Simple Responsive Menu

1 | 2 | 3 | 4 | 5 | 6 | 7 | 8 | 9 | 10 | 11

Menggali Lebih Dalam Pembuatan Pupuk Organik Bersama Peneliti Balittanah

Pada hari Kamis tanggal 11 Juni 2020 Balai Besar Litbang Sumberdaya Lahan Pertanian (BBSDLP), Badan Litbang Kementerian Pertanian mengadakan webinar dengan mengusung tema “Pembuatan Pupuk Organik”. Webinar ini dibuka dan dipandu oleh Kepala Balai Penelitian Tanah Dr. Ladiyani Retno Widowati. Adapun narasumber dalam webinar ini yaitu Dr. Wiwik Hartatik, Dr. IGM Subiksa dan Dra. Selly Salma, M.Si. Ketiga narasumber tersebut merupakan peneliti di Balai Penelitian Tanah, BBSDLP, Balitbangtan.

Topik pertama dalam webinar ini terkait bahan baku pupuk organik yang dipaparkan oleh Dr. Wiwik Hartatik. Dalam paparannya Wiwik menyatakan bahwa Kementerian Pertanian tetap semangat mensosialisasikan/diseminasikan tentang pentingnya bahan organik atau pupuk organik bagi peningkatan kesuburan dan produktivitas lahan maupun kesehatan tanah.

Lebih lanjut Wiwik menyampaikan mengenai tantangan pertanian di masa yang akan datang. Sebagaimana kita lihat di sekeliling kita adanya degradasi dan penurunan produktivitas lahan pertanian, hal ini karena adanya praktik pemupukan anorganik yang berlebihan tanpa adanya penambahan pupuk organik atau pengembalian biomassa ke dalam tanah. Tantangan berikutnya adalah konversi lahan dan fragmentasi lahan yang digunakan untuk perumahan atau kawasan industri yang biasanya memakan lahan-lahan yang subur. Dengan adanya tantangan pertanian di masa yang akan datang, diperlukan suatu inovasi teknologi pertanian guna meningkatkan produktivitas tanaman, antara lain; 1). Penggunaan benih unggul, 2). Pemupukan berimbang, terkait dengan Pupuk Organik, 3). Pengendalian OPT, 4). Penanganan panen dan pasca panen.

Keberadaan bahan organik dalam tanah sangat penting untuk memberikan perbaikan terhadap sifat fisik, kimia dan biologi pada tanah. Tanah yang memiliki bahan organik tinggi berstruktur remah dan memiliki warna yang gelap, ketersediaan air yang baik, aerasi untuk tanaman juga baik dibandingkan dengan tanah yang padat.

Bahan baku pupuk organik dapat berasal dari sisa tanaman/panen, limbah ternak, limbah industri dan limbah kota seperti sampah kota (sampah organik dari pasar sisa buah atau sayuran). Bahan baku pupuk organik limbah B3 kategori 2 yang masih boleh digunakan menurut PP RI No. 101 tahun 2014 yaitu lolos uji TCLP dan uji Lethal Dose 50 serta mendapat izin dari kementerian LHK. Menurut Wiwik, sekarang limbah B3 kategori 2 sudah diperbolehkan sedangkan kategori 1 tidak diperbolehkan.

Pemaparan materi kedua disampaikan oleh Dr. IGM Subiksa, yang merupakan salah satu peneliti senior Kelompok Peneliti Kimia dan Kesuburan Tanah, Balai Penelitian Tanah. Beliau memaparkan mengenai proses pembuatan pupuk organik. Bahan baku yang digunakan untuk memproduksi pupuk organik harus sesuai dengan syarat mutu dan lolos uji efektivitas supaya dapat diedarkan secara komersial di Indonesia. Kualitas atau mutu PO ditentukan oleh komposisi kimia, pola pelepasan hara dan pengaruhnya terhadap pertumbuhan tanaman.

Adapun tujuan materi yang disampaikan Dr. Subiksa ini adalah menyediakan panduan teknis produksi pupuk organik cair agar hasilnya memenuhi syarat mutu pupuk organik secara konsisten sesuai klaim, melindungi konsumen dari PO yang dibuat tidak sesuai standar produksi PO yang baik dan juga meningkatkan kapabilitas dan kesetaraan bagi pelaku usaha kecil menengah dalam memproduksi PO sehingga tidak ada produk yang dibuat secara asal-asalan.

Pada materi ketiga dalam webinar ini, disampaikan topik mengenai teknik pengomposan disampaikan oleh peneliti Biologi dan Kesehatan Tanah Dra. Selly Salma, M.Si. “Begitu banyak produk decomposer yang beredar di pasaran , namun kita harus mampu memilah mana yang baik untuk digunakan” ungkap Selly. Pengomposan adalah proses dekomposisi bahan organik (biomassa) di bawah kondisi yang terkendali. Proses dekomposisi sendiri menghasilkan volume biomassa yang menjadi berkurang (50%-60%) juga keseimbangan ratio C dengan unsur lainnya (N, P), dimana unsur hara mudah untuk diserap tanaman.

Selly menyampaikan bahwa untuk pengomposan skala kecil dapat menggunakan bahan yang berasal dari sampah rumah tangga/dapur, sampah pekarangan; skala menengah (Petani, Kelompok Tani, Gapoktan), bahan yang dikomposkan dapat berupa kotoran ternak, residu pertanian (jerami, brangkasan jagung, sisa panen sayur dan buah-buahan). ‘Sedangkan skala besar (Industri Pupuk) bahan yang dikomposkan dapat berupa kotoran ternak, residu pertanian (jerami, brangkasan jagung, sisa panen sayur, tebu dan buah-buahan), blotong dan abu ketel, residu pabrik gula, media tanam jamur merang, jamur tiram, residu perikanan, rumput laut’ ujar Selly.

Antusias peserta webinar sangat terlihat dimana para peserta aktif dalam menyampaikan pertanyaan yang terkait materi kepada para narasumber pada sesi diskusi. Acara webinar kali ini juga dimeriahkan dengan adanya dooprize bagi para peserta berupa perangkat uji pupuk organik, paket pupuk hayati dan juga decomposer yang akan dikirimkan ke alamat para peserta webinar yang beruntung. (LP, KZ, AFS).

Hubungi Kami

Slogan Agro Inovasi

 
 
 

 

SCIENCE . INNOVATION . NETWORKS

Balai Penelitian Tanah
Jl. Tentara Pelajar No.12 Bogor Jawa Barat 16114 Indonesia
balittanah@litbang.pertanian.go.id, balittanah.isri@gmail.com
Telp :+622518336757 Fax :+622518321608; +622518322933