bitcoin casino crypto casino crypto gambling crash betting game crash gambling game bitcoin gambling

Simple Responsive Menu

1 | 2 | 3 | 4 | 5 | 6 | 7 | 8 | 9 | 10 | 11

Deskripsi Tanah di Lahan Basah: Mineral dan Gambut, Apa dan Bagaimana?

Kamis 7 Juli 2022 Himpunan Ilmu Tanah Indonesia (HITI) Komda Bogor-Jakarta bekerjasama dengan Balai Besar Litbang Sumber Daya Lahan Pertanian (BBSDLP), Balitbangtan, Kementan kembali mengadakan Bimbingan Teknis (Bimtek) seri 2 secara daring yang bertajuk “Deskripsi Tanah di Lahan Basah: Mineral dan Gambut”. Bertempat di Balai Penelitian Tanah (Balittanah), bimtek ini merupakan rangkaian acara dalam menyambut 50 tahun HITI yang berdiri pada 18 Juli 1972.

Dibuka langsung oleh Ketua HITI Komda Bogor-Jakarta yaitu Dr. Ir. Ladiyani Retno Widowati, M.Sc., bimtek ini menyambung dari materi bimtek sebelumnya yaitu mengenai deskripsi tanah di lahan kering. Bertindak sebagainara sumber yaitu Dr. Ir. Markus Anda, M.Sc. dan moderator yaitu Dr. Destika Cahyana SP., M.Sc.

Deskripsi tanah merupakan hal yang tidak dapat dipelajari hanya secara teori saja, perlu praktek di lapangan karena kita dituntut untuk mengamati berbagai sifat tanah yang dapat dilihat, diraba, dirasakan dan diukur melalui lubang profil, minipit maupun pemboran. Tentu saja hal ini merupakan hal yang tidak mudah, namun dapat dipelajari. Untuk mendeskripsikan suatu tanah mineral misalnya, tentu banyak hal yang diamati, terutama mengenai sifat fisik dan kimia tanah tersebut, apalagi pada tanah basah yang relative lebih sulit dibanding tanah kering. Lalu, apa dan bagaimana cara mendeskripsikan tanah pada lahan basah?

Lahan basah merupakan wilayah-wilayah di mana tanahnya jenuh dengan air, baik bersifat permanen atau musiman. Di Indonesia sendiri total lahan basah adalah 43,6 juta ha yang terdiri dari non rawa 9,5 juta, rawa 34,1 juta ha yang dibagi lagi menjadi rawa pasang surut seluas 8,9 juta ha, rawa lebak 25,2 juta ha dan gambut 14,9 juta ha.

Dalam paparannya, Dr. Markus Anda menyampaikan bahwa sebelum pengamatan di lahan basah, terdapat alat dan bahan yang perlu dipersiapkan seperti GPS, peta observasi, peta geologi, peta tanah (bila sudah tersedia skala lebih kecil untuk memperoleh gambaran umum daerah yang akan diamati), sekop/parang, ember plastik (berukuran 5 liter untuk menimba air dan wadah sampling), lembar pengamatan, buku Munsell, bor belgi, bor gambut Eijkel kamp, tarpal untuk meletakkan sampel untuk diamati, kantong plastik untuk sampel analisa, botol untuk sampel pirit, kematangan tanah dan sampel air juga pH stick skala 0.3 (pH 4.0-7.0) dan skala 1 (pH 1-14). Sedangkan bahan kimia yang diperlukan adalah Peroksida (H2O2) untuk mendeteksi pirit dan α α dipiridil untuk menetapkan kondisi reduksi.

Kapan waktu yang tepat untuk pengamatan dan deskripsi tanah? “Pada lahan rawa/basah untuk tanah mineral di lahan rawa/basah dalam kondisi tidak tergenang (musim kemarau) dan tergenang (hujan) sebaiknya pilih musim kemarau, juga pada tanah gambut dalam kondisi tidak tergenang (musim kemarau) dan tergenang (hujan) sebaiknya pilih musim kemarau” ujar Dr. Markus Anda.

Tahapan dalam deskripsi tanah yaitu: (1) Memilih lokasi yang mewakili daerah paling luas dalam satuan landform; (2) Membuat lubang profil; (3) Membuat mini pit; (3) Melakukan pemboran; (4) Mengambil sampel tanah baik kimia, fisika, mineral, pirit dan kematangan juga sampel air.

Selanjutnya nara sumber menjelaskan mengenai teknis deskripsi tanah basah, seperti menetapkan kematangan dengan cara meremas bongkahan tanah, bila tanah yang kita genggam tidak keluar dari sela-sela jari maka dapat dikatakan matang. Bila keluar sedikit dari sela jari maka hampir matang. Bila keluar setengahnya dari sela-sela jari kita maka setengah matang dan bila lepas seluruhnya maka dapat dikatakan masih mentah.

Menentukan tekstur dan kelekatan tanah basah yaitu dengan cara meremas tanah dan dipirit membentuk pita. Tidak lupa untuk mengambil sample pirit dengan memasukan tanah tersebut ke dalam botol film lalu ditekan. Untuk cara menetapkan plastisitas tiap lapisan tanah dengan cara digulung seperti kawat. Contohnya bila tanah sangat plastis, gulungan diameter 3-4 mm tanah tersebut dapat dibentuk cincin. Mengukur pH tanah dapat dilakukan dengan pH stick. Kemudian untuk menetukan kondisi reduksi dengan ditetesi α-α dipiridil, warna tanah akan berubah menjadi ungu bila terjadi reduksi dan menjadi biru bila tidak terjadi reduksi.

Kegiatan ini diikuti oleh kurang lebih 300 peserta yang terdiri dari 40 universitas, 9 dinas dan masyarakat umum. Antusiasme peserta sangat terlihat yang ditunjukan dari banyaknya pertanyaan yang masuk dan sesi Tanya jawab yang interaktif. (KZ, JAS, AFS, M.Is.).

 

Hubungi Kami

Slogan Agro Inovasi

 
 
 

 

SCIENCE . INNOVATION . NETWORKS

Balai Penelitian Tanah
Jln. Tentara Pelajar No. 12 Kampus Penelitian Pertanian Cimanggu, Bogor-Jawa Barat 16114
Telp: 0251 - 8336757, Fax: 0251 - 8321608, 8322933
Website: balittanah.litbang.pertanian.go.id
Email: balittanah@pertanian.go.idbalittanah.isri@gmail.com