebagai salah satu tahapan untuk mengetahui penggolongan jenis cacing tanah. Adapun areal pertanian yang dilakukan dalam penelitian tersebut yaitu: lahan pertanian dan rerumputan (sekitar Kantor Balittanah), perkebunan pisang (wilayah Yasmin) dan perkebunan intensif (sekitar Kantor BB. Biogen). Semua lokasi tersebut adalah di daerah Bogor. Ada beberapa metode pengambilan sample cacing tanah yaitu : (1) metode kuadrat (persegi), (2) metode Bor, (3) metode transek atau diagonal, (4) metode stratified, (5) metode acak penuh, dan (6) metode zigzag. Pengambilan sample cacing tanah pada penelitian ini megunakan metode kuadrat.

Tahapan pengambilan sample tanah sebagai berikut: (1) tetapkan titik sampling tanah, (2) batasi areal tanah seluas 1 m2 (panjang 1 m, lebar 1 m), lalu digali sedalam ± 30 cm, (3) kemudian dicangkul dan diamati kandungan faunanya. Cacing yang terkumpul dimasukkan kedalam ember dan diberi sedikit tanah asalnya agar cacing dapat bertahan hidup.

Pengelompokan cacing tanah cacing berdasarkan  bentuk, warna,dan ukuran lalu dimasukkan dalam wadah berisi formalin 4%ditutup setelah  tidak bergerak lagi baru dihitung segmen klitelium (organ pembentukan telur). Pengamatan dilakukan berdasarkan bentuk mulut ,letak lubang kelamin jantan, dan susunanbulu-bulu yang melekat pada kepalasemua diamati dengan menggunakan mikroskop.

Berdasarkan histogram spesies cacing tanah Endaogaesis dari genus Pheretima. Endogaesis hidup di dalam tanah dekat permukaan tanah, membuat lubang terowongan permanen, ditemukan pada kedalaman 20 - 45 cm dengan keadaan tanah lembab dan gembur, dalam dan meluas, kotoran di dalam lubang, tidak berwarna, tanpa penyamaran, pemakan: tanah, bahan organik dan akar-akar mati. Jenis tersebut banyak ditemukan  pada semua lokasi penelitian. Cacing ini ditemukan pada kedalaman 20 cm ke bawah dengan keadaan tanah lembab dan gembur.

Cacing tanah epigaesis banyak ditemukan di area tanah yang disekitarnya terdapat banyak sampah organik. Cacing tersebut aktif dipermukaan pada kedalaman kurang dari 8 cm, warna gelap, penyamaran efektif, tidak membuat lubang, kotoran tidak nampak jelas, pemakan serasah di permukaan tanah dan tidak mencerna tanah.

Penelitian menunujukkan pada area pertanian (rumput, pisang, kacang-kacangan dan jagung) ditemukan cacing tanah jenis Endogaesis yang paling banyak dibandingkan dengan Epigaesis. Sedangkan pada kadar air  yang paling tinggi yaitu pada   area kacang-kacangan, diikuti dengan area rumput dan jagung selanjutnya paling rendah kadar airnya yaitu pada area pisang.. Derajat keasaman (pH) tanah pada tiap lokasi tidak menunjukkan perbedaan yang mencolok berkisar sekitar 4 sampai 6 yang berarti tanah tersebut masam-agak masam. Suhu tanah pada tiap lokasi berkisar antara 25,5˚C - 28˚C.

Kelimpahan cacing tanah di atas dipengaruhi oleh berbagai faktor, baik faktor biologis lingkungan maupun faktor fisikokimiawi tanah tempat hidup cacing tersebut. (Elsanti, 02/05/2017).

 

  • Written by admin

Finalisiasi draft Permentan Pupuk An-organik

Bertempat di Ruang Rapat II Balai Penelitian Tanah (Balittanah) telah dilakukan sosialisasi dan finalisiasi draft Permentan 43/2011 tentang Tatacara Pendaftaran Pupuk An-organik.

Public hearing untuk lahirnya Permentan yang baru tersebut juga sudah dilaksanakan di Kementan. Peneliti Balai Penelitian Tanah (Balittanah), Badan Litbang Pertanian, Kementan banyak terlibat dalam pembahasan PTM tersebut, setelah Plublic hearing ada beberapa hal yang perlu direspon dari masyarakat.

Acara tersebut dihadiri oleh Kepala BBSDLP (Dr. Dedi Nursyamsi) dan sekitar 25 peneliti dan staf laboratorium penguji Balittanah dibuka oleh Kepala Balittanah (Dr. Husnain).

Kepala BBSDLP dalam arahannya,  menyampaikan tiga hal, yaitu (1) Tim pupuk Balitbangtan yang sudah dibentuk akan diperluas selain pupuk, adalah pestisida, sehingga perlu melibatkan peneliti Balingtan dan Balitro dan Balit-balit lainnya; (2) Mengantisipasi perkembangan ilmu pengetahuan, perlu langkah-langkah antisipatif terhadap perkembangan pupuk dalam arti luas. Badan Litbang Pertanian adalah dalam posisi legislator pembuat undang-undang dan harus berpihak dan bekerja untuk Kementerian Pertanian dan petani; (3) PTM harus disesuaikan dengan perkembangan ilmu pengetahuan, terkait ketelitian alat dan batasan untuk lingkungan. Kepentingan pemerintah, pengusaha dan petani yang akan membangun pertanian secara bersama-sama. (Joko Purnomo dan Moch. Iskandar, 28/04/2017).

 

 

  • Written by admin

Pemberian Lisensi Agrimeth

Bertempat di Ruang Rapat II Balai Penelitian Tanah (Balittanah), Badan Litbang Pertanian, kementan telah dilaksanakan penandatangan lisensi pupuk hayati Agrimeth antara Balittanah dengan Koperasi Pegawai Republik Indonesia (KPRI) Puspita. Lisensi tersebut merupakan keempat kalinya dilisensi oleh perusahaan/koperasi.

Penandatanganan tersebut dilakukan oleh Kepala Balittanah (Dr. Husnain, M.Sc) dengan Ketua KPRI Puspita (Dr. I Wayan Suastika) 

Dalam sambutannya, Kepala Balittanah antara lain mengatakan: Walaupun Balittanah dan KPRI Puspita adalah dekat, tetapi KPRI Puspita harus mandiri untuk memproduksi, mempromosikan, memasarkan Agrimeth. Koperasi ke depan harus punya tempat produksi/pabrik sendiri dengan tenaga kerja yang mumupuni dan profesional, lanjutnya lagi.

Selanjutnya Ketua KPRI Puspita (Dr. I Wayan Suastika) yang baru dilantik tersebut, menyampaikan bahwa  hari ini merupakan debut yang pertama setelah pelantikan dan langsung tancap gas. Penandatangan lisensi ini merupakan angin segar bagi KPRI Puspita dan Anggotanya.

Penandatangan ini juga dihadiri oleh Kepala Balai PATP (Dr. Retno Sri Hartati Mulyandari) yang menyambut baik acara ini. Jayalah Pertanian Indonesia. (Joko Purnomo dan Moch. Iskandar, 26/04/2017).

 

  • Written by admin