Simple Responsive Menu

1 | 2 | 3 | 4 | 5 | 6 | 7 | 8 | 9 | 10 | 11

Ngawi Sing Ngangeni sebagai Lumbung Padi Jawa Timur

Jumlah penduduk yang terus meningkat akan diikuti peningkatan kebutuhan pangan yang signifikan. Diskusi lain, luasan lahan sawah di Jawa semakin berkurang karena adanya konversi lahan untuk penggunaan non pertanian dan ini menjadi tantangan tersendiri. Dengan kondisi ini, maka perluasan areal sawah ke luar Jawa yang mempunyai tungkat kesuburan Tanah yang  rendah dengan ciri kandungan karbon organik tanah rendah tidak dapat dielakkan lagi.

 Penggunaan bahan organik/jerami padi sebagai bahan pembenah tanah yang ditinggalkan juga dapat mengakibatkan menurunnya efektivitas dan efisiensi penggunaan pupuk.

Terjadinya perubahan iklim dan degradasi kesuburan tanah mengharuskan pemupukan secara spesifik lokasi (tepat dosis, jenis, waktu, dan cara). Aplikasi pupuk an-organik dapat meningkatkan hasil tanaman padi yang semula hasil 3-4 t/ha menjadi 5-6 t/ha. Pemakaian varietas unggul baru juga harus dilakukan untuk memperoleh produktivitas yang tinggi.

Respon pemupukan an-organik sangat nyata dan bisa terlihat langsung sehingga petani senang karena hasil dan pendapatannya meningkat. Hal ini mengakibatkan petani tergantung pada pupuk an-organik. Di sisi lain penggunaan pupuk organik mulai berkurang atau sebagian ditinggalkan, petani lebih senang pupuk an-organik dan hal ini memicu terjadinya kerusakan tanah dan lingkungan. Selanjutnya setelah 20-30 tahun, dosis pupuk padi sawah semakin tinggi namun tidak meningkatan hasil tanaman atau terjadinya levelling off.

Guna penyebarluasan inovasi pertanian maka pada Rabu, 9 Maret 2021 Balai Penelitian Tanah, Balai Besar Sumberdaya Lahan Pertanian, Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian, Kementan telah menyelenggarakan kegiatan Diseminasi Pendampingan Program Strategi Kementerian Pertanian di Desa Tambakboyo, Kecamatan Mantingan, Kabupaten Ngawi, Jawa Timur. Kegiatan dikemas dalam bentuk Bimbingan Teknis dengan tema: Rekomendasi Pemupukan NPK dan Reformulasi NPK 15-10-12 Spesifik Lokasi.

Kegiatan Bimtek dihadiri oleh Kepala Desa Tambakboyo, perwakilan dari PT Petrokimia Gresik, dan sekitar 37 orang petani progresif yang tergabung dalam Kelompok Himpunan Petani Pengguna Air Sumber Karya dari Desa Tambakboyo. Bertindak sebagai narasumber adalah Ir. A. Kasno, M.Si, dan Dr. Diah Setyorini peneliti di Balai Penelitian Tanah. Penyampaian Materi diawali oleh Ir. A. Kasno, M.Si tentang Rekomendasi Pemupukan NPK dan Reformulasi NPK 15-10-12 Spesifik Lokasi dipandu oleh Dr. Diah Setyorini.

Peserta bimtek selanjutnya diajak ke lapang untuk melihat secara langsung performa tanaman. Ada lima perlakuan pemupukan yaitu: (1) Perlakuan kontrol tanpa pupuk sama sekali; (2) Perlakuan pupuk tunggal urea, SP-36, dan KCl; (3) Perlakuan pupuk NPK Phonska 15-15-15 dengan urea; (4) Perlakuan pupuk NPK Phonska 15-10-12 dengan urea; (5) Perlakuan pupuk NPK Phonska 15-10-10 dengan urea.

Tanah sawah di Ngawi secara umum memiliki kandungan hara P dan K dengan status sedang sampai tinggi. Oleh karenanya dosis pemupukan P maupun K juga dengan dosis rendah sudah cukup memberikan produktivitas yang tinggi.

Pemupukan harus disesuaikan dengan kebutuhan tanaman, yang berarti harus memperhatikan tingkat kesuburan tanah itu sendiri. Peserta bimtek juga diajari bagaimana caranya mengukur tingkat kesuburan tanah sawah secara cepat menggunakan Perangkat Uji Tanah Sawah (PUTS). Dan sebagai bentuk dukungan Balai Penelitian Tanah tehadap pertanian telah diserahkan satu unit PUTS untuk dipaka di Kelompok Himpunan Petani Pengguna Air Sumber Karya dari Desa Tambakboyo. (HW, AFS, M.Is).

Hubungi Kami

Slogan Agro Inovasi

 
 
 

 

SCIENCE . INNOVATION . NETWORKS

Balai Penelitian Tanah
Jl. Tentara Pelajar No.12 Bogor Jawa Barat 16114 Indonesia
balittanah@litbang.pertanian.go.id, balittanah.isri@gmail.com
Telp :+622518336757 Fax :+622518321608; +622518322933