bitcoin casino crypto casino crypto gambling crash betting game crash gambling game bitcoin gambling

Simple Responsive Menu

1 | 2 | 3 | 4 | 5 | 6 | 7 | 8 | 9 | 10 | 11

Menelisik “Biosaka”, Pelengkap Pertumbuhan Hasil Kearifan Lokal Warga Blitar

Beberapa pekan ke belakang, masyarakat pertanian dikejutkan dengan adanya pemberitaan mengenai pupuk organik cair hasil karya petani milenial dari Kabupaten Blitar, Jawa Timur, yang diklaim dapat menggantikan ataupun mengurangi pupuk anorganik dan organik hingga 75%. Hal ini tentunya sangat menarik untuk ditelisik, untuk itu pada kesempatan di hari Kamis, 12 Mei 2022, Balai Penelitian Tanah (Balittanah), Balai Besar Litbang Sumber Daya Lahan Pertanian (BBSDLP), Badan Litbang Pertanian Kementan, berkesempatan hadir dan menjadi narasumber dalam diskusi dengan berbagai stakeholder baik tingkat pusat (Tim Teknis perbenihan kedelai, perwakilan IRRI, tim subdit Serealia dan Akabi, peneliti Balitkabi, praktisi dari Universitas Brawijaya) maupun Kabupaten (kadis dan jajarannya), beserta tokoh utama pencipta “Biosaka” tersebut di Kabupaten Blitar, Jawa Timur.

Tim yang hadir saat itu disambut oleh stakeholder setempat, baik Dinas Pertanian Kabupaten Blitar hingga Bupati Kabupaten Blitar. Bupati Blitar Hj. Rini Syarifah, A. Md menyambut baik kedatangan Tim dari Kementan dan meminta agar hasil kreatifitas warganya dapat dibina dengan baik.

Muhammad Anshar selaku pencipta “Biosaka” mengatakan bahwa produknya berasal dari rumput-rumputan, ilalang atau tanaman apapun yang ada disekitar lahan sawah ataupun tegalan asalkan dalam kondisi sehat. Pria asli Jawa Timur tersebut mengatakan bahwa proses pembuatan Biosaka harus secara manual (diremas) tidak dapat menggunakan alat seperti blender atau sejenisnya. “Saya berharap adanya tim yang hadir saat ini dapat membantu saya untuk meriset dan mendampingi dari sisi akademik” ujarnya. Biosaka mulai diformulasi sejak tahun 2006, dan pada tahun 2021 mulai menyebar keluar dari kecamatan Wates, Blitar.

Dalam paparannya, Kepala Balai Penelitian Tanah Dr. Ir. Ladiyani Retno Widowati, M.Sc menjelaskan bahwa untuk dapat dikatakan pupuk, suatu produk harus memenuhi Persyaratan Teknis Minimal (PTM) yang telah ditetapkan. “Dalam hal ini, kandungan Biosaka kemungkinan adalah SAP atau cairan hasil serapan hara dan atau hasil fotosintesis dan klorofil yang berisi C, H, N, Mg dan Zat Pengatur Tumbuh (ZPT), vitamin, enzim dan asam organik yang semua itu harus dibuktikan dengan analisa di laboratorium” terangnya.

Kepala Balittanah juga menambahkan bahwa analoginya seperti makan, manusia membutuhkan karbohidrat, protein dan bahan pelengkap lain seperti vitamin dan mineral. Sama halnya dengan Biosaka, bahan ini belum dapat dikatakan pupuk karena kandungan haranya sangat rendah, namun tergolong suplemen bagi tanaman. Untuk mendukung pemahaman tentang kebutuhan hara tanaman ataupun keseimbangan hara (nutrient balance) Balittanah juga menyerahkan 1 unit Test Kit berupa Perangkat Uji Tanah Sawah (PUTS) untuk Dinas Pertanian Kabupaten Blitar. Sebelumnya, cara penggunaan perangkat tersebut juga dipraktekkan terlebih dahulu di hadapan petani, penyuluh dan masyarakat setempat yang hadir saat itu oleh koordinator Penyuluh Desa Water dan didampingi peneliti Balittanah Kiki Zakiah, SP., MP.

Hal senada juga disampaikan oleh Prof. Hasil Sembiring, peneliti senior pada Badan Litbang Pertanian Kementan dan Kepala perwakilan IRRI-Indonesia. Beliau turut mengapresiasi karya anak muda, namun demikian perlu dipertanggungjawabkan dari segi ilmiahnya. “Ilmiah itu kejam, benar itu benar dan salah itu salah sehingga produk harus bisa diulang dengan cara yang sama” ujarnya.

Pada kesempatan tersebut, Tim dari Kementerian Pertanian yang difasilitasi oleh Ditjen Tanaman Pangan melihat langsung proses pencarian bahan dan peracikan “Biosaka” tersebut. Beberapa catatan adalah bahwa sampai saat ini, tanaman yang digunakan sebagai bahan dasar belum memiliki standar baik dari jenis, jumlah maupun kandungan haranya.

Namun demikian, Kementerian Pertanian mengapresiasi adanya kreatifitas dari anak negeri ini sebagai suatu Local Wisdom yang perlu terus dibina dan didampingi. Niat baik dari pencipta untuk membantu petani setempat karena adanya keluhan kelangkaan pupuk subsidi dan mahalnya pupuk non-subsidi perlu diacungi jempol sebagai suatu wujud pengembangan dunia pertanian yang menjadi cita-cita bersama. (KZ, LRW, AFS, M.Is.).

 

Hubungi Kami

Slogan Agro Inovasi

 
 
 

 

SCIENCE . INNOVATION . NETWORKS

Balai Penelitian Tanah
Jln. Tentara Pelajar No. 12 Kampus Penelitian Pertanian Cimanggu, Bogor-Jawa Barat 16114
Telp: 0251 - 8336757, Fax: 0251 - 8321608, 8322933
Website: balittanah.litbang.pertanian.go.id
Email: balittanah@pertanian.go.idbalittanah.isri@gmail.com