Simple Responsive Menu

1 | 2 | 3 | 4 | 5 | 6 | 7 | 8 | 9 | 10 | 11

Berita Terbaru

Gunung Kidul adalah salah satu kabupaten di Daerah Istimewa Yogyakarta yang dikenal sebagai daerah tandus yang selalu mengalami kesulitan air, baik untuk keperluan air bersih maupun keperluan air untuk pertanian. Salah satu wilayah yang tergolong tandus tersebut adalah Desa Nglipar, Kecamatan Nglipar, Kabupaten Gunung Kidul. Kondisi tersebut merupakan suatu tantangan tersendiri bagi pemerintah setempat dalam mengembangkan kegiatan pertanian, termasuk usahatani tanaman padi.

Dalam upaya mencari solusi terkait kondisi tersebut, bertempat di Desa Nglipar, Kecamatan Nglipar, Kabupaten Gunung Kidul pada Selasa (16/01) lalu diadakan "Penjaringan Umpan Balik Penerapan Teknologi Larik Gogo (Largo) Super". Kegiatan tersebut dihadiri oleh Kepala Puslitbangtan, Kadis Pertanian dan Pangan Kabupaten Gunung Kidul, Staf Ahli Bupati Kabupaten Gunung Kidul, Kepala BPTP Yogyakarta, Camat Nglipar, Danramil Nglipar, Tim Largo Super, dan 240 petani.

Largo adalah terobosan teknologi budidaya padi gogo dengan merekayasa jumlah populasi per ha minimal 200.000 rumpun dengan menerapkan cara tanam jajar legowo. Penanaman dilakukan dengan alsin tabela larik pola jarwo 2:1. Varietas unggul padi gogo Inpago 8, 9, 10 dan IPB 9G provitas tinggi adalah kombinasi wajib larik gogo plus pupuk hayati, pestisida nabati dan biodekomposer. Paket teknologi largo super tersebut menggunakan pupuk hayati Agrice dan Biodekomposer Agrodeko yang dihasilkan oleh Balai Penelitian Tanah.

Kepala Dinas Pertanian dan Tanaman Pangan Kabupaten Gunung Kidul mengatakan puluhan hektar lahan pertanian di kabupaten tersebut sudah terdampak kekeringan dan ada beberapa hektar dipastikan gagal panen. Beliau berharap Program Largo ini dapat meningkatkan produksi padi Kabupaten Gunung Kidul. (Els, As, Mis, 21 Januari 2019).

 

Dua peneliti Balai Penelitian Tanah (Balittanah) yang telah memasuki purna tugas di penghujung 2018 melakukan orasi purna tugas yang diselenggarakan di Gedung Agrosinema Badan Litbang Pertanian di Bogor, Senin (21/01). Kedua peneliti tersebut adalah Dr. Ir. Achmad Rachman, M.Sc., Peneliti Madya bidang Fisika dan Konservasi Tanah dan Dr. Ir. I Gusti Putu Wigena, M.Si., Peneliti Madya bidang Kimia dan Kesuburan tanah.

Kepala Balai Besar Litbang Sumberdaya Lahan Pertanian Prof. Dr. Dedi Nursyamsi, M.Agr. dalam sambutannya menyatakan bahwa kedua penelti yang memasuki purna tugas tersebut telah banyak memberikan kontribusi bagi Balai Penelitian Tanah. Lebih lanjut Beliau menyampaikan melalui orasi purna tugas ini kedua peneliti dapat membagi ilmu dan pengalaman yang dapat ditularkan kepada peneliti yang lebih muda.

Dr. Ir. Achmad Rachman, M.Sc. dalam orasi berjudul "Serpihan Pemikiran untuk Penelitian Tanah ke Depan" menyampaikan bahwa beliau memulai karier di Balai Penelitian Tanah sebagai Tenaga Detaser di Jambi. Menurut Beliau, suka dan duka yang diperoleh selama menjadi tenaga detasir merupakan pengalaman yang sangat berharga dan berguna dalam mengembang tugas sebagai peneliti maupun pejabat struktural, baik sebagai Kepala Balai Penelitian Tanah, Kepala Balai Penelitian Lahan Rawa, maupun Atase Pertanian di USA.

Dalam orasinya Beliau juga menyampaikan bahwa sebagai pembelajaran dari berbagai pengalaman tersebut, peneliti tanah perlu terlibat dalam empat fungsi, yakni (1) Signaling function: Memperbanyak publikasi baik ilmiah maupun populer; (2) Policy preparation function: Aktif menyampaikan masukan ke stakeholder berdasarkan hasil penelitian; (3) Decision making function: terlibat dalam proses pengambilan keputusan; dan (4) Implementation function: Berpartisipasi aktif dalam implementasi program kementerian atau Lembaga.

Dr. Ir. I Gusti Putu Wigena dalam orasi berjudul "Pengalaman dan Kontribusi Pemikiran Menuju Sistem Usahatani Presisi (SUP)" menyampaikan bahwa belaiu juga mengawali karir sebagai tenaga detaser di Jambi bersama Dr. Ir. Achmad Rachman, M.Sc. Selama berkarier sebagai peneliti, Dr. Ir. I Gusti Putu Wigena melaksanakan tugas penelitian di berbagai agroekosistem baik itu lahan kering, lahan sawah, dan lahan rawa. Selain sebagai peneliti, Beliau juga sempat ditugaskan sebagai Kepala BPTP Kalimantan Tengah.

Dr. Ir. I Gusti Putu Wigena. M.Si. menyampaikan bahwa pola detasering sangat penting dalam menempa tenaga peneliti, sehingga sebelum ke lapangan tenaga detaser harus dibekali teori (pelaksanaan kegiatan di lapangan, hasil-hasil penelitian, statistik, dan teknik berkomunikasi). Beliau juga berharap pihak manajemen memberikan apresiasi yang “lebih” terhadap petugas detasering.

Terkait dengan Sistem Usahatani Presisi, beliau menuturkan bahwa salah satu formula strategi pengembangan SUP adalah dengan manfaatkan SDM yang memadai dan mengimplementasikan kebijakan Pemerintah untuk melaksanakan pengembangan Pusat Unggulan IPTEK Pengelolaan Tanah Berkelanjutan.

Sementara itu, Kepala Balai Peneltian Tanah Dr. Husnain, M.Sc. menyampaikan bahwa kedua peneliti yang memasuki purna tugas tersebut memiliki dedikasi yang tinggi dan kontribusinya nyata untuk kemajuan Balai Penelitian Tanah. Beliau juga menuturkan bahwa sebenarnya Balai Penelitian Tanah sangat merasa kehilangan karena kedua peneliti tersebut merupakan aset yang luar biasa.

Di akhir acara orasi, Kepala Balai Besar Sumberdaya Lahan Pertanian, Kepala Balai Penelitian Tanah, dan Ketua Kelompok Peneliti memberikan cenderamata serta ucapan terima kasih kepada kedua peneliti yang telah purna tugas. (Ashs dan M.Is, 21 Januari 2019).

Bertempat di Ruang Seminar Lt 2 Balai Penelitian Tanah pada 16 Januari 2019 dilakukan Penandatanganan Perjanjian Kinerja Tahun 2019 Eselon IV Balai Penelitian Tanah disaksikan oleh Kepala Balai Penelitian Tanan dan Kepala Balai Besar Sumber Daya Lahan Pertanian. Kepala Balai Besar Sumber Daya Lahan Pertanian dalam arahannya mengatakan bahwa setiap kita memiliki kontrak kerja dan harus bertanggung jawab kepada atasannya.  Di akhir tahun, kontrak kerja tersebut harus terealisasi dan dievaluasi oleh atasannya. Beliau juga menambahkan bahwa “Catatan penting bagi peneliti, tuntutan produk hasil penelitian yang sederhana dan mudah diterapkan sangat diperlukan bagi kemajuan pertanian kita. Harus diingat, tupoksi kita di lembaga penelitian Kementerian Pertanian adalah untuk menunjang kebijakan nasional. Jadi mari menghasilkan output penelitian yang bermanfaat bagi petani dan seluruh stake holder kita. Jangan melakukan penelitian yang di awang-awang.”

Selanjutnya, masih di tempat yang sama, Kepala Balai Besar dan Kepala Balittanah juga mengikuti Kegiatan Sosialisasi Peraturan LIPI No. 14 tahun 2018 tentang Juknis Jabatan Fungsional Peneliti. Narasumber acara ini adalah Prof. Dr. Fahmuddin Agus, peneliti senior di Balai Penelitian Tanah, dan dihadiri oleh hampir semua jenjang peneliti di Balittanah. Prof. Fahmuddin menegaskan “beban peneliti untuk naik jenjang semakin berat demi kualitas peneliti itu sendiri. Kita ingin hasil penelitian kita bisa dipertanggungjawabkan dan dimanfaatkan oleh bangsa ini”. Menurut beliau juga, semua persyaratan tersebut bukannya tidak bisa dicapai, tapi diperlukan kesungguhan dan kerja keras untuk bisa bertahan dan bahkan meraih jenjang paling tinggi di jabatan fungsional.

Sesi sosialisasi Jabatan Fungsional tersebut diakhiri dengan penetapan pembimbingan berjenjang antar peneliti, peneliti yang lebih senior membimbing peneliti di bawahnya agar mampu menghasilkan output berupa karya tulis ilmiah yang baik. Sebagai catatan tambahan dari Profesor Fahmuddin adalah terkait pengisian Satuan Kerja Pegawai (SKP) yang diisi setiap tahun. Peneliti diharapkan bersungguh-sungguh mengisi SKP, agar target tahunan tercapai dan tidak menurunkan performa kinerja pribadi. (Jbd, Ashs, 16 Januari 2019).  

Dalam rangka persiapan pembentukan Badan Layanan Umum (BLU), Balittanah menyelenggarakan Sosialisasi Persiapan Pembentukan BLU pada 17 Januari 2019 lalu di Gedung Agrosinema Balitbangtan. Kegiatan yang diikuti oleh peneliti, staf administrasi dan staf laboratorium Balittanah serta mengundang tiga narasumber dari Kementan (Ir. M. Yunus, MM; Zarwisman, SE., MM; dan Ir. Teguh Munajat, MM) itu dibuka secara resmi oleh Kepala Balittanah, Dr. Husnain.

Balai Penelitian Tanah adalah salah satu dari empat institusi Badan Litbang Pertanian, yang akan diusulkan berstatus Badan Layanan Umum (BLU). Ketika status Badan Layanan Umum terpenuhi, artinya Balai Penelitian Tanah dapat membiayai sendiri dan berkontribusi bagi pendapatan negara bukan pajak (PNBP).

Dalam paparannya Ir. M. Yunus, MM. menyatakan bahwa peningkatan PNBP bukan hal yang sulit. Apalagi, seperti umumnya satuan kerja Litbang Pertanian lain, Balittanah sudah terbiasa bekerja sama dengan instansi lain. Lebih lanjut disampaikan bahwa sebagai persiapan awal, selain persiapan administrasi, harus juga dilakukan penghitungan ulang semua potensi yang dimiliki Balittanah untuk meningkatkan PNPB. (Ashs, 18 Januari 2019).

Rutinitas dan kegiatan tahun 2019 sudah dimulai, kesibukan akan segera terpampang di depan mata. Demi perbaikan dan hasil yang lebih baik, koordinasi antar elemen di Balai Penelitian Tanah (Balittanah) menjadi sangat penting. Senin, 14 Januari, diadakan rapat koordinasi pertama kali di tahun 2019. Rapat koordinasi dipimpin langsung oleh Kepala Balittanah, Dr. Husnain, MP., M.Sc, dan dihadiri oleh seluruh jajaran staf Balittanah, baik pejabat struktural, peneliti, staf laboratorium, dan seluruh bagian manajemen. 

Dalam arahannya, Kepala Balai menegaskan bahwa kerja sama solid dari setiap elemen di Balittanah akan menghasilkan capaian kinerja optimal. Realisasi anggaran tahun 2018 sebesar 96,83 % sangat baik. Harapan di tahun 2019, kinerja Balittanah akan lebih baik lagi. Berkurangnya sumber daya peneliti,di tahun 2019 diharapkan tidak mengurangi kinerja. Periode pertengahan 2018-awal tahun 2019 Balittanah melepas 5 peneliti senior yang memasuki masa purna bakti. Hasil capaian lain yang menggembirakan di tahun 2018 adalah Balittanah menerima sertifikat Komite Nasional Akreditasi Pranata Penelitian dan Pengembangan (KNAPPP) dan lulus untuk dibina sebagai salah satu lembaga Pusat Unggulan IPTEK (PUI). Hal lain yang harus diperkuat adalah Sistem Pengendalian Internal (SPI), sehingga monitoring dan evaluasi kegiatan lebih terarah dan terpantau.

Tahun 2019 juga tahun terakhir Renstra sehingga output kegiatan harus tercapai. Demi kelancaran kegiatan di Balittanah, tema riset tahun 2020 harus dipikirkan sejak sekarang. Diharapkan, di masa-masa yang akan datang output penelitian Balittanah lebih aplikabel dan sederhana bagi petani. Di tahun 2019, Balittanah juga melakukan penyegaran di bidang managemen. Ada beberapa staf yang berpindah bagian kerja demi kelancaran proses pelayanan di Balittanah. Sosialisasi jabatan fungsional peneliti juga akan dilakukan dalam waktu dekat, sehingga para peneliti semakin faham tentang PERKA LIPI 2018. Segala produk penelitian Balittanah juga akan dipergencar untuk promosinya, sehingga program diseminasi juga semakin luas jangkauannya (Jbd, Ashs, M.Is, 15 Januari 2019).

Hubungi Kami

Slogan Agro Inovasi

 
 
 

 

SCIENCE . INNOVATION . NETWORKS

Balai Penelitian Tanah
Jl. Tentara Pelajar No.12 Bogor Jawa Barat 16114 Indonesia
balittanah@litbang.pertanian.go.id Telp :+622518336757
Fax :+622518321608; +622518322933