Simple Responsive Menu

1 | 2 | 3 | 4 | 5 | 6 | 7 | 8 | 9 | 10 | 11

Menelisik Proses Pembuatan Pupuk Organik

Saat ini banyak sekali ditemui berbagai produk pupuk organik di pasaran baik dalam bentuk padat berupa serbuk, remah, granul, pellet maupun cair. Seiring dengan perkembangan gaya hidup dimana masyarakat sudah mulai mencari bahan pangan seperti sayuran organik maka permintaan akan pupuk organik mulai dirasakan. Untuk menjamin kualitas pupuk organik yang beredar, maka Kementerian Pertanian telah mengeluarkan Kepmentan No 261/KPTS/SR.310/M/4/2019 tentang Persyaratan Teknis Minimal (PTM) Pupuk Organik, Pupuk Hayati, dan Pembenah Tanah.

Badan Litbang Pertanian selaku lembaga penelitian telah mampu menghasilkan produk-produk pupuk organik yang berkualitas. Selain itu Badan Litbang Pertanian juga aktif dalam mendiseminasikan dan menyediakan panduan teknis produksi agar pupuk organik yang dihasilkan memenuhi syarat mutu pupuk organik. Pupuk organik diketahui memiliki berbagai keunggulan seperti yang disampaikan oleh Dr. IGM Subiksa, peneliti senior Balai penelitian Tanah, BBSDLP, Badan Litbang Pertanian pada kesempatan webinar “Pembuatan Pupuk Organik” di pertengahan Juni 2020. Pada kesempatan yang berbeda, Kepala Badan Litbang Pertanian, Dr. Ir. Fadjry Djufry, M.Si menyampaikan dukungannya akan peran serta Balitbangtan dalam menghasilkan produk-produk pupuk organik yang teruji kualitas dan efektivitasnya dalam meningkatkan produktivitas tanaman.

Subiksa memaparkan beberapa keunggulan dari pupuk organik yaitu :

1. PO mengandung unsur hara makro dan mikro yang lebih lengkap dibandingkan pupuk anorganik, yang dilepaskan perlahan dan kontinyu sehingga menghindari keracunan dan defisiensi hara.

2. Pupuk organik bisa memperbaiki sifat fisik tanah, lahan kering menjadi lebih gembur dan lahan sawah tanahnya bisa lebih lembut. Struktur tanah lebih mantap dan stabil untuk pergerakan air dan partikel udara dalam tanah yang penting untuk aktivitas mikroorganisme dan pertumbuhan akar.

3. PO dapat menstimulasi aktivitas mikroorganisme tanah yang memproduksi pitohormone pertumbuhan dan senyawa pengikat partikel tanah sehingga struktur tanah lebih baik.

4. Kualitas tanaman yang menggunakan pupuk organik akan lebih bagus sehingga tanaman tidak mudah terserang penyakit, tanaman juga lebih sehat untuk dikonsumsi.

5. Sebagai agen hayati pengedali HAMA (biocontrol agent/immunomodulator).

6. Sebagai biofertilizer (pupuk bio/bakteri yang 100% organik dan ramah lingkungan)

7. Sebagai bioremediasi tanah tercemar (bioremediation/soil detoxification).

Selaku inventor pupuk, Subiksa juga berbagi informasi terkait tahapan awal yang harus dipersiapkan untuk pembuatan pupuk organik yaitu sebagai berikut :

1. Penyiapan bahan baku, konsistensi dalam pemilihan bahan baku sangat penting agar hasil yang didapat juga konsisten.

2. Penggunaan bahan pengkaya. Penambahan bahan pengkaya bertujuan agar efektivitas, manfaat pupuk menjadi tinggi untuk pertumbuhan tanaman. Bahan pengkaya C organik dapat berasal dari bahan humat, molases dan bubuk arang; pengkaya hara berasal dari Fosfat alam dan tankos sawit; pengkaya mikroba (pengikat N, pelarut P, perombak bahan organik dsb); pengkaya hormone pertumbuhan (GA, Auksin dan lain-lain)

3. Bahan perekat (binder), dalam pembuatan pupuk organik granule dibutuhkan agen pengikat saat proses aglomerasi. Binder bisa berbentuk padat maupun cair. Binder berbentuk padat dapat menggunakan brown clay atau kapur, sedangkan binder cair dapat menggunakan molases.

“Bahan-bahan campuran pupuk organik yang ditambahkan pada pembuatan pupuk organik harus bersinergi positif sehingga dapat meningkatkan kualitas pupuk organik’ ujar Subiksa.

Dibutuhkan beberapa sarana yang memadai dalam pembuatan pupuk ini. Misalnya saja dalam pembuatan pupuk organik setidaknya kita memerlukan peralatan diantaranya penghancur/crusher yang berfungsi menghancurkan bahan yang kasar, pengering/flatbed dryer sebagai alat bantu pengeringan terutama jika tidak ada sinar matahari, pengayak/rotary sceener, timbangan untuk formulasi agar menghasilkan formula pupuk yang konsisten, dan mixer untuk mencampur bahan-bahan pupuk agar homogen. Tahapan terakhir adalah proses quality control (QC) biasanya menggunakan Perangkat Uji Pupuk Organik (PUPO) yang merupakan salah satu produk unggulan Balai Penelitian Tanah.

Dr. IGM Subiksa juga memaparkan mengenai proses produksi pupuk organik padat granul. “Secara umum pembuatan pupuk organik padat granul dari pemilahan hingga penghancuran relatif sama dengan pembuatan pupuk organik remah, hanya pada poin-poin tertentu menjadi sangat krusial, misalnya proses pengeringan supaya dapat menghancurkannya lebih halus” ujar Subiksa. Bahan organik yang telah dicampur lalu digranulasi dengan menambahkan binder agar pupuk tidak mudah hancur. Setelah itu dikeringkan dan diayak kembali akan dihasilkan pupuk organik granul yang siap kemas dan memenuhi syarat mutu yang ditetapkan.

Dalam proses pembuatan pupuk organik granul, proses pengeringan merupakan proses yang sangat penting. Jika kadar air pupuk organik tidak mencapai 8-15% maka bahan-bahan organik tidak akan hancur. Penghalusan juga penting dilakukan agar mendapat butiran kompos yang halus dengan diameter 0,5 mm. Bahan binder harus dihancurkan dengan minimal lolos ayakan 80 mesh. Penghancuran berfungsi untuk memudahkan proses granulasi dan mendapatkan kualitas pupuk yang homogen.

Selain mengetahui proses produksi pupuk organik yang tepat, produsen pupuk yang ingin memasarkan produknya harus terlebih dahulu memiliki izin edar. Proses izin edar ini diperoleh dari Kementerian Pertanian jika produk pupuk yang akan dipasarkan telah melewati berbagai tahapan yang telah ditentukan. Izin edar yang diperoleh untuk satu merk pupuk organik berlaku selama 5 tahun dan dapat diperpanjang dengan memenuhi persyaratan yang telah ditetapkan. Dengan memproduksi pupuk organik yang berkualitas, maka kita ikut berperan dalam mendukung pertanian yang berkelanjutan. (KZ, LP, AFS).

Hubungi Kami

Slogan Agro Inovasi

 
 
 

 

SCIENCE . INNOVATION . NETWORKS

Balai Penelitian Tanah
Jl. Tentara Pelajar No.12 Bogor Jawa Barat 16114 Indonesia
balittanah@litbang.pertanian.go.id, balittanah.isri@gmail.com
Telp :+622518336757 Fax :+622518321608; +622518322933