Simple Responsive Menu

1 | 2 | 3 | 4 | 5 | 6 | 7 | 8 | 9 | 10 | 11

Dryland Penopang Ketahanan Pangan Dibahas Pada Pertemuan G-20 Expert Meeting

Dryland atau lahan kering merupakan ekosistem dominan di dunia ini, begitupun dengan Indonesia. Lahan kering di Indonesia terbagi dua yaitu Lahan Kering Iklim Kering (LKIK) dan Lahan Kering Iklim Basah (LKIB). Sebagai sumber daya lahan penopang produksi pangan yang sangat penting, pada hari Senin 10 Agustus 2020 telah dilakukan “International Virtual Expert Meeting on Promoting Sustainable in Draylands” yang dihadiri oleh 75 negara didunia, dimana Kerajaan Arab Saudi sebagai tuan rumahnya.

Delegasi Republik Indonesia dihadiri oleh Dr. Ladiyani Retno Widowati, MSc (KaBalittanah), Dr. Harmanto (KaBalitklimat), Dr. Sustiprijatno (Kabid KSPHP BBBiogen), Dr Hakim (Peneliti BB Biogen), Prof S. Joni Munarso (BBPasca Panen) mewakili kementerian Republik Indonesia.

Pada pembukaan disampaikan oleh Prof. Suliman Ali Al-Khateeb selaku Chairman pada pertemuan G20 Februari 2020, dan saat pertemuan ini menjadi Co-Chair bahwa Dryland sangat penting dalam mendukung ketahanan pangan, mengingat 800 juta penduduk dunia semua membutuhkan pangan. Di Dryland juga terdapat potensi untuk upscaling Sistem Pertanian Organik, sumber biofuel dan penyimpanan air dari kaktus, produk Livestock (Onta, sapi dan domba) dan potensi pakan ternak (saltbush).

Kepala Balittanah menyatakan arti penting acara ini, yaitu mengingatkan kita pada fungsi tanah sebagai media tanam dan juga sebagai sumberdaya lahan yang tidak dapat tergantikan. Oleh karenanya Good soil management trough smart farming and optimizing digitalization toward era 4.0 adalah merupakan jalan keluarnya. Arti penting air sebagai pengungkit pembatas pertumbuhan tanaman harus diperhatikan dan dicari jalan keluarnya, ujar Kepala Baliklimat. Kementerian pertanian telah melakukan panen air melalui pembangunan infrastruktur irigasi, embung, dam parit, long storage, dan mengefisienkan sumber air dengan irigasi berselang dan irigasi tetes untuk meningkatkan produktivitas penggunaan air (water use efficiency).

Pada acara ini dipresentasikan sebanyak 30 perwakilan baik dari negara pewakil maupun dari FAO, IFAD, ICARDA, CSIRO, ICARDA-CGIAR dengan 4 sesi: 1) Key risk, opportunities and systems approach for sustainable agricultural development in drylands; 2) Enabling tools for sustainable agricultural development in drylands; 3) Biotic factors affecting sustainable agricultural development in dryland; 4) Innovation, technology and adoption to enhance resource use efficiency.
Dryland dapat dibagi menjadi 4 kelompok yakni: irrigated Area, Rainfed Area, Agro-Pastural Area, dan Desert Farming.

Pada presentasi tersebut Argentina menyampaikan teknologi genome editing untuk tanaman toleran kekeringan. Dalam hal ini Indonesia menyampaikan ketertarikan atas presentasi dari Argentina tersebut, karena gen yang mengatur kekeringan adalah multigenik. Selain itu ada beberapa negara mempresentasikan pentingnya sumberdaya genetik karena mempunyai potensi mendapatkan tanaman toleran kekeringan melalui pemuliaan berbasis genomik. Juga disampaikan sumberdaya genetik yang ada dilakukan evaluasi pada lahan kering, sehingga setelah diseleksi didapat tanaman yang toleran kekeringan.

Upaya adaptasi dan mitigasi perubahan iklim dari beberapa negara anggota G20 juga telah dipresentasikan dan dibahas sebagai isu kekinian yang memerlukan solusi yang tepat, seperti: Brazil, Afrika Selatan, Kanada, Australian dan Perancis. Beberapa upaya yang dilakukan terhadap adaptasi terhadap perubahan iklim tersebut antara lain adalah: peningkatan produktivitas penggunaan air melalui irigasi yang hemat air, perbaikan saluran irigasi dan metode pengolahan tanah serta pemanfaatan inovasi teknologi yang tepat dalam program smart farming for sustainable agriculture. Dengan adanya dinamika perubahan iklim diantaranya menyebabkan outbreak belalang, menurunnya ketersediaan pakan dan ketahanan ternak. Water as a catalyst and driver for R & D, demikian FAO menyebut fungsi dari air, serta soil organic carbon stocks as an indicator of soil health.

Acara ditutup dengan diskusi dan closing remarks dari panitia pada pukul 22.00 WIB. Dalam Closing Remark, Chairman menyampaikan diperlukannya penguatan kolaborasi kerjasama untuk mendukung optimalisasi dryland agar lestari dan berkesinambungan. Seperti Exchange program, materi, penguatan SDM antar negara. Selain itu juga diperlukan impact yang lebih nyata, diwujudkannya regulasi yang lebih baik. Pertemuan ini sangat bernilai, dengan outstanding presentasi, diskusi yang hangat. (LRW, M.Is).

Hubungi Kami

Slogan Agro Inovasi

 
 
 

 

SCIENCE . INNOVATION . NETWORKS

Balai Penelitian Tanah
Jl. Tentara Pelajar No.12 Bogor Jawa Barat 16114 Indonesia
balittanah@litbang.pertanian.go.id, balittanah.isri@gmail.com
Telp :+622518336757 Fax :+622518321608; +622518322933